Kala Orang Rimba Diagamakan….


Orang Rimba memeluk agama Orang Terang? Benarkah?

Nopember ini bersama Capung dan Martha, aku masuk ke rombong Celitay di Sungai Kejasung Besar, Taman Nasional Bukit Dua Belas, Jambi. Potensi murid yang belum memperoleh fasilitasi pendidikan sekitar lebih dari 10 orang. Sedangkan anak-anak yang kini beranjak remaja dan dewasa, beberapa diantaranya telah tokang (bisa) baca tulis hitung. Mereka pernah belajar bersama Butet dan Agustina (Xena). Sementara anak-anak yang memang belum memperoleh fasilitasi pendidikan, saat itu kuperkirakan usianya memang belum mencukupi untuk ikut kegiatan belajar.

Selain mendapat fasilitasi dari KKI Warsi, lembaga tempatku bekerja sekarang, ada fasilitasi dari lembaga lain. Kopsad yang dipimpin Budi (aku kurang tahu nama lengkapnya), pernah mengirim Edi, Hamdan, Mail, dan Suparto. Keempat Orang Rimba itu telah berganti nama dusun. Menurut Suparto, mereka juga sudah diislamkan oleh Budi Kopsad. Bahkan Suparto mengaku telah disunat seperti orang dusun pada umumnya.

Suparto sudah tidak ingat lagi kapan ia bersama teman-teman rimbanya dikirim ke Jakarta. ”Adolah kami dikirim ke pondok pesantren. Kami dikirim ke Tanah Abang samo Pondok Gede. Au, pisah kamia…” ujar Parto dengan bahasa bercampur Bahasa Indonesia.

Kisah Suparto, mereka hanya bertahan enam bulan. Selain rindu keluarga, tidak betah dengan suasana kota Jakarta yang selalu macet dan riuh, Suparto dan kawan-kawannya punya alasan lain. ”Tiap hari haruy bangun pagi. Belum subuh haruy sudah bangun untuk mengaji. Lah sholat ngaji lagi. Disuruhnya kami mandi, antri makan pagi, habiy iyoi ngaji lagi. Bosan ake. Hanya mengaji teruy. Hopiado tentu…(nggak tahu lah).”

Suparto dan Hamdan kini masuk rimba lagi. Ia tinggal dengan istrinya di Rombong Celitay. Sedangkan Edi dan Mail ikut Rombong Tumenggung Mbiring di Singosari. Ketika kutanya apakah ia masih beragama Islam, Suparto tertawa. “Eik, ake lah makon bebi kinia…..hopi salat…. lah jedi urang rimba lah….Beik jedi urang rimba, hopi disuruh-suruh. Kalu rintuk, ndok tiduk, tiduk bae piado urang melarong kamia…(Saya sudah makan babi lagi sekarang. Tidak menjalankan sholat, jadi Orang Rimba lagi. Lebih baik menjadi Orang Rimba, tidak disuruh-suruh. Kalau mengantuk, ya tinggal tidur saja tidak ada yang melarang).”

Orang-orang Rimba yang ‘diagamakan’ seperti Suparto memang sudah lumayan banyak. Namun, tidak banyak yang bertahan. Salah satunya adalah Din (kuperkirakan usianya 45an) dari Rombong Tumenggung Meladang. Ia yang tidak pernah menyebut nama rimbanya itu bercerita padaku. Berkali-kali ia diislamkan, salah satunya oleh Budi Kopsad, juga dikristenkan oleh misionaris asal Timor-Timur yang juga pernah bertemu denganku di Kejasung.

Kalu beraynye lah habiy, kamia masuk rimba lagi. Kalu ado urang ndok bori kamia beju, gulo, beray, nye minta kamia mansuk keristen apo islam, apo apolah ugama apo bae, kalu lah habiy kamia lagi jedi urang rimba (Kalau bantuan beras sudah habis, kami masuk rimba lagi. Kalau ada orang mau memberi baju, gula, beras, tapi dia minta kami masuk agama mereka. Jika sudah habis bantuan mereka, lebih baik kami masuk rimba lagi menjadi Orang Rimba lagi).

Bagiku sendiri terlintas, apa yang sebenarnya dibutuhkan mereka, bukan apa yang kita butuhkan dari mereka…

.

Kejasung Besar, Rombong Celitay di Nopember 2006

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: