pasar malam


“Kalau lihat tenda-tenda biru seperti itu jadi ingat waktu mengungsi siap tsunami dulu,” kata bang Tapoen tadi pagi. Wajahnya hanya berpaling sebentar ke sebelah kanan, kemudian memandang lurus kembali mengendalikan stir mobil. Pandanganku ke sebelah kanan pada tenda-tenda juga hanya sekilas. Mobil meluncur berlahan dari arah Lhok Ketapang ke Jambo Apha.

Sejak dua tiga hari lalu (aku lupa kapan persisnya), beberapa lelaki sibuk membersihkan tanah lapang yang biasanya digunakan anak-anak bermain sepak bola di sore hari. Lokasinya persis di pinggir pantai. Nyiurnya masih lumayan banyak. Perkiraanku lebih dari dua buluh batang. Ada areal yang lapang tapi tidak lebih dari satu hektar biasa digunakan siswa berolahraga di pagi hari. Oleh para lelaki itu, beberapa batang pohon kelapa sengaja ditumbangkan agar tenda stan dagangan bisa berdiri lebih rapi.

Keramaian mulai terlihat saat sang surya mulai beranjak tenggelam di laut. Ramai yang tidak biasa di kota yang dulu terkenal dengan industri pala ini. Muda-mudi, anak, orang tua, laki-laki perempuan merapat ke areal yang disebut Pasar Malam. Berada di rumah yang kutempati bersama teman-teman, lalu lalang sepeda motor terdengar lebih riuh dari hari biasa. Jika focus mendengarkan, pekak juga telinga yang hanya dua ini.

Sore kemarin, sengaja kutemani Roy yang kuundang untuk menikmati pisang goreng. Maklum, teman yang suka memanggil dirinya sendiri ”Anak Muda” inilah yang mengunduhkan pisang di halaman belakang. Sambil ngopi mix (bukan ngiklan) tanpa tambahan gula dan pisang goreng anget, obrolan di halaman depan terasa klop. Kereta lalu lalang. Lama-lama ternyata membuat kepalaku kliyengan juga. ”Nggak usah nengok kanan-kiri kak, pandang lurus aja biar nggak pening,” gitu saran Anak Muda.

Dari jalan utama Meulaboh-Tapaktuan, tenda-tenda warna biru dan orange terpasang berjajar, berhadapan mengelilingi lapangan. Yang kulihat sementara ini, dari jarak puluhan meter hanya baju, gula-gula (aku lupa namanya) yang berwarna merah muda. Di pinggir jalan dekat lokasi parkir, pedagang bakso yang sekaligus menjual mie goreng, sate, dan martabak telor masih sepi pembeli. Di tengah-tengah area, komedi putar terpasang gagah. Ukurannya lebih kecil dari komedi putar yang ada di Alun-Alun Utara Keraton Sala, saat acara sekaten digelar. Begitu pula dengan tong setan yang ada di sisi sebelah kiri (dilihat dari jalan), ia lebih kecil ukurannya.

Rabu malam kemarin, Ida mengajak untuk jalan-jalan ke pasar malam pada malam Jumat. ”Sekedar refreshing aja, Nuk, nggak beli nggak papa. Kan besoknya (Jumat) kita libur tuh, jadi bisa bangun siang,” dengan suaranya yang khas. Serak. Tapi entah apakah nanti malam ia jadi mengajakku atau tidak.

Saat perjalanan pulang dari Jembess Kofa (Kota Fajar), bang Asri cerita. ”Bisa kalau mau naik komedi putar. Kuat dia, Da. Semalam saya naik. Anak saya minta naik, Mbak, jadi tidak mungkin saya lepas sendiri,” kisah bang Asri padaku dan Ida. Ida tertawa ngikik.

Iya juga, sekali-kali jalan-jalan menikmati keramaian kota kecil ini. Toh keramaian pasar malam tidak selalu ada. Seingatku, tahun lalu ketika menjelang Maulid Nabi juga tidak ada acara seperti ini.

Ok Da, kutunggu janjimu….

Masih di kantor, 17.09 (25/02/2010)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: