Apa ini yang disebut trauma?

Sudah dua jam aku terjaga dari tidurku. Kupejamkan mata sejak lalu, tapi isi kepalaku serasa tak mau lagi terlelap. Ketika setengah berlalu, otakku berkata untuk “Ayo terjaga! Awas!”

Sejak bumi menguncang di seputar Simeulu beberapa hari lalu (7/4), tidurku tidak senyaman hari-hari sebelumnya. Jika dikatakan takut terjadi goncangan lagi, barangkali saja iya. Hingga hari ini, aku merasa sangat beruntung karena terjaga sebelum gempa. Jika tidur layaknya orang mati, entahlah. Mungkin teriakan teman-teman serumah inipun tak kugubris dalam tidurku. Persis pada awal-awal aku tinggal di rumah ini, gempa yang terjadi hanya kukira mimpiku belaka. Guling masih dalam dekapanku sekalipun kaca jendela bergetar berbarengan dengan bunyi tembok yang terguncang.

Pagi ini, katak pun berkata padaku untuk segera melanjutkan tidur lagi. ”Anjing telah terlelap. Sebab alam tidak memberikan tanda-tanda bahaya padanya” Huh, mengapa aku tidak juga bisa menerima bujuk rayu katak-katak yang bernyanyi itu?!

Sehari setelah gempa yang menurut BMKG berkekuatan 7,2 skala Ricther itu, goncangan kecil masih terasa. Tak seberapa, hanya beberapa detik saja. Kalau sudah begitu, fantasiku berulang lagi ke masa lampau. Gempa dan tsunami Aceh!

Ketakutkan berlebihan yang membuatkuehilang akal. Mungkin juga ketakutan yang sama di masing-masing kepala orang-orang Banda Aceh, Singkil, Meulaboh, juga Tapaktuan yang lari tunggang langgang ke gunong (bukit) mencari tempat aman.

Ida menangis saat bicara di telpon dengan saudara-saudaranya di Meulaboh, isu tsunami bertubi-tubi datang dari mana-mana. Padahal di siaran televisi, BMKG telah mencabut status berpotensi tsunami. Jika saja tidak kehilangan akal, saat anak-anak sekolah di Tapaktuan dibubarkan oleh gurunya, isu tsunami itu telah kadaluarsa. Hilang akal, karena ketakutan itu memang tak masuk akal. Gempa telah terjadi beberapa jam sebelumnya. Lokasi gempa pun sangat dekat. Kalaupun terjadi tsunami, tentu saja beberapa menit saja setelah gempa. Orang berbondong-bondong naik gunung padahal jam telah menunjukkan pukul 11 siang, sedangkan gempa terjadi sekitar pukul 5.15.

Akalku buntu pagi ini. Aku tetap tak bisa tidur. Padahal aku tidak lagi mengenakan sarung. Ya, sejak gempa terjadi aku sangat takut tidur mengenakan kain sarung yang membuat nyaman perutku.

Kali ini aku hanya berharap, gempa tak datang kala kuterlelap. Gempa datang di daerah yang tidak ada makluk penghuninya seperti sajak Arswendo Atmowiloto.

Ahkkkk, menguap….

02.49

Iklan

mengapa angka romawi dipelajari di matematika?

Dalam perjalanan dari Tapaktuan menuju Menggamat, Kluet Tengah, mas Zainuddin yang akrab dipanggil pak Zen bercerita sekaligus ngudoroso. Ia bercerita, tadi pagi anaknya yang tinggal di Jogya menelponnya. Anak SD itu menanyakan pertanyaan yang hingga sore ini tidak dapat dijawab oleh ayahnya.

Bahkan kata pak Zen pada anak semata wayangnya itu hanya begini, “Jaman Ayah biyen ramikir tekan semono e le. Dadi Ayah yo ora sempat takon karo gurune ayah biyen (Waktu Ayah –sekolah- dulu nggak pernah memikirkannya sampai di sana. Jadi ayah juga tidak sempat menanyakan pada guru ayah dulu).”

Pertanyaan putra pak Zen ini hanya singkat saja,” Ayah, mengapa angka romawi itu diajarkan di pelajaran matematika? Kan hanya hafalan, tidak masuk hitungan yang tinggi-tinggi dan hitungan itu sangat jarang dipakai. Mengapa ia tidak masuk di pelajaran IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) atau sejarah saja? Wong Cuma hafalan kok masuk ke matematika?”

Nah, yang jadi persoalan, menurut cerita pak Zen, adalah lebih pada angka-angka itu sangat jarang digunakan oleh kita. Ia tidak seperti sistem bilangan desimal yang memang sangat akrab dan digunakan setiap waktu. Yap, paling-paling hanya untuk bab buku, jam. Aku sendiri, sama dengan pak Zen, tidak sempat dulu memikirkannya. Barangkali saja Anda bisa membantu pak Zen untuk menjawab pertanyaan yang diajukan anaknya.

Goyang Bumi Sebelum Subuh

Jangan pernah bilang, “Dasar Anjing!” sebab dialah yang membuatku terjaga sebelum bumi mengeliat

Brkgbrrgkrrrr…. Badanku yang baru saja ganti posisi tiba-tiba bergoncang-goncang tanpa bisa kukendalikan. Refleks, aku bangun dan lari menggedor-gedor pintu kamar Farida yang berisi Yitra. “Gempa Cik, Gempa!”

Mbak Rita, mbak Elis, mbak Nur, Ida bersamaku lari ke luar rumah, terpisah dalam dua kelompok. Cicik Yitra ternyata ikut mbak Rita dan Ida ke pintu depan, sedangkan mbak Elis dan mbak Nur bersamaku lari ke kebun belakang rumah. Bunga-bunga pohon mangga berayun seperti digeber angin kencang lebih dari satu menit lamanya. Takut, cemas, pikiran macam-macam. “Jangan-jangan….”

Jika tidak salah persepsi, goyang pagi ini sebenarnya sudah ditandai oleh gonggongan anjing milik tetangga. Sebelum bumi, tepatnya di Sinabang, bergoncang 7,2 skala Richter, anjing-anjing itu ribut. Ia yang kerap memberi tanda jika ada tanda-tanda alam, menggonggong bahkan sebelum orang mengaji sebelum subuh.

Sepantasnya, aku berterima kasih pada anjing-anjing itu. Mereka telah membangunkanku sebelum gempa datang dengan “Guk! Guk! Guk!…” Juga meminta maaf padanya karena sebelum gempa, aku memaki dia dalam kantukku.

Setelah situasi tenang, aku balik ke lantai atas. Tak berapa lama, Cicik Yitra mengikutiku untuk kembali ke peraduan. Tiba-tiba hp berbunyi, pesan singkat tertulis, “Potensi tsunami, 7,2 episentrum sinabang. Siaga” Yup, jarak Sinabang dengan Tapaktuan, tempatku berteduh sekarang, memang tidak terlalu jauh.

Waduh! Spontan lari lagi ke bawah. Ternyata mbak Elis mendapat pesan yang sama. Mbak Rita mengatakan, ”Siap-siap….”

Entah siapa yang menyetel tv, meski bukan acara berita. Inisiatifku untuk mengganti ke program berita. Uh, ternyata aku salah pilih stasiun tv. Berita pagi yang kami tonton malah membuat aku deg degan, lebih dari kejadian gempa yang baru saja terjadi. Meski akhirnya kami malah menjadi komentator bagi si pembawa berita.

Si pembawa berita yang berdua itu mengatakan bahwa sudah ada rumah retak akibat gempa yang baru saja terjadi. Lokasinya ada di Banda Aceh. Lalu dia mengatakan bahwa Banda Aceh memang sangat dekat dengan pusat gempa. ”Bodoh, buta peta dia! Tadi sudah disebutkan reporternya kalau lokasinya jauh dari Banda Aceh” komentar salah satu dari kami.

Menurut berita, gempa berentetan sampai empat kali. Dari Sinabang hingga ke Singkil. Kalau kamu pengen tahu tepatnya dimana, buka saja peta. Dua hari lalu, mbak Rita mengatakan, dalam tanggal antara 5-11 bulan ini ada prediksi gempa di pulau Sumatera. Mbak Rita mendapatkan informasi dari group anak-anak tahan bencana di facebook.

Ingatanku jadi kembali ke perbincanganku sore kemarin dengan mbak Elis. ”Orang desa kita beri tas siaga bencana, tapi kita sendiri malah nggak punya ya, Mbak?”

Mbak Elis bilang, baru akan dipesan untuk staff yang mau memesannya. Pikir-pikir, dalam kondisi alam yang masih tak menentu seperti sekarang, punya tas siaga bencana perlu juga. Jika memang alam mendesah, tas siaga tinggal di rangkulkan di pundak. Dari obat-obatan, selimut, makanan-minuman, korek api, alat makan, hingga plastik untuk tenda sementara bisa masuk dalam satu tas.

Ya, meskipun kita tak pernah berharap gairah alam atau rusaknya alam akibat ulah manusia, akan mendatangkan bencana. Tapi, siaga bencana itu penting dan perlu.

Aku begini adanya…

Seorang perempuan muda tiba-tiba ‘mampir’ ke rumah saat aku menyapu lantai teras. Dibelokkan langkahnya ke pintu pagar, meskipun awalnya ia seperti hendak berjalan arah lurus. Tas berukuran besar yang disandangnya diletakkan sebentar saat ia membuka pintu pagar.

“Assalamu’alaikum, Dik. Ibu ada Dik?” tanyanya padaku. Sapu kusandarkan di dadaku. Tas warna biru berbahan jeans yang hanya beberapa detik disandangnya kembali diturun dari bahunya. Wajah perempuan berjilbab hijau ini tampak kelelahan.

”Ada ibu di rumah, Dik?” tanya dia lagi. Ah, iya, aku tadi hanya menjawab salamnya, bukan pertanyaannya.

”Ibu?” tanyaku balik. Tidak juga menjawab pertanyaannya.

”Yo, ibu yang punya rumah?” logatnya bukan Jamee (Minang). Entah dia dari mana.
Aku tidak juga menjawab pertanyaannya. Lalu ia menyahut lagi, mungkin jengkel karena aku tidak juga mengerti pertanyaan yang dimaksudkannya.

”Ibu, nyonya rumah. Tuannya adik.” Alamak!

Antara kesal dan geli, kukatakan kalau ibu pemilik rumah tidak ada. Aku tidak berusaha membohonginya aku, wong memang si pemilik rumah yang kami pakai untuk mess ini, tidak ada di sini sekarang. Rupanya, ia tak patah arang.

Perempuan berkulit coklat gelap ini malah jongkok. Belum juga ia membuka tasnya, kukatakan kalau aku tidak akan beli. Otakku mengingatkan untuk segera menyelesaikan sapu debu. Masih ada yang harus kukerjakan lagi usai menyapu. Ngepel!

Dua kali sudah aku dikira pembantu atau pekerja rumah tangga di rumah ini. Waktu lalu, laki-laki pedagang hiasan dinding juga menanyakan hal yang sama. Bahasanya saja yang berbeda. Jika pedagang perempuan tadi menggunakan istilah nyonya rumah, lelaki pedagang bertubuh kurus dan lebih pendek dariku menanyaiku, ”Ada ibu majikan di rumah, Dik?”

Padahal, pagi itu aku telah mengenakan ’seragam kantoranku’, celana panjang dan T-Shirt berlipat licin setrika. Memang, saat laki-laki itu berhenti di seberang pagar, aku tengah menyapu daun-daun mangga yang telah tergeletak mengering di tanah. Sembari menunggu bang Tapoen atau bang Asri yang menjemput kami.

Laki-laki itu tersipu ketika kusapa, saat aku masuk mobil bersama teman-teman seraya menenteng tas ransel.

Dilempar uang
Matahari Department Store kota Jambi menjadi tempat ’favorit’ nongkrong usai aku dan teman-teman melakukan fasilitasi di wilayah dampingan, dari tingkat kabupaten hingga tengah rimba. Boleh dibilang setelah berminggu-minggu di wilayah dampingan, menyambangi toko menjadi hiburan kami melepas kepenatan. Bahkan ketika Pizza Hut dibuka di gedung yang sama, hingga lebih dari satu tahun kemudian para karyawannya sangat akrab dengan kami. Bagaimana tidak wong setiap bulan kami selalu makan pizza di sana.

Suatu ketika, aku dan mbak Ulis seperti bulan-bulan sebelumnya cuci mata cuci dompet di areal fashion di Matahari. Kuingat, usai belanja baju, mbak Ulis yang sangat suka belanja ’daleman’ mengajakku memilih-milih bra. Kena juga aku oleh rayuannya untuk membeli. Kupilih bra seharga Rp 29.900. Harga yang tanggung ketika kubawa ke kasir.

Uangku 50 ribu rupiah hanya diberi kembalian 20 ribu. Rp. 100 lagi kutanyakan pada ayuk di penjaga kasir. Saat kutanyakan, si ayuk bersikukuh mengatakan tidak ada uang seratusan rupiah. Bahkan, di mulutnya sempat keluar kata-kata yang tak pantas diucapkan pada pelanggannya.

Mbak Ulis ngeyel, ”Kalau nggak ada masak trus diam aja. Nggak dikembalikan? Kan Rp. 100 pun hak kami untuk dikembalikan, Yuk.” Kutarik mbak Ulis untuk menyudahi kekesalannya.

Saat kami berlalu, ”Klinthing…” uang seratus rupiah itu dilemparkan ke tubuhku. Logam itu mengenai kaki kananku. Uang itu diambil mbak Ulis. Secepat kilat mbak Ulis balik ke kasir, sedangkan aku mengikuti dari belakang. Saat ditanyai maksud pelemparan uang itu, si ayuk kasir bersikukuh, ”Hanya buang sial aja.”

Mungkin ayuk penunggu kasir itu tidak akan pernah melupakan kejadian itu seumur hidupnya. Usai kejadian itu, somasi kami layangkan ke kantor Matahari pusat (Jakarta). Direktur wilayah Jambi yang ternyata orang Sunda sibuk mencari kami karena mendapat peringatan keras dari Pusat.

Kepala bagian HRD yang sempat kami temui pun, kata sang direktur, sempat kena dampratnya juga. Selain tidak mencatat keluh kesah kami, ia juga sama sekali tidak mencatat alamat atau nomer kontak kami. Ah, jangankan mencatat, menanyakan nama kami pun tidak. Ia pun berbicara dengan nada merendahkan. Mungkin karena aku dan mbak Ulis hanya bersandal jepit swallow.

Dalam meeting pagi, si ayuk dan kepala HRD itu meminta maaf kepada kami di hadapan semua staf MDS Jambi. Si ayuk kasir juga berpamitan pada kawan-kawan. Pembelajaran yang ditangkap kawan-kawannnya, jangan pernah menganggap remeh pelanggannya. Aku tidak pernah tahu apakah mereka dipaksa keluar atau mengundurkan diri.

Namun, kejadian serupa berulang lagi pada mbak Ulis beberapa bulan kemudian. Ia dipermalukan di muka umum dengan tuduhan mencuri saat berbelanja di supermarket toko yang sama. Setelah somasi lagi-lagi dikirimkan ke pusat, karyawan ’berpenampilan menarik’ itu akhirnya dinyatakan keluar dalam acara permohonan maaf di hadapan seluruh karyawan.

Kuingat betul nasehat kepala bagian supermarket pada karyawannya pagi itu. Bahwa mereka tidak boleh menilai pelanggan dari penampilan luar. ”Tak disangka adik-adik ini datang jauh-jauh ingin mencerdaskan orang-orang kubu. Mereka ikut menjaga hutan Jambi agar kita orang Jambi tidak terkena bencana.”

Setelah kejadian itu, jika kami belanja atau sekedar cuci mata seantero MDS memberikan senyum termanis pada kami. Dipaksakan, mungkin juga iya.

Setiap orang, baik kakak dan laki-laki penjual hiasan dinding, para penjaga toko di MDS berhak menilai tampang dan penampilanku. Mau menyebutku PRT, ndeso, ya sumonggo, asal tidak dituduh pencuri. Penampilan dan tampangku ya memang begini adanya. Kurus, kulit legam, rambut merah meskipun tidak dicat, baju seadanya. Kan kalau termakan gerusan iklan, cantik itu putih mulus?! Cantik itu rambutnya panjang tergerai. Lha aku? Hahaha…inilah aku. Aku hanya bisa berikan senyum tulus di bibir dan mataku.