Pantai Panjang Pada Nyepi Pagi


Kene udan. Piye (Di sini hujan. Bagaimana)?” begitu tulis pak Dar di layar hpku.

Ya, pagi tadi memang hujan sempat mengguyur Tapaktuan, Aceh Selatan. Aku sadar kalau hujan turun saat kubuka jendela kamarku. Gemericiknya tak begitu kentara, tersamar oleh gesekan daun-daun mangga yang tersapu angin usai subuh.

Ida sudah siap ternyata, bahkan ketika aku belum cuci muka sekalipun. Wangi sabun yang masih lekat ditubuhnya sempat tercium hidungku saat kami berpapasan di ruang tengah.

Kusms kak Mar, jawabnya, ”Di Gunung Durian hujan grimis. G tau ya di Air Pinang.” Tak berapa lama, pak Dar sms lagi, “Tunggu yo, dijemput.” Benar, hanya selang beberapa menit pak Jono sudah di depan mess putri Lhok Keutapang. Bersama pak Jono, kak Fatma, dan Ida, kami berangkat ke mess cowok, Jambo Apha.

– –

Jam entah di hp siapa yang terletak di meja mess putra menunjukkan pukul 7.20 menit Diantar Pak Jono, driver sekaligus pemilik travel, aku, pak Dar, mas Windi, mas Isur, kak Fatma, Ida, kak Mar, dan si anak muda Oey meluncur dari Tapaktuan menuju Terbangan. Waktu menuju Terbangan dari Tapaktuan tidak lebih dari setengah jam.

“Jauh….” Begitu kata Ida saat mobil memasuki jalan lurus Ujung Bate-Kota Fajar.

“Tiga kiloan nih,” tukas pak Jono mengukur jarak yang akan kami tempuh dari Terbangan menuju Pantai Desa Air Pinang.

Pak Dar, sang navigator mengarahkan pak Jono masuk ke Terbangan, kelokan ke arah kanan. Otakku menyebut ke arah selatan. Jalan kampung belum beraspal. Lebih masuk lagi, di sisi kanan kirinya dibangun pondasi. Ada satu lokasi tak lebih dari satu hektar di sebelah kiri bertanah rawa. Tumbuhannya mirip pohon sagu muda, aku kurang tahu namanya. Pohon-pohon itulah yang juga tumbuh di antara pohon bakau. Mungkin PNPM membangun pondasi tersebut agar jalan menuju pantai itu tidak tergenang air kala hujan tiba.

Sampai pinggir pantai, enam lelaki bergerombol. Masing-masing membawa sepeda motor yang di jok belakangnya terdapat keranjang ikan. Lagi-lagi aku mengira-ira, mereka menunggu nelayan pulang dari laut.

Nama dariku

Langit tak begitu cerah kala kaki kami mulai menjejakkan tanah hitam pantai panjang. Ah, sebenarnya aku hanya mengarang saja nama pantai ini. Dulu pernah kutanyakan namanya pada pemilik warung makan di ujung jalan, di atas pantai panjang ini. Tapi dia malah tertawa, lalu berkata ”Tak tau juga kak apa nama pantai ini.”

Kunamai pantai panjang karena memang dia memanjang terlihat hingga Kuala Ba’u, Kota Fajar. Kalau hitungan kilo, nggak usah ditanyakan, aku kurang tahu. Dari ujung jalan kelokan dekat longsoran, Kuala Ba’u terlihat setitik besarnya. Fotonya yang kuambil beberapa waktu lalu dari jalan aspal, jauh di atas pantai, akan kuperlihatkan juga padamu.

Cantik! Pantai ini tak kalah dengan pantai panjang yang ada di Bengkulu. Meski tidak berpasir putih, pinggiran pantainya menawarkan kesejukan. Cemara ditanam beribu batang. Semakin dekat ke pantai, cemaranya semakin muda. Menurut cerita teman-teman yang asli Tapaktuan, cemara-cemara itu ditanam usai tsunami terjadi di Aceh. ”Project BRA,” kata pak Dar.

’Di atas’ cemara, bukit-bukit menjulang sedikit berkabut, berderet hingga ujung pelabuhan Tapaktuan. Pada beberapa lokasi, bukit-bukit itu tampak perkasa dengan benteng batu alam. Batu-batu itu pula yang terlihat seperti terbelah kala melewati jalan ular arah Ujung Bate-Tapaktuan. Di kelokan-kelokan ular inilah, pemakai jalan harus ekstra waspada, terlebih saat musim hujan disertai angin kencang.

Sayangnya, pantai panjang Tapaktuan ini tidak dikelola menjadi tempat wisata. ”Orang sini takut kalau jadi tempat wisata banyak orang maksiat, Mbak. Orang sukanya nyalahin orang datang berwisata. Padahal tidak ada orang berwisata saja banyak juga yang berbuat maksiat. WHnya saja ketangkap warga saat lagi maksiat. Di kantor pula!” ujar bang Asri saat mengantarku ke desa dampingan.

Kesan pantai panjang ini ya apa adanya. Akan lebih terlihat lagi kala kaki kita menapakinya di pasir pantai nan lembut itu. Maksudku apa adanya ya memang tidak ada resort atau pengelolaan layaknya tempat wisata. Hanya satu dua warung makan, seperti di Ujung Bathe, Air Pinang, atau di pojokan-pojokan jalan di atas laut. Jari kita masih sisa jika menghitungnya. Menunya sama, mie instant!

Balik pantai lagi. Pak Dar menyebutknya Gunung Terbang. ”Karena ia terpisah dari bukit-bukit yang lain. Makanya, tempat ini juga disebut Terbangan. Itu karena ada gunung ini,” kata ’ahli peta’ yang mantan wartawan ini.

Gundukan tanah itu tak terlalu tinggi, sekitar 200 meter saja. Pak Dar sudah mengajak lagi untuk menaikinya suatu saat. ”Rute pendek tuh. Lumayan kalau cuma untuk cari keringat.”

Mas Isur mulai gresek. Apa ya bahasa Indonesianya? Ah, kayak pemulung lah… Satu persatu kelapa yang telah bersih dari serabutnya diambil, digoncang-goncang, lalu ditengok pada lubang kecilnya.

”Buat krecek-krecek!” istilah Jawa lagi. Yup, ia memang masih getol mencari barang-barang yang bisa digunakan sebagai alat musik. Maklum, beban pekerjaan yang luar biasa harus diimbangi dengan hiburan yang menyegarkan. Tak perlu menyebutnya memadai. Cukup dengan apa yang ada pun jadi.

Anak muda ’Oey’ tak mau kalah. Ia mengeruk isi dalam kelapa yang masih tersisa dengan sebatang kayu. Sembari berjalan, jika dinilai bagus untuk dibuat alat musik, kelapa mini itu dibawa. Kurang ajarnya, tas kak Mar jadi sasaran. Dititipkannya kelapa-kelapa yang dimakan tupai itu di tas kak Mar. Seperti biasa pula kak Mar tidak berani menolak.

Laut tidak menerima sampah

Dari kejauhan, mas Isur dan Si Anak Muda tampak celinguk’an. Padahal di tangan masing-masing tengah memegang kelapa. Mereka sangat dekat dengan pohon cemara yang ditanam berderet di sepanjang pantai itu. Pak Dar mendekat. Akhirnya aku juga pengen tahu.

Iki tapak penyu,” jelas Pak Dar. Lalu mereka bertiga balik arah mengikuti jejak kaki yang diduga penyu. Lebih dari 100 meter mereka mengikuti, kemudian balik lagi. Jejak kaki itu menuju matahari terbit. Mungkin saja semalam ia datang.

Kata pak Dar, jika orang akan cari penyu, ya di pantai panjang ini. ”Banyak,” katanya.

Selain di pantai panjang ini, aku kerap ’mencari’ penyu yang terhuyung-huyung riak ombak di dekat Tempat Pelelangan Ikan. Tiap sore, mereka selalu tampak hilang timbul di antara gelombang.

Susur pantai kali ini sedikit terganggu dengan pandangan mata menyapu pantai. Sampah-sampah bertebarang dimana-mana. Botol air mineral, bungkus mie instans, hingga bekas pasta gigi ada di sini. Setahuku, orang-orang Tapaktuan dan sekitarnya memang lebih suka membuang sampah di sungai yang berhilir ke pantai. Wajar saja jika pantai ini menjadi tong sampah panjang.

Ya, pantai menjadi tong sampah panjang. Sebab, ”Laut tidak menerima sampah. Laut akan mengembalikan sampah ke darat. Kalau orang membuang sampah ke laut, ia akan menolaknya lagi. Makanya pantai menjadi kotor,” papar kak Mar yang orang asli Tapaktuan.

Areal yang bersih ternyata tidak hanya bisa dinikmati manusia. Beberapa ekor kerbau, empat diantaranya bertubuh bule, tengah menikmati pagi dengan berjemur. Tampak nyaman untuk tubuh mereka yang masih enggan beraktivitas. ”Aih, seperti bule-bule aja, senang berjemur di pantai.”

Mereka mengamati kami saat kami melintas. Kak Mar juga tak mau kalah untuk mengambil gambar melalui kamera ponselnya. Tak jauh dari gerombolan kerbau, anak-anak bermain sepakbola di antara celah sungai dan laut. Asyik juga kelihatannya. Penontonnya yang juga anak-anak tak kalah asyik, menonton sambil tengkurap di pasir yang kering. Pak Dar tak mau kalah, ”Yak, baju biru menggiring bola ke arah lawan, diikuti baku kuning. Yak yak goallllll…..”

To Foto…

Satu lokasi yang terlihat mengerikan kala ada di dalam mobil, saat melintas di jalan aspal atas pantai adalah lokasi longsoran. Dulu, awal kudatang ke kota yang pernah jaya dengan pala ini, longsoran semakin membesar di satu lokasi. Setelah ditanggul beton, longsoran bergeser ke tempat lain. Kali ini hanya berjarak sekitar 20 meter dari jalan yang kuceritakan, bisa melihat view cantik pantai panjang.

Proyek yang memakan biaya besar itu adalah memotong batu-batu bukit di sisi jalan yang terdapat longsoran. Pengerjaannya memakan waktu hingga berbulan-bulan. Setelah pemotongan batu, di lokasi longsoran dibuat bronjong batu berundak. Entah berapa meter kubik batu ditata di pantai untuk menyangga jalan longsor itu. Pengerjaannya belum selesai, sebab pada bagian atas bronjong masih nampak bekas longsoran.

Mengerikan, sekaligus indah dilihat. Mobil-mobil tampak berseliweran dilihat dari bawah. Waw, tinggi juga! Kesempatan yang tidak disia-siakan untuk berpose, bergaya layaknya foto model. ’Tukang fotonya’ ada empat, lalu satu persatu bergabung dengan para model. Jadilah tinggal mas Isur yang jadi tukang foto.

Jalan pagi susur pantai panjang Terbangan-Air Pinang hanya berkisar satu setengah jam. Sesi foto-foto sendiri memakan waktu sekitar setengah jam. Pak Jono yang menunggu di Air Pinang hanya tertawa saat kami bercerita aksi foto-foto kami.

Selasa, 16 Maret 2010 à 20.21

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: