senjata makan tuan


“Waduh wutah (tumpah)!” kataku sendiri ketika kulihat toples coklat mengeluarkan cairan berwarna kelam. Ia tersenggol daun ketela yang kupotongi, kutumpuk sementara, lalu kupindahkan ke dekat lubang sampah.

Bau busuk menyebar. Busuk sekali, lebih dari comberan yang berbulan-bulan tidak dibersihkan. “Wah, gawat!” kataku lagi. Bicara pada diri sendiri lagi.

Lebih gawat lagi bau busuk tercium juga oleh mbak Elis dan kawan-kawan. “Sampai ke dalam rumah lho baunya,” Ida dengan suara seraknya.

Mau tidak mau aku harus mengaku, bau busuk yang menyengat hidung akibat perbuatanku. Meski tidak sengaja menyenggol, jelas juga kata dalam peribahasa ’Menyimpan barang busuk akhirnya tercium juga.’ Hanya saja, kali ini benar-benar daging yang membusuk karena ulahku. Huhu, padahal awalnya toples itu tertutup rapi dengan piring besi.

Wo, tak kiro cucianku sing mambu (kukira cucianku yang berbau),” kata mbak Elis, yang tengah menyambi mencuci sprei dan selimut di mesin cuci..

Ternyata bau makin menusuk hidung. Kupikir, dengan menyemprotkan air pada toples dan lantai di kebun belakang rumah itu, baunya akan segera hilang. Oh, saat kumenyemprotkan air, mual perutku. Serasa mau muntah. Titik-titik air mata hendak meluncur tak kuat dengan baunya. Eh, dari tadi aku sebut bau busuk tapi tidak menyebut bau busuk dari mana?

Ceritanya, entah sudah berapa minggu yang lalu aku bersih-bersih kebun seorang diri. Pas benar-benar sendiri manakala teman-teman sedang berlibur. Tinggal di rumah sendiri usai perawatan dari dokter Jun.

Waktu itu, mbak Elis teman setia untuk urusan kebun, juga entah sedang pergi kemana. Entah cuti, entah….ah, aku benar-benar lupa. Semak-semak di antara pohon cabe, tomat, ketela yang aku dan mbak Elis tanam, kubersihkan. Aku sebal kala mengetahui puluhan bekicot memangsa daun-daun ketela yang kutanam. Mereka enak-enakkan bersembunyi di bawah pohon ketela.

Aku sendiri tidak sempat menghitung berapa ekor (bekicot punya ekor nggak sih?) bekicot yang kudapat. Lebih dari dua puluh pastinya. Mau kugencet pakai batu kok rasanya tak tega. Dan aku juga tidak mau daging-daging bekicot itu nantinya dihurung semut.

Kulihat di atas septic tank ada toples warna coklat tak terpakai. Pernah sekali kupakai untuk membunuh bekicot dengan berlahan. Ya, membunuhnya.

Toples telah terisi penuh. Kugoyang-goyang toples itu. Dua tiga ekor masih masuk. Kututup piring tak terpakai, lalu kutekan dengan batu bata. Oey, setelah berminggu-minggu tak kuingat lagi.

Belatungnya banyak yang sudah mati. Terdiam, entah mengering atau mengeras. Bentuknya bulat-bulat agak kecoklatan. Isi bekicot pun telah kosong. Tapi minta ampun air yang tersisa dari tubuh-tubuh bekicot itu, bau!

”Ini bukti pembantaian massal yang dilakukan Ninuk,” ujar mbak Elis.

Lalu mbak Elis yang juga sedang memotong-motong daun ubi yang menjalar kemana-mana itu menambahkan, ”Senjata makan tuan tu ya begini….”

Wah, banyak istilah muncul. Ida yang hendak ke pasar bareng Farida nggak mau kalah berkomentar, ”Kamu kalau harimau tidak boleh dibunuh, tapi kamu membunuh bekicot sebanyak-banyaknya. Tidak berperikebinatangan kamu, Nuk.”

Dan aku pun membela diri, ”Harimau diambang kepunahan, Bu. Kalau bekicot sudah jadi hama mematikan.”

Pembenaranku beralasan lho. Waktu tanaman cabe masih seuprit, anak-anak bekicot inilah yang memberangus daun-daunnya. Dua kali mbak Elis membuat semprot hama dari daun yang pahitnya minta ampun. Sedikit membantu, tapi toh kalah dengan siraman air hujan. Si anak bekicot yang sangat mungilpun nangkring dan menghabisi daun cabe. Pernah kuceritakan pada seseorang, aku membenci anak-anak bekicot dan induk-induk yang menelorkannya.

Aku membencinya. Punya alasan untuk membunuh bekicot-bekicot yang beranak-pinak-cucu itu. Tapi bukan karena takut. Meski akhirnya bau busuknya tercium bahkan sampai lewat sore hari. Oh, senjata makan tuan dan temen-temen tuannya….hehehehe…

14 Februari 2010 21.46

Iklan

2 Komentar

  1. naribungo said,

    1 April 2010 pada 3:19 am

    senang jika aku bisa membuatmu tertawa ciel hehehehe

  2. gitaditya said,

    31 Maret 2010 pada 10:31 am

    wa, sadis tapi lucu mbak… ini boleh buat diketawain ga sih? hihihi..

    blog walking – laurenciel 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: