Menangis = Cerai!


Saat kutuliskan kisah ini, belum sekalipun aku merasakan hamil, lebih-lebih melahirkan. Perempuan yang mendambakan anak kerap bertutur bahwa hamil dengan segala tetek bengek yang ia rasa adalah kenikmatan. Menunggu saat-saat lahirnya sang buah hati menjadi penantian yang indah. Lalu, hari H yang dinanti menjadi sejarah yang tak terlupakan.

Pada detik-detik kelahiran, belum pernah sekalipun kudengar, ”Oh, enaknya…Nikmat betul…” Mbak Lilik, istri mas sulungku menangis sepanjang jalan menuju rumah bersalin ketika akan melahirkan Vian ponakanku. Lebih gila lagi Si Tri, adik sepupuku yang memang anak Bapak itu. Seantero Rumah Sakit Kasih Ibu, Sala, menjadi bising oleh teriakannya yang –jujur- membuatku sedikit malu. ”Pak’e…Pak’e…Lara Pak’e….Tulungi aku… (Sakit pak, tolong aku…),” pada Bapaknya, bukan pada suaminya. Ia menangis sejadi-jadinya saat melahirkan Andi, anak pertamanya.

Aku sendiri masih cukup untuk sekedar membayangkan, atau ikut merasakan dari mendengar atau melihat wajah perempuan saat hendak melahirkan saja. Kuyakin tak terkira sakitnya. Jeritan atau tumpahan airmata hanya sekedar ’penetralisir’ rasa sakit yang mendera.

Namun, apa jadinya kala penetralisir rasa sakit itu tumpah, justru hukumannya adalah cerai? Ya, cerai! Ini yang akan kukisahkan padamu. Bagiku, ini sisi kelam kehidupan Orang Rimba yang kerapkali kukagumi.

– –

Hari itu hujan turun sejak sore. Kelelahan berjalan keluar dari rimba membuat aku dan kawan-kawan tidur bagai orang mati. Berdesak-desakan dalam kamar kecil ukuran 2 x 2 m tak mengapa. Rumah pak Jul, contact person di Desa Jernih, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Jambi, toh sangat-sangat lebih nyaman dibanding tenda yang kupakai di rimba. Esok pagi, kami pulang ke Jambi, kota.

Namun, ketukan pintu saat hujan berkejaran dengan gemuruh halilintar membangunkan tidurku. Aku tidak ingat betul jam berapa saat itu. Tapi kuyakin mendekati dini hari. Pintu rumah pak Jul berderit. Aku tidak tahu persis siapa yang membukakan pintu. Mataku berkenyit saat keluar kamar kecil itu. Di ruang tamu memang lampunya terang benderang. Feri, Vian, Abdi masing-masing bersembunyi dalam kehangatan sleeping bag. Mereka tidur di kamar tengah yang jadi ruang untuk menempatkan televisi. Lusi, Wening, Danik yang masih terlelap di ruang tamu.

Ternyata Mangku Mbalai dan…. ah, aku lupa namanya, datang. Tubuh mereka basah meski tidak terlalu kuyup. Mungkin mereka bertudung plastik. Mereka mencari bepak lokoter (dokter). Vian lah yang dicari. Tak begitu lama, Abdi dan Vian terjaga. Muka-muka handuk basah, kusut! Tak jauh berbeda dengan mukaku. Muka-muka letih.

Ado betina kelapaiyon tapi budaknye elah mati (Ada perempuan –yang hendak- melahirkan tetapi bayinya sudah mati),” terang Mangku. Wajahnya yang hitam tegang. Bayi telah keluar dalam kondisi meninggal. Usianya masih sekitar 6 bulan. Tetapi ari-ari atau plasenta belum keluar, masih berada di dalam rahim.

Ia lalu menerangkan lagi bahwa betina kelapaiyon itu tidak berada di rimba, tetapi di kebun karet penduduk, jadi “Dekant (dekat),” ujar Mangku, dengan lafal n dan t berdempetan, agak sengau. Orang Rimba dari Rombong Marituha itu memang sedang membuat sesudungon (rumah sementara) di kebun karet.

Tanpa berpikir panjang lagi, Abdi bersiap bersama Vian. Hanya tinggal mengenakan sepatu karena jaket memang sudah terpasang di badan. Rintik hujan masih mengguyur, angin malam menggigit tulang. Motor lapangan andalan Warsi, trail, keluar kandang. Jalan setapak tentu saja licin, mereka harus berhati-hati. Mangku Mbalai dan @@@ beboncengan lebih dulu. Mereka yang hanya bercawat itu sebagai penunjuk jalan. ”Sikuk e’jam lah sampoi tanoh peranok’on (satu jam sudah sampai di lokasi untuk perempuan melahirkan),” ujar kawan Mangku saat masih di rumah pak Jul.

Setelah Vian dan Abdi pergi, aku balik ke peraduanku. Hanya tidur ayam karena memang ternyata tidak bisa nyenyak lagi. Lebih dari dua jam kemudian, lamat-lamat kudengar suara motor dari kejauhan. Suaranya makin dekat. Benar, Vian dan Abdi kembali.

”Sudah keluar ari-arinya?” tanyaku sesaat mereka masuk rumah Pak Jul kembali. Feri ikut terbangun lagi.

”Apa-apaan Mbak, Orang Rimba tuh! Masak kita diminta datang tapi di sana nggak boleh nolong!” kata Vian. Nadanya bercampur amarah yang tertahan. Abdi yang memang pendiam diam saja, seperti biasanya.

”Mukanya sudah sangat pucat, kayak mayat. Tapi…apalah…Aku bahkan tidak boleh dekat-dekat. Untuk apa lah aku diminta kesana?! Malam-malam begini pula. Nggak habis pikir aku! Adat, adat! Adat kok taruhannya nyawa! Sudah gila orang itu!” Vian benar-benar kesal.

Vian adalah laki-laki. Sekalipun ia seorang lokoter. Dalam adat Orang Rimba, laki-laki tidak boleh menolong perempuan melahirkan. Dari arah bawah (vagina) saat perempuan terbujur hanya boleh dilihat suaminya dan anak-anak yang belum akil baligh. Vian, laki-laki hanya boleh melihat dari arah atas (kepala). Oleh sebab itu ia sangat tahu persis kondisi perempuan yang telah melahirkan tiga orang anak itu sangat kritis. ”Ora ono ekspresi kelaran (tanpa ekspresi wajah kesakitan) tapi bibirnya sampai sudah pecah-pecah ngampet sakit, Mbak. Aku yakin mesti lara banget (pasti sakit sekali)!”

Entah dalam berbagai macam rasa, kami, juga Pak Jul mencoba untuk terlelap kembali. Belum juga kantuk itu hilang, suara motor dari kebun karet semakin terdengar. Pintu rumah Pak Jul diketuk kembali. Dua orang yang tadi menjemput Vian datang untuk kedua kalinya.

Kalu ake hopi boleh bentu betina iyoi, idak usah jomputkeh (kalau aku tidak boleh menolong perempuan itu, aku tidak usah dijemput!” kata Vian agak kasar, bercampur bahasa Melayu.

Bersitegang. Mangku Mbalai merasa bersalah. Dalam hujan yang berangsur mereda, Abdi dan Vian kembali lagi ke sesudungon Rombong Marituhan. Mereka berdua diikuti Mangku dan kawannya yang kulupakan namanya. Entah sekian jam kemudian, Vian kembali dengan amarah yang makin memuncak.

Saran Pak Jul, sebaiknya mencari bidan desa. Ia seorang perempuan. Berbacu dengan waktu, bersama pak Jul yang diboncengkan Abdi dan diikuti motor Mangku, berempat mereka bergerak ke rumah bidan desa. Tak begitu lama mereka kembali. Tangan kosong. Bidan tidak berada di tempat.

Berpikir lagi. Percuma pergi masuk ke dalam lagi jika tidak boleh menolong. Semakin tidak jelas kondisi dan tindakan yang akan diberikan. Para rerayo tetap bersikukuh, adat tidak boleh dilanggar sekalipun nyawa perempuan itu menjadi taruhannya.

Pak Jul dan Abdi entah pergi kemana lagi. Kepergian mereka jauh lebih lama. Ternyata ke desa lain, hingga ke Desa Pematang Kabau. ”Biasa kalau libur dia pulang,” tukas Pak Jul. Pulang, pulang ke kota seperti dokter dan perawat puskemas, serta pejabat-pejabat yang ditugaskan ke desa pelosok.

”Mau tak mau Mbak Ninuk harus ikut. Kuajari,” kata Vian. Ia mempraktekkan padaku cara membuka rahim. Dua jari, jari telunjuk dan jari tengah berjajar, diluruskan. Lalu ketika sudah masuk rahim, pelan-pelan jariku dibuka sehingga membentuk huruf V. Lalu pelan-pelan ditarik, kini tiga jari yang dimasukkan, direnggangkan. Begitu terus sehingga semua jari bisa masuk, lalu ari-ari ditarik keluar dari dalam rahim.

– – –

Ibu muda masih tanpa ekspresi. Ia yang kemarin siang masih memanggul manau (rotan) dari dalam rimba hingga ke desa telah mengalami keguguran. Nyawanya hampir terenggut oleh adat yang diyakini benar. Tidak setetespun keluar airmata. Tahukan kamu mengapa?

Betina kelapaiyon hopi bulih meratop sebab bikin jenton kememaluon. Betina kelapaiyon meratop samo bae nye betina kuloy, jedi nye dicampok lakinye (Perempuan saat melahirkan tidak boleh menangis karena membuat suaminya malu. Jika saat melahirkan ia menangis berarti ia perempuan yang lemah, makanya ia dicerai suaminya)” kata nenek pada waktu aku fasilitasi pendidikan pada anak-anak rombong Ninjo Bepak Betenda, Sungoi Toruyon.

Biak setengah mati, nye ndok mati, betina yoya piado bulih meratop (Biarpun setengah mati rasanya, atau bahkan mau mati sekalipun, perempuan saat melahirkan tidak boleh menangis),” tambah induk Penganten.

Pada ibu muda yang kuyakin lebih muda dariku itu, lebih baik rerayo (para orang tua, perangkat adat) berdebat adat daripada menyelamatkan nyawa seorang perempuan yang berjuang agar banyinya tetap selamat. Vian, lokoter yang laki-laki itu seakan tidak berguna keberadaannya. Ia tidak lebih dan tidak berkurang seperti halnya perempuan kelapaiyon yang tengah mengerang nyawa itu.

2006–

Iklan

4 Komentar

  1. naribungo said,

    6 April 2010 pada 6:11 am

    sisi hitam dari sekian kebijakan yg ada di orang rimba

  2. febbie said,

    1 April 2010 pada 4:37 am

    kisah yang tragis
    begitulah org pedalaman
    sedih
    miris

  3. naribungo said,

    1 April 2010 pada 3:53 am

    yup silakan

  4. gitaditya said,

    31 Maret 2010 pada 10:42 am

    mbak, aku hampir nangis bacanya..
    aku ijin nerusin cerita ini ke beberapa teman-temanku boleh ga?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: