Kamu Tahu Namanya?


“Akhhh cerewet tenan! Meneng ngopo! Esuk-esuk ngganggu wong turu!” pernah kumaki makhluk kecil itu sembari kubuka jendala kaca kamar. Makian percuma karena aku tidak bisa melihat apapun. Masih buram di luar. Bahkan daun pun masih terlihat hitam. Surya masih tenggelam di balik bukit.

Saat itu memang kantukku masih tak tertahan. Masih pukul 6.20, seperti biasanya. Indonesia bagian barat masih senyap dalam gelap. Tapi ia yang tidak pernah kukenal itu tak juga pergi. Ia makin riang tampaknya. Ku yakin ia lagi nangkring di antara daun-daun mangga yang kelam.

Beberapa waktu lalu, mungkin lebih dari dua minggu yang lalu, pernah ada niat akan kubawa galah. Jika pagi tiba, lalu ia bertengger dan cerewet mengganggu tidurku, akan kuusir dengan galah bamboo. Mungkin karena niat jahat, galah itu tak pernah kubawa naik ke lantai dua, kamarku. Selalu saja aku lupa.

Pagi ini, seperti biasanya ia muncul lagi. Aku sendiri tidak pernah tahu ia dinamai apa oleh manusia. Yang jelas, tiap pagi cerewetnya minta ampun membangunkanku dari buaian mimpi.

Barangkali saja kamu tahu dia bernama apa. Bunyinya begini, “prit cit cit cuit cit cuit prik prik….” dengan irama sangat cepat dan kuat. Tak tahu bagaimana aku menuliskan bunyinya. Aku telah merekamnya, tapi belum tahu hasilnya apakah jernih atau tidak. Semalam aku sengaja menyiapkan alat perekamku. Sebelumnya, aku pernah merekam dengan kamera. Hasilnya percuma. Suara tidak maksimal, gambarpun hanya hitam pekat yang kudapat.

Usai nyuci tadi, ia kembali lagi. Ya, masih seperti biasanya. Usai bernyanyi di pukul 06.15an, ia kembali lagi setelah jam 7. Sayang, kameraku tertinggal di kantor sehingga tidak bisa mengambil gambar untuk kuperlihatkan padamu. Mungkin besok…

Aku tahu kini ia suka nongkrong di dahan yang mana. Hanya saja, untuk kedatangannya yang kedua, aku harus beraksi cepat. Sebab ia hanya bertengger sejenak saat mentari telah mampir di atas bukit. Mata pun harus jeli. Warnanya yang coklat susu mirip daun mangga yang kering karena patah oleh angin.

Saat ia beraksi, berteriak “Ninuk malas, bangun, bangun, cit cit cuit cuit cuit ….” kepalanya bergoyang ke kanan dan ke kiri. Mungkin gerakannya itu pula yang membuat suaranya terdengar naik turun. Kepalanya yang berjambul warna hitam sengaja digelengkan ke kanan, ke kiri, ke depan. Apa maksudnya, aku tak pernah tahu. Baru kali ini pula kuamati polah burung.

Waktu seorang mendengar kisahku, ia bertanya, “Ekornya warna apa?” itu yang tidak kutahu. Kebetulan ekornya tertutup daun.

Apakah kamu tahu namanya dari ciri-ciri yang kusebutkan di atas? Semoga kaupun tahu mengapa ia sangat suka berkaraoke, di jelang pagi yang tengah memanjakanku dalam alunan mimpi. “Lagi menarik perhatian lawan jenisnya kali?” kata seorang di telingaku. Eit, mana lah kutahu. Dan yang pasti bukan aku yang dimaksud hehehehe…..

Tak kulihat burung sejenisnya bertengger di dahan yang lain. Kalaupun suaranya datang dua kali, akupun tak hapal betul apakah ia sosok yang sama. Merdunya sama, meski tidak secerewet yang datang pertama. Hafalku, setelah ia hinggap dan membangunkanku, ia akan terbang ke samping rumah, lalu pindah ke dahan pohon mangga depan rumah. Setelah itu ia kabur entah kemana. Lalu suaranya balik lagi setelah mataku benar-benar sudah tidak bisa terpejam lagi.

Ternyata makin hari aku makin suka. Waktu aku cerita ke teman-teman di rumah ini, bahkan tidak ada yang tahu tentang celotehnya. ”Ono po manuk sing teko ben isuk (Ada ya burung yang selalu datang di pagi hari)?” tanya mbak Nur padaku.

Jikapun kau tak percaya, cobalah pencet nomerku di jam-jam itu. Akan kuperdengarkan nyaringnya pada telingamu. Lebih jernih dari hasil rekamanku, pasti. Kamupun akan menyukainya sepertiku suka padanya.

Malas mandi, 23 Februari 2010 pada 07.34

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: