pasar malam

“Kalau lihat tenda-tenda biru seperti itu jadi ingat waktu mengungsi siap tsunami dulu,” kata bang Tapoen tadi pagi. Wajahnya hanya berpaling sebentar ke sebelah kanan, kemudian memandang lurus kembali mengendalikan stir mobil. Pandanganku ke sebelah kanan pada tenda-tenda juga hanya sekilas. Mobil meluncur berlahan dari arah Lhok Ketapang ke Jambo Apha.

Sejak dua tiga hari lalu (aku lupa kapan persisnya), beberapa lelaki sibuk membersihkan tanah lapang yang biasanya digunakan anak-anak bermain sepak bola di sore hari. Lokasinya persis di pinggir pantai. Nyiurnya masih lumayan banyak. Perkiraanku lebih dari dua buluh batang. Ada areal yang lapang tapi tidak lebih dari satu hektar biasa digunakan siswa berolahraga di pagi hari. Oleh para lelaki itu, beberapa batang pohon kelapa sengaja ditumbangkan agar tenda stan dagangan bisa berdiri lebih rapi.

Keramaian mulai terlihat saat sang surya mulai beranjak tenggelam di laut. Ramai yang tidak biasa di kota yang dulu terkenal dengan industri pala ini. Muda-mudi, anak, orang tua, laki-laki perempuan merapat ke areal yang disebut Pasar Malam. Berada di rumah yang kutempati bersama teman-teman, lalu lalang sepeda motor terdengar lebih riuh dari hari biasa. Jika focus mendengarkan, pekak juga telinga yang hanya dua ini.

Sore kemarin, sengaja kutemani Roy yang kuundang untuk menikmati pisang goreng. Maklum, teman yang suka memanggil dirinya sendiri ”Anak Muda” inilah yang mengunduhkan pisang di halaman belakang. Sambil ngopi mix (bukan ngiklan) tanpa tambahan gula dan pisang goreng anget, obrolan di halaman depan terasa klop. Kereta lalu lalang. Lama-lama ternyata membuat kepalaku kliyengan juga. ”Nggak usah nengok kanan-kiri kak, pandang lurus aja biar nggak pening,” gitu saran Anak Muda.

Dari jalan utama Meulaboh-Tapaktuan, tenda-tenda warna biru dan orange terpasang berjajar, berhadapan mengelilingi lapangan. Yang kulihat sementara ini, dari jarak puluhan meter hanya baju, gula-gula (aku lupa namanya) yang berwarna merah muda. Di pinggir jalan dekat lokasi parkir, pedagang bakso yang sekaligus menjual mie goreng, sate, dan martabak telor masih sepi pembeli. Di tengah-tengah area, komedi putar terpasang gagah. Ukurannya lebih kecil dari komedi putar yang ada di Alun-Alun Utara Keraton Sala, saat acara sekaten digelar. Begitu pula dengan tong setan yang ada di sisi sebelah kiri (dilihat dari jalan), ia lebih kecil ukurannya.

Rabu malam kemarin, Ida mengajak untuk jalan-jalan ke pasar malam pada malam Jumat. ”Sekedar refreshing aja, Nuk, nggak beli nggak papa. Kan besoknya (Jumat) kita libur tuh, jadi bisa bangun siang,” dengan suaranya yang khas. Serak. Tapi entah apakah nanti malam ia jadi mengajakku atau tidak.

Saat perjalanan pulang dari Jembess Kofa (Kota Fajar), bang Asri cerita. ”Bisa kalau mau naik komedi putar. Kuat dia, Da. Semalam saya naik. Anak saya minta naik, Mbak, jadi tidak mungkin saya lepas sendiri,” kisah bang Asri padaku dan Ida. Ida tertawa ngikik.

Iya juga, sekali-kali jalan-jalan menikmati keramaian kota kecil ini. Toh keramaian pasar malam tidak selalu ada. Seingatku, tahun lalu ketika menjelang Maulid Nabi juga tidak ada acara seperti ini.

Ok Da, kutunggu janjimu….

Masih di kantor, 17.09 (25/02/2010)

Menangis = Cerai!

Saat kutuliskan kisah ini, belum sekalipun aku merasakan hamil, lebih-lebih melahirkan. Perempuan yang mendambakan anak kerap bertutur bahwa hamil dengan segala tetek bengek yang ia rasa adalah kenikmatan. Menunggu saat-saat lahirnya sang buah hati menjadi penantian yang indah. Lalu, hari H yang dinanti menjadi sejarah yang tak terlupakan.

Pada detik-detik kelahiran, belum pernah sekalipun kudengar, ”Oh, enaknya…Nikmat betul…” Mbak Lilik, istri mas sulungku menangis sepanjang jalan menuju rumah bersalin ketika akan melahirkan Vian ponakanku. Lebih gila lagi Si Tri, adik sepupuku yang memang anak Bapak itu. Seantero Rumah Sakit Kasih Ibu, Sala, menjadi bising oleh teriakannya yang –jujur- membuatku sedikit malu. ”Pak’e…Pak’e…Lara Pak’e….Tulungi aku… (Sakit pak, tolong aku…),” pada Bapaknya, bukan pada suaminya. Ia menangis sejadi-jadinya saat melahirkan Andi, anak pertamanya.

Aku sendiri masih cukup untuk sekedar membayangkan, atau ikut merasakan dari mendengar atau melihat wajah perempuan saat hendak melahirkan saja. Kuyakin tak terkira sakitnya. Jeritan atau tumpahan airmata hanya sekedar ’penetralisir’ rasa sakit yang mendera.

Namun, apa jadinya kala penetralisir rasa sakit itu tumpah, justru hukumannya adalah cerai? Ya, cerai! Ini yang akan kukisahkan padamu. Bagiku, ini sisi kelam kehidupan Orang Rimba yang kerapkali kukagumi.

– –

Hari itu hujan turun sejak sore. Kelelahan berjalan keluar dari rimba membuat aku dan kawan-kawan tidur bagai orang mati. Berdesak-desakan dalam kamar kecil ukuran 2 x 2 m tak mengapa. Rumah pak Jul, contact person di Desa Jernih, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Jambi, toh sangat-sangat lebih nyaman dibanding tenda yang kupakai di rimba. Esok pagi, kami pulang ke Jambi, kota.

Namun, ketukan pintu saat hujan berkejaran dengan gemuruh halilintar membangunkan tidurku. Aku tidak ingat betul jam berapa saat itu. Tapi kuyakin mendekati dini hari. Pintu rumah pak Jul berderit. Aku tidak tahu persis siapa yang membukakan pintu. Mataku berkenyit saat keluar kamar kecil itu. Di ruang tamu memang lampunya terang benderang. Feri, Vian, Abdi masing-masing bersembunyi dalam kehangatan sleeping bag. Mereka tidur di kamar tengah yang jadi ruang untuk menempatkan televisi. Lusi, Wening, Danik yang masih terlelap di ruang tamu.

Ternyata Mangku Mbalai dan…. ah, aku lupa namanya, datang. Tubuh mereka basah meski tidak terlalu kuyup. Mungkin mereka bertudung plastik. Mereka mencari bepak lokoter (dokter). Vian lah yang dicari. Tak begitu lama, Abdi dan Vian terjaga. Muka-muka handuk basah, kusut! Tak jauh berbeda dengan mukaku. Muka-muka letih.

Ado betina kelapaiyon tapi budaknye elah mati (Ada perempuan –yang hendak- melahirkan tetapi bayinya sudah mati),” terang Mangku. Wajahnya yang hitam tegang. Bayi telah keluar dalam kondisi meninggal. Usianya masih sekitar 6 bulan. Tetapi ari-ari atau plasenta belum keluar, masih berada di dalam rahim.

Ia lalu menerangkan lagi bahwa betina kelapaiyon itu tidak berada di rimba, tetapi di kebun karet penduduk, jadi “Dekant (dekat),” ujar Mangku, dengan lafal n dan t berdempetan, agak sengau. Orang Rimba dari Rombong Marituha itu memang sedang membuat sesudungon (rumah sementara) di kebun karet.

Tanpa berpikir panjang lagi, Abdi bersiap bersama Vian. Hanya tinggal mengenakan sepatu karena jaket memang sudah terpasang di badan. Rintik hujan masih mengguyur, angin malam menggigit tulang. Motor lapangan andalan Warsi, trail, keluar kandang. Jalan setapak tentu saja licin, mereka harus berhati-hati. Mangku Mbalai dan @@@ beboncengan lebih dulu. Mereka yang hanya bercawat itu sebagai penunjuk jalan. ”Sikuk e’jam lah sampoi tanoh peranok’on (satu jam sudah sampai di lokasi untuk perempuan melahirkan),” ujar kawan Mangku saat masih di rumah pak Jul.

Setelah Vian dan Abdi pergi, aku balik ke peraduanku. Hanya tidur ayam karena memang ternyata tidak bisa nyenyak lagi. Lebih dari dua jam kemudian, lamat-lamat kudengar suara motor dari kejauhan. Suaranya makin dekat. Benar, Vian dan Abdi kembali.

”Sudah keluar ari-arinya?” tanyaku sesaat mereka masuk rumah Pak Jul kembali. Feri ikut terbangun lagi.

”Apa-apaan Mbak, Orang Rimba tuh! Masak kita diminta datang tapi di sana nggak boleh nolong!” kata Vian. Nadanya bercampur amarah yang tertahan. Abdi yang memang pendiam diam saja, seperti biasanya.

”Mukanya sudah sangat pucat, kayak mayat. Tapi…apalah…Aku bahkan tidak boleh dekat-dekat. Untuk apa lah aku diminta kesana?! Malam-malam begini pula. Nggak habis pikir aku! Adat, adat! Adat kok taruhannya nyawa! Sudah gila orang itu!” Vian benar-benar kesal.

Vian adalah laki-laki. Sekalipun ia seorang lokoter. Dalam adat Orang Rimba, laki-laki tidak boleh menolong perempuan melahirkan. Dari arah bawah (vagina) saat perempuan terbujur hanya boleh dilihat suaminya dan anak-anak yang belum akil baligh. Vian, laki-laki hanya boleh melihat dari arah atas (kepala). Oleh sebab itu ia sangat tahu persis kondisi perempuan yang telah melahirkan tiga orang anak itu sangat kritis. ”Ora ono ekspresi kelaran (tanpa ekspresi wajah kesakitan) tapi bibirnya sampai sudah pecah-pecah ngampet sakit, Mbak. Aku yakin mesti lara banget (pasti sakit sekali)!”

Entah dalam berbagai macam rasa, kami, juga Pak Jul mencoba untuk terlelap kembali. Belum juga kantuk itu hilang, suara motor dari kebun karet semakin terdengar. Pintu rumah Pak Jul diketuk kembali. Dua orang yang tadi menjemput Vian datang untuk kedua kalinya.

Kalu ake hopi boleh bentu betina iyoi, idak usah jomputkeh (kalau aku tidak boleh menolong perempuan itu, aku tidak usah dijemput!” kata Vian agak kasar, bercampur bahasa Melayu.

Bersitegang. Mangku Mbalai merasa bersalah. Dalam hujan yang berangsur mereda, Abdi dan Vian kembali lagi ke sesudungon Rombong Marituhan. Mereka berdua diikuti Mangku dan kawannya yang kulupakan namanya. Entah sekian jam kemudian, Vian kembali dengan amarah yang makin memuncak.

Saran Pak Jul, sebaiknya mencari bidan desa. Ia seorang perempuan. Berbacu dengan waktu, bersama pak Jul yang diboncengkan Abdi dan diikuti motor Mangku, berempat mereka bergerak ke rumah bidan desa. Tak begitu lama mereka kembali. Tangan kosong. Bidan tidak berada di tempat.

Berpikir lagi. Percuma pergi masuk ke dalam lagi jika tidak boleh menolong. Semakin tidak jelas kondisi dan tindakan yang akan diberikan. Para rerayo tetap bersikukuh, adat tidak boleh dilanggar sekalipun nyawa perempuan itu menjadi taruhannya.

Pak Jul dan Abdi entah pergi kemana lagi. Kepergian mereka jauh lebih lama. Ternyata ke desa lain, hingga ke Desa Pematang Kabau. ”Biasa kalau libur dia pulang,” tukas Pak Jul. Pulang, pulang ke kota seperti dokter dan perawat puskemas, serta pejabat-pejabat yang ditugaskan ke desa pelosok.

”Mau tak mau Mbak Ninuk harus ikut. Kuajari,” kata Vian. Ia mempraktekkan padaku cara membuka rahim. Dua jari, jari telunjuk dan jari tengah berjajar, diluruskan. Lalu ketika sudah masuk rahim, pelan-pelan jariku dibuka sehingga membentuk huruf V. Lalu pelan-pelan ditarik, kini tiga jari yang dimasukkan, direnggangkan. Begitu terus sehingga semua jari bisa masuk, lalu ari-ari ditarik keluar dari dalam rahim.

– – –

Ibu muda masih tanpa ekspresi. Ia yang kemarin siang masih memanggul manau (rotan) dari dalam rimba hingga ke desa telah mengalami keguguran. Nyawanya hampir terenggut oleh adat yang diyakini benar. Tidak setetespun keluar airmata. Tahukan kamu mengapa?

Betina kelapaiyon hopi bulih meratop sebab bikin jenton kememaluon. Betina kelapaiyon meratop samo bae nye betina kuloy, jedi nye dicampok lakinye (Perempuan saat melahirkan tidak boleh menangis karena membuat suaminya malu. Jika saat melahirkan ia menangis berarti ia perempuan yang lemah, makanya ia dicerai suaminya)” kata nenek pada waktu aku fasilitasi pendidikan pada anak-anak rombong Ninjo Bepak Betenda, Sungoi Toruyon.

Biak setengah mati, nye ndok mati, betina yoya piado bulih meratop (Biarpun setengah mati rasanya, atau bahkan mau mati sekalipun, perempuan saat melahirkan tidak boleh menangis),” tambah induk Penganten.

Pada ibu muda yang kuyakin lebih muda dariku itu, lebih baik rerayo (para orang tua, perangkat adat) berdebat adat daripada menyelamatkan nyawa seorang perempuan yang berjuang agar banyinya tetap selamat. Vian, lokoter yang laki-laki itu seakan tidak berguna keberadaannya. Ia tidak lebih dan tidak berkurang seperti halnya perempuan kelapaiyon yang tengah mengerang nyawa itu.

2006–

Kala Orang Rimba Diagamakan….

Orang Rimba memeluk agama Orang Terang? Benarkah?

Nopember ini bersama Capung dan Martha, aku masuk ke rombong Celitay di Sungai Kejasung Besar, Taman Nasional Bukit Dua Belas, Jambi. Potensi murid yang belum memperoleh fasilitasi pendidikan sekitar lebih dari 10 orang. Sedangkan anak-anak yang kini beranjak remaja dan dewasa, beberapa diantaranya telah tokang (bisa) baca tulis hitung. Mereka pernah belajar bersama Butet dan Agustina (Xena). Sementara anak-anak yang memang belum memperoleh fasilitasi pendidikan, saat itu kuperkirakan usianya memang belum mencukupi untuk ikut kegiatan belajar.

Selain mendapat fasilitasi dari KKI Warsi, lembaga tempatku bekerja sekarang, ada fasilitasi dari lembaga lain. Kopsad yang dipimpin Budi (aku kurang tahu nama lengkapnya), pernah mengirim Edi, Hamdan, Mail, dan Suparto. Keempat Orang Rimba itu telah berganti nama dusun. Menurut Suparto, mereka juga sudah diislamkan oleh Budi Kopsad. Bahkan Suparto mengaku telah disunat seperti orang dusun pada umumnya.

Suparto sudah tidak ingat lagi kapan ia bersama teman-teman rimbanya dikirim ke Jakarta. ”Adolah kami dikirim ke pondok pesantren. Kami dikirim ke Tanah Abang samo Pondok Gede. Au, pisah kamia…” ujar Parto dengan bahasa bercampur Bahasa Indonesia.

Kisah Suparto, mereka hanya bertahan enam bulan. Selain rindu keluarga, tidak betah dengan suasana kota Jakarta yang selalu macet dan riuh, Suparto dan kawan-kawannya punya alasan lain. ”Tiap hari haruy bangun pagi. Belum subuh haruy sudah bangun untuk mengaji. Lah sholat ngaji lagi. Disuruhnya kami mandi, antri makan pagi, habiy iyoi ngaji lagi. Bosan ake. Hanya mengaji teruy. Hopiado tentu…(nggak tahu lah).”

Suparto dan Hamdan kini masuk rimba lagi. Ia tinggal dengan istrinya di Rombong Celitay. Sedangkan Edi dan Mail ikut Rombong Tumenggung Mbiring di Singosari. Ketika kutanya apakah ia masih beragama Islam, Suparto tertawa. “Eik, ake lah makon bebi kinia…..hopi salat…. lah jedi urang rimba lah….Beik jedi urang rimba, hopi disuruh-suruh. Kalu rintuk, ndok tiduk, tiduk bae piado urang melarong kamia…(Saya sudah makan babi lagi sekarang. Tidak menjalankan sholat, jadi Orang Rimba lagi. Lebih baik menjadi Orang Rimba, tidak disuruh-suruh. Kalau mengantuk, ya tinggal tidur saja tidak ada yang melarang).”

Orang-orang Rimba yang ‘diagamakan’ seperti Suparto memang sudah lumayan banyak. Namun, tidak banyak yang bertahan. Salah satunya adalah Din (kuperkirakan usianya 45an) dari Rombong Tumenggung Meladang. Ia yang tidak pernah menyebut nama rimbanya itu bercerita padaku. Berkali-kali ia diislamkan, salah satunya oleh Budi Kopsad, juga dikristenkan oleh misionaris asal Timor-Timur yang juga pernah bertemu denganku di Kejasung.

Kalu beraynye lah habiy, kamia masuk rimba lagi. Kalu ado urang ndok bori kamia beju, gulo, beray, nye minta kamia mansuk keristen apo islam, apo apolah ugama apo bae, kalu lah habiy kamia lagi jedi urang rimba (Kalau bantuan beras sudah habis, kami masuk rimba lagi. Kalau ada orang mau memberi baju, gula, beras, tapi dia minta kami masuk agama mereka. Jika sudah habis bantuan mereka, lebih baik kami masuk rimba lagi menjadi Orang Rimba lagi).

Bagiku sendiri terlintas, apa yang sebenarnya dibutuhkan mereka, bukan apa yang kita butuhkan dari mereka…

.

Kejasung Besar, Rombong Celitay di Nopember 2006

Kamu Tahu Namanya?

“Akhhh cerewet tenan! Meneng ngopo! Esuk-esuk ngganggu wong turu!” pernah kumaki makhluk kecil itu sembari kubuka jendala kaca kamar. Makian percuma karena aku tidak bisa melihat apapun. Masih buram di luar. Bahkan daun pun masih terlihat hitam. Surya masih tenggelam di balik bukit.

Saat itu memang kantukku masih tak tertahan. Masih pukul 6.20, seperti biasanya. Indonesia bagian barat masih senyap dalam gelap. Tapi ia yang tidak pernah kukenal itu tak juga pergi. Ia makin riang tampaknya. Ku yakin ia lagi nangkring di antara daun-daun mangga yang kelam.

Beberapa waktu lalu, mungkin lebih dari dua minggu yang lalu, pernah ada niat akan kubawa galah. Jika pagi tiba, lalu ia bertengger dan cerewet mengganggu tidurku, akan kuusir dengan galah bamboo. Mungkin karena niat jahat, galah itu tak pernah kubawa naik ke lantai dua, kamarku. Selalu saja aku lupa.

Pagi ini, seperti biasanya ia muncul lagi. Aku sendiri tidak pernah tahu ia dinamai apa oleh manusia. Yang jelas, tiap pagi cerewetnya minta ampun membangunkanku dari buaian mimpi.

Barangkali saja kamu tahu dia bernama apa. Bunyinya begini, “prit cit cit cuit cit cuit prik prik….” dengan irama sangat cepat dan kuat. Tak tahu bagaimana aku menuliskan bunyinya. Aku telah merekamnya, tapi belum tahu hasilnya apakah jernih atau tidak. Semalam aku sengaja menyiapkan alat perekamku. Sebelumnya, aku pernah merekam dengan kamera. Hasilnya percuma. Suara tidak maksimal, gambarpun hanya hitam pekat yang kudapat.

Usai nyuci tadi, ia kembali lagi. Ya, masih seperti biasanya. Usai bernyanyi di pukul 06.15an, ia kembali lagi setelah jam 7. Sayang, kameraku tertinggal di kantor sehingga tidak bisa mengambil gambar untuk kuperlihatkan padamu. Mungkin besok…

Aku tahu kini ia suka nongkrong di dahan yang mana. Hanya saja, untuk kedatangannya yang kedua, aku harus beraksi cepat. Sebab ia hanya bertengger sejenak saat mentari telah mampir di atas bukit. Mata pun harus jeli. Warnanya yang coklat susu mirip daun mangga yang kering karena patah oleh angin.

Saat ia beraksi, berteriak “Ninuk malas, bangun, bangun, cit cit cuit cuit cuit ….” kepalanya bergoyang ke kanan dan ke kiri. Mungkin gerakannya itu pula yang membuat suaranya terdengar naik turun. Kepalanya yang berjambul warna hitam sengaja digelengkan ke kanan, ke kiri, ke depan. Apa maksudnya, aku tak pernah tahu. Baru kali ini pula kuamati polah burung.

Waktu seorang mendengar kisahku, ia bertanya, “Ekornya warna apa?” itu yang tidak kutahu. Kebetulan ekornya tertutup daun.

Apakah kamu tahu namanya dari ciri-ciri yang kusebutkan di atas? Semoga kaupun tahu mengapa ia sangat suka berkaraoke, di jelang pagi yang tengah memanjakanku dalam alunan mimpi. “Lagi menarik perhatian lawan jenisnya kali?” kata seorang di telingaku. Eit, mana lah kutahu. Dan yang pasti bukan aku yang dimaksud hehehehe…..

Tak kulihat burung sejenisnya bertengger di dahan yang lain. Kalaupun suaranya datang dua kali, akupun tak hapal betul apakah ia sosok yang sama. Merdunya sama, meski tidak secerewet yang datang pertama. Hafalku, setelah ia hinggap dan membangunkanku, ia akan terbang ke samping rumah, lalu pindah ke dahan pohon mangga depan rumah. Setelah itu ia kabur entah kemana. Lalu suaranya balik lagi setelah mataku benar-benar sudah tidak bisa terpejam lagi.

Ternyata makin hari aku makin suka. Waktu aku cerita ke teman-teman di rumah ini, bahkan tidak ada yang tahu tentang celotehnya. ”Ono po manuk sing teko ben isuk (Ada ya burung yang selalu datang di pagi hari)?” tanya mbak Nur padaku.

Jikapun kau tak percaya, cobalah pencet nomerku di jam-jam itu. Akan kuperdengarkan nyaringnya pada telingamu. Lebih jernih dari hasil rekamanku, pasti. Kamupun akan menyukainya sepertiku suka padanya.

Malas mandi, 23 Februari 2010 pada 07.34

senjata makan tuan

“Waduh wutah (tumpah)!” kataku sendiri ketika kulihat toples coklat mengeluarkan cairan berwarna kelam. Ia tersenggol daun ketela yang kupotongi, kutumpuk sementara, lalu kupindahkan ke dekat lubang sampah.

Bau busuk menyebar. Busuk sekali, lebih dari comberan yang berbulan-bulan tidak dibersihkan. “Wah, gawat!” kataku lagi. Bicara pada diri sendiri lagi.

Lebih gawat lagi bau busuk tercium juga oleh mbak Elis dan kawan-kawan. “Sampai ke dalam rumah lho baunya,” Ida dengan suara seraknya.

Mau tidak mau aku harus mengaku, bau busuk yang menyengat hidung akibat perbuatanku. Meski tidak sengaja menyenggol, jelas juga kata dalam peribahasa ’Menyimpan barang busuk akhirnya tercium juga.’ Hanya saja, kali ini benar-benar daging yang membusuk karena ulahku. Huhu, padahal awalnya toples itu tertutup rapi dengan piring besi.

Wo, tak kiro cucianku sing mambu (kukira cucianku yang berbau),” kata mbak Elis, yang tengah menyambi mencuci sprei dan selimut di mesin cuci..

Ternyata bau makin menusuk hidung. Kupikir, dengan menyemprotkan air pada toples dan lantai di kebun belakang rumah itu, baunya akan segera hilang. Oh, saat kumenyemprotkan air, mual perutku. Serasa mau muntah. Titik-titik air mata hendak meluncur tak kuat dengan baunya. Eh, dari tadi aku sebut bau busuk tapi tidak menyebut bau busuk dari mana?

Ceritanya, entah sudah berapa minggu yang lalu aku bersih-bersih kebun seorang diri. Pas benar-benar sendiri manakala teman-teman sedang berlibur. Tinggal di rumah sendiri usai perawatan dari dokter Jun.

Waktu itu, mbak Elis teman setia untuk urusan kebun, juga entah sedang pergi kemana. Entah cuti, entah….ah, aku benar-benar lupa. Semak-semak di antara pohon cabe, tomat, ketela yang aku dan mbak Elis tanam, kubersihkan. Aku sebal kala mengetahui puluhan bekicot memangsa daun-daun ketela yang kutanam. Mereka enak-enakkan bersembunyi di bawah pohon ketela.

Aku sendiri tidak sempat menghitung berapa ekor (bekicot punya ekor nggak sih?) bekicot yang kudapat. Lebih dari dua puluh pastinya. Mau kugencet pakai batu kok rasanya tak tega. Dan aku juga tidak mau daging-daging bekicot itu nantinya dihurung semut.

Kulihat di atas septic tank ada toples warna coklat tak terpakai. Pernah sekali kupakai untuk membunuh bekicot dengan berlahan. Ya, membunuhnya.

Toples telah terisi penuh. Kugoyang-goyang toples itu. Dua tiga ekor masih masuk. Kututup piring tak terpakai, lalu kutekan dengan batu bata. Oey, setelah berminggu-minggu tak kuingat lagi.

Belatungnya banyak yang sudah mati. Terdiam, entah mengering atau mengeras. Bentuknya bulat-bulat agak kecoklatan. Isi bekicot pun telah kosong. Tapi minta ampun air yang tersisa dari tubuh-tubuh bekicot itu, bau!

”Ini bukti pembantaian massal yang dilakukan Ninuk,” ujar mbak Elis.

Lalu mbak Elis yang juga sedang memotong-motong daun ubi yang menjalar kemana-mana itu menambahkan, ”Senjata makan tuan tu ya begini….”

Wah, banyak istilah muncul. Ida yang hendak ke pasar bareng Farida nggak mau kalah berkomentar, ”Kamu kalau harimau tidak boleh dibunuh, tapi kamu membunuh bekicot sebanyak-banyaknya. Tidak berperikebinatangan kamu, Nuk.”

Dan aku pun membela diri, ”Harimau diambang kepunahan, Bu. Kalau bekicot sudah jadi hama mematikan.”

Pembenaranku beralasan lho. Waktu tanaman cabe masih seuprit, anak-anak bekicot inilah yang memberangus daun-daunnya. Dua kali mbak Elis membuat semprot hama dari daun yang pahitnya minta ampun. Sedikit membantu, tapi toh kalah dengan siraman air hujan. Si anak bekicot yang sangat mungilpun nangkring dan menghabisi daun cabe. Pernah kuceritakan pada seseorang, aku membenci anak-anak bekicot dan induk-induk yang menelorkannya.

Aku membencinya. Punya alasan untuk membunuh bekicot-bekicot yang beranak-pinak-cucu itu. Tapi bukan karena takut. Meski akhirnya bau busuknya tercium bahkan sampai lewat sore hari. Oh, senjata makan tuan dan temen-temen tuannya….hehehehe…

14 Februari 2010 21.46

Bingung Nulis atau Menulis Bingung?

Bingung mau nulis! Gila! Hilang ideku! Entah pergi kemana ide-ide berhari-hari kemarin terbang. Hilang, ide kerapkali kejadian serupa berulang. Ini akibat kemalasanku untuk melampiaskan cuilan-cuilan khayalku dalam titik-titik huruf. Benar bahwa aku malas membuka laptop. Lebih-lebih jika mencari folder tulisan yang menyisip di folder D/IAO. Malas sekali aku! Dari folder ini, deretan-deratan folder berisi file pekerjaan tersimpan. Nama-nama folder itu yang kerap membuatku malas membuka laptop. Tidak membacanya sekalipun!

“Kamu sedang di rumah oey, bukan di kantor! Saatnya manjakan diri. Waktu kerjamu akan datang lagi besok pagi….” seruku pada diriku sendiri.

Padahal waktuku luang. Tidak pula sedang punya buku bacaan. Intisari dan National Geographic yang kutitip pada Pak Daryadi alias Pakde habis terbaca dalam dua hari saja. Sedikit menyesal aku segera menyelesaikannya. Menyesal mengapa aku tidak bisa mengeremnya seperti yang pernah kulakukan saat aku masih hidup di rimba. Ya, karena aku sudah tidak punya buku bacaan lagi. Eh, ada satu buku yang dipinjami mbak Nur. Tapi entah mengapa tiap kali aku membuka halamannya, mataku terasa sangat berat.

Aku malas baca. Aku malas nulis. Tapi aku tidak perlu menyalahkan pihak lain, membawa-bawa makhluk lain sebagai kambing hitam. Toh, malam demi malam aku tidur kala detak jarum jam dinding masih pada angka 9. Terlalu sore untuk waktu Indonesia bagian barat ini. Cukup bayangkan saja, subuh di sini sekitar pukul 5.30. sedangkan waktu Isya’ jatuh pukul 20. Keterlaluan tidur sore, hampir tiap pagi belum subuh mataku sudah tak mau menutup lagi. Kalaupun kupaksa, pikiranku melayang asyik dalam khayalan pagi hari. Hanya burung berukuran kecil, berbadan coklat, pada bagian dada berwarna kuning yang membuatku lalu bersenandung. Burung cerewet yang datang tiap pagi.

Sayangnya, ia tak mampu mengajakku untuk mencairkan khayalku dalam ketikan tulisan. ”Ditulislah pakai tulisan tangan,” kata seorang teman kala kujawab pertanyaannya, mengapa aku tidak lagi menulis.

Malas. Terlalu berat rasanya menulis ’jaman sekarang’ hanya memakai kertas dan pena. Aku sedang tidak di rimba raya seperti dulu. Mau tidak mau, kepenatanku harus kutuangkan dalam halaman-halaman buku tulis merk Kiky. Menyalinnya lagi ke layar monitor komputer saat berada di kota. Menulis pada lembar-lembar kertas membuatku kesal. Bagaimana tidak, kala otak penuh dengan ide, tangan tidak mampu merespon cepat. Otakku berlari, sedangkan tanganku bak menari tarian jawa yang bergerak penuh kelembutan. Tidak klop!

Lalu kala malas tidak dihadang, ide itupun akhirnya menghilang dan tidak bisa kusalahkan. “Resikomu. Lebih memilih menutup mata, sekedar memuaskan nafsu berfantasi,” kataku lagi.

Apakah kamu juga merasakan begitu? Terlebih jika otak telah digunakan berjam-jam untuk bergelut dengan kegiatan yang dinamakan kerja! Tubuh ingin dimanja. Matapun tak kalah merayu untuk ”Ayolah, istirahat…” Sepantasnya kuakui, bagian-bagian yang menjadikan aku harus kudengar juga. Ingat kala mereka memberontak karena aku tidak menghiraukannya. Rasa nyaman menjauh. Aku bahkan tidak mampu untuk memikirkan aku. Parahnya lagi jika harus sampai diantar ke rumah sakit. ”Tak mau lagi kan Nuk?”

Istirahat bukan berarti malas. Tidak menulis karena protes badanku bukan berarti harus menuruti malas. Ya istirahat beda dengan malas. Toh, menuliskan ini ternyata masih bisa. Dan hehehe, ternyata akhirnya aku nulis juga meskipun nggak mutu, nggak tahu ujung pangkal tulisan ini. Yah, harus kupaksa untuk tidak terucap kata malas. Menulis itu menyenangkan.

Minggu, 14 Februari 2010 21:13

Semangat Damai Perempuan di Wilayah Merah

Kepala Baina dibebankan pada tumpukan dua telapak tangannya. Wajahnya muncul di atas sandaran kursi. Sengaja ia duduk pada kursi yang terbalik posisinya, menghadap ke belakang. Lirih suaranya kala ia bercerita penggalan-penggalan hidupnya pada kurun waktu 2001-2004. Masa-masa kelam saat konflik antara Gerakan Aceh Merdeka dan TNI pecah di bumi Serambi Mekah.

”Waktu itu bulan puasa. Saya lupa kalau hari itu hari latihan. Saat lagi asyik membantu mamak untuk persiapan berbuka, saya dipanggil aparat. Baru saya ingat kalau harus latihan volley. Dia marah sama saya. Dibentak-bentaknya saya. Lalu disuruhnya ke sungai belakang desa. Saya direndam sampai berjam-jam, sampai lewat waktu berbuka.”

Pemudi Desa Simpang Dua, Kecamatan Kluet Timur, Kabupaten Aceh Selatan ini mengungkapkan, latihan volley bagi para perempuan wajib hukumnya. Pihak yang mewajibkan adalah aparat TNI.

Sekalipun dingin dan lapar, perempuan yang kala itu masih duduk di bangku SMP awalnya tidak berani melawan. ”Orang tu bawa senjata. Tidak boleh keluar dari air sampai orang itu memerintahkan kita keluar dari air. Kalau kita melawan, senjata sudah ada di kepala kita.”

Pengakuan ini serupa dengan yang diungkapkan tiga kawan Baina, yaitu Abizah, Marina, dan Bangun Hayati. Menurut perempuan-perempuan yang aktif dalam organisasi pemudi ini, kata terlambat sangat dilarang bagi mereka.

”Tidak ada yang boleh terlambat 1 menitpun. Kalau terlambat, tahu sendiri akibatnya. Dihukum lari lapangan 10 kali atau sesuka mereka, direndam seperti Baina, push up. Ada juga yang sampai ditendang,” ujar Abizah yang juga guru SD di desanya.

Baina yang aktif sebagai bendahara organisasi pemudi di desanya menambahkan, saat konflik, setiap hari selalu saja ada warga masyarakat yang direndam atau diperlakukan buruk oleh aparat.

“Seringnya baju sampai tidak mencukupi. Ayah saya, ditanya aparat tidak tahu jawabannya direndam dia. Pulang dari kebun kalau ada aparat marah, direndam lagi. Kadang sehari sampai tidak terhitung berapa kali direndam. Tapi aku sekali melawan. Diam orang itu tak berkata pun. Mereka sewenang-wenang,” kata Baina. Tertawa menang.

Pengawasan ketat

Tinggal di desa yang dianggap sebagai wilayah basis GAM atau kerap disebut daerah merah itu, pengawalan terhadap aktifitas kehidupan sehari-hari sangat ketat. Beberapa kewajiban tanpa pandang kondisi desa pun kerap diberlakukan.

Ketua Organisasi Pemudi Desa Simpang Dua, Marina mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan pangan pun warga harus ikuti aturan yang dibuat aparat TNI. Warga desa diharuskan menanam ubi dan sayur-sayuran di lahan halaman rumah mereka.

”Kami tidak boleh menggarap kebun. Kalau mau kita ke kebun harus lewat pos jaga, lapor dan diperiksa. KTP harus ditinggal. Tidak boleh membawa nasi atau makanan. Tidak boleh bawa bekal. Aparat takut kami ke kebun sebagai dalih mengantar makanan ke anggota GAM.”

Marina juga berkisah, beras dan bahan makanan yang dimiliki warga wajib disimpan di pos. Setiap hari warga harus ke pos untuk mengambil jatah beras sesuai dengan jumlah jiwa yang ada di masing-masing rumah. Pengalaman ini melahirkan strategi baru bagi sebagian besar warga.

”Jadi kalau belanja ke pasar harus diperhitungkan kebutuhan kita, agar tidak diambil aparat. Meski kadang sudah dipas-paskan dengan kebutuhan, e mereka tetap ambil juga”

Tidak hanya urusan hajat hidup warga yang dikontrol. Bahkan hubungan manusia dengan Sang Pencipta pun dikontrol. ”Waktu shalat Jumat juga dikontrol. Yang tidak sholat jumat, wah kena juga itu. Macam-macam lah hukumannya. Kalau sama laki-laki lebih berat hukumannya,” tambah Marina seraya tertawa ringan.

Mengungsi

Jika diminta menghitung berapa kali warga desa mengungsi, Marina, Baina, Abizah, dan Bangun Hayati mengaku sudah tidak ingat lagi. Dalam ingatan pemudi-pemudi ini, setiap kali ada kontak senjata di desa atau gunung-gunung (bukit) di sekitar desa mereka, warga lari mengungsi. Pengungsian massal seluruh warga secara serentak dilakukan dua kali.

”Kami dari Desa Simpang Dua dan Simpang Tiga pernah mengungsi ke Desa Malaka, di gedung SMP. Saat itu bulan puasa, terjadi kontak senjata. Kami lari karena merasa terancam. Kami mengungsi lebih dari satu bulan,” seru Abizah. Bangun Hayati dan Baina manggut-manggut mengamini.

Pengungsian serentak kedua dilakukan ke desa di balik gunung, Desa Paya Ateuk, Kecamatan Pasie Raja, setelah warga mendapat ancaman. ”Tiap kali pulang ke rumah dari pengungsian, taulah, berantakan sekali. Harta-harta sudah hilang entah kemana. Kambing, ayam hilang,” tutur Marina.

”Anehnya, tidak ada bangkai di situ pun. Semua hilang,” ujar Abizah yang sekretaris pemudi ini.

”Tai kambing dimasukkan ke rumah kita. Tai-tai binatang ditaruk di baju kita yang tidak sempat kami bawa. Nggak tau bilang apa lagi. Uhhh… Jangan sampai kedua kali. Capek kita,” tambah Baina seraya melenguh.

Kembalikan semangat

Saat konflik pecah, pemudi-pemudi dan warga umumnya merasa takut pada dua belah pihak, baik TNI maupun GAM. ”Mereka sama-sama pegang senjata. Kami perempuan harus main volley, diwajibkan oleh aparat. Kalau tidak mau, direndam. Otomatis kami dianggap dekat dengan aparat walau terpaksa pun. Hidup kami terancam oleh pihak GAM. Sama-sama membuat takut lah,” keluh Bangun.

Di masa damai sekarang, berempat mereka ingin masa kelam dikubur dalam-dalam. Meskipun sakit yang mereka rasakan masih tersisa akibat perlakukan buruk yang sama dalam bentuk berbeda. Tantangan demi tantangan disodorkan pada perempuan-perempuan yang sangat semangat membangun desanya ini.

”Kalau sama aparat memang tidak bisa saya lupakan perlakukan buruknya, tetapi pada saudara kita sendiri? Jujur saat konflik dalam kondisi menyakitkan pun kita berusaha melindungi saudara kita yang di gunung (GAM). Tetapi setelah kondisi damai, mereka dapat jabatan, dapat segala macam bantuan, kita tidak ada yang diopen. Tidak lagi diopennya saudara sendiri yang terpuruk karena konflik,” ungkap Marina.

Pada sisi lain, aktifitas pemudi dan perempuan yang pernah berjaya sebelum konflik, tidak lagi berdaya pada masa sekarang. Untuk sekedar mengeliat bangkit pun, ada sebagian warga menentangnya.

”Bagaimana kami bisa berprestasi lagi seperti senior-senior kami jika berkegiatan pun dilarang. Kamipun tidak diberitahu mengapa dilarang. Hanya omongan bahwa pemudi tidak boleh olahraga, pemudi tidak boleh menari. Padahal kami melatih menari untuk anak-anak SD pun,” kata Abizah sangat bersemangat.

“Masak kami hanya boleh diam-diam saja di rumah. Berkesenian tidak boleh, padahal budaya Aceh yang kami pelajari. Aneh, pemudi tidak boleh maju,” ujar Baina.

Marina berharap, perdamaian benar-benar terwujud dalam bentuk yang lebih nyata. ”Damai ya damai, tapi tolong kembalikan semangat kami supaya kami tidak hanya ingat masa lalu yang buruk. Semangat untuk berjuang melalui kegiatan-kegiatan kesenian, kegiatan sosial. Alat-alat kesenian semua dulu ada untuk kegiatan kami, tetapi semua hancur oleh konflik. Bukan justru melarang tanpa alasan.”

Beruntung, perangkat desa termasuk geuchik dan pemuda di desanya sangat mendukung kegiatan pemudi.

Ninuk Setya Utami

IAO Youth Project