Aku begini adanya…


Seorang perempuan muda tiba-tiba ‘mampir’ ke rumah saat aku menyapu lantai teras. Dibelokkan langkahnya ke pintu pagar, meskipun awalnya ia seperti hendak berjalan arah lurus. Tas berukuran besar yang disandangnya diletakkan sebentar saat ia membuka pintu pagar.

“Assalamu’alaikum, Dik. Ibu ada Dik?” tanyanya padaku. Sapu kusandarkan di dadaku. Tas warna biru berbahan jeans yang hanya beberapa detik disandangnya kembali diturun dari bahunya. Wajah perempuan berjilbab hijau ini tampak kelelahan.

”Ada ibu di rumah, Dik?” tanya dia lagi. Ah, iya, aku tadi hanya menjawab salamnya, bukan pertanyaannya.

”Ibu?” tanyaku balik. Tidak juga menjawab pertanyaannya.

”Yo, ibu yang punya rumah?” logatnya bukan Jamee (Minang). Entah dia dari mana.
Aku tidak juga menjawab pertanyaannya. Lalu ia menyahut lagi, mungkin jengkel karena aku tidak juga mengerti pertanyaan yang dimaksudkannya.

”Ibu, nyonya rumah. Tuannya adik.” Alamak!

Antara kesal dan geli, kukatakan kalau ibu pemilik rumah tidak ada. Aku tidak berusaha membohonginya aku, wong memang si pemilik rumah yang kami pakai untuk mess ini, tidak ada di sini sekarang. Rupanya, ia tak patah arang.

Perempuan berkulit coklat gelap ini malah jongkok. Belum juga ia membuka tasnya, kukatakan kalau aku tidak akan beli. Otakku mengingatkan untuk segera menyelesaikan sapu debu. Masih ada yang harus kukerjakan lagi usai menyapu. Ngepel!

Dua kali sudah aku dikira pembantu atau pekerja rumah tangga di rumah ini. Waktu lalu, laki-laki pedagang hiasan dinding juga menanyakan hal yang sama. Bahasanya saja yang berbeda. Jika pedagang perempuan tadi menggunakan istilah nyonya rumah, lelaki pedagang bertubuh kurus dan lebih pendek dariku menanyaiku, ”Ada ibu majikan di rumah, Dik?”

Padahal, pagi itu aku telah mengenakan ’seragam kantoranku’, celana panjang dan T-Shirt berlipat licin setrika. Memang, saat laki-laki itu berhenti di seberang pagar, aku tengah menyapu daun-daun mangga yang telah tergeletak mengering di tanah. Sembari menunggu bang Tapoen atau bang Asri yang menjemput kami.

Laki-laki itu tersipu ketika kusapa, saat aku masuk mobil bersama teman-teman seraya menenteng tas ransel.

Dilempar uang
Matahari Department Store kota Jambi menjadi tempat ’favorit’ nongkrong usai aku dan teman-teman melakukan fasilitasi di wilayah dampingan, dari tingkat kabupaten hingga tengah rimba. Boleh dibilang setelah berminggu-minggu di wilayah dampingan, menyambangi toko menjadi hiburan kami melepas kepenatan. Bahkan ketika Pizza Hut dibuka di gedung yang sama, hingga lebih dari satu tahun kemudian para karyawannya sangat akrab dengan kami. Bagaimana tidak wong setiap bulan kami selalu makan pizza di sana.

Suatu ketika, aku dan mbak Ulis seperti bulan-bulan sebelumnya cuci mata cuci dompet di areal fashion di Matahari. Kuingat, usai belanja baju, mbak Ulis yang sangat suka belanja ’daleman’ mengajakku memilih-milih bra. Kena juga aku oleh rayuannya untuk membeli. Kupilih bra seharga Rp 29.900. Harga yang tanggung ketika kubawa ke kasir.

Uangku 50 ribu rupiah hanya diberi kembalian 20 ribu. Rp. 100 lagi kutanyakan pada ayuk di penjaga kasir. Saat kutanyakan, si ayuk bersikukuh mengatakan tidak ada uang seratusan rupiah. Bahkan, di mulutnya sempat keluar kata-kata yang tak pantas diucapkan pada pelanggannya.

Mbak Ulis ngeyel, ”Kalau nggak ada masak trus diam aja. Nggak dikembalikan? Kan Rp. 100 pun hak kami untuk dikembalikan, Yuk.” Kutarik mbak Ulis untuk menyudahi kekesalannya.

Saat kami berlalu, ”Klinthing…” uang seratus rupiah itu dilemparkan ke tubuhku. Logam itu mengenai kaki kananku. Uang itu diambil mbak Ulis. Secepat kilat mbak Ulis balik ke kasir, sedangkan aku mengikuti dari belakang. Saat ditanyai maksud pelemparan uang itu, si ayuk kasir bersikukuh, ”Hanya buang sial aja.”

Mungkin ayuk penunggu kasir itu tidak akan pernah melupakan kejadian itu seumur hidupnya. Usai kejadian itu, somasi kami layangkan ke kantor Matahari pusat (Jakarta). Direktur wilayah Jambi yang ternyata orang Sunda sibuk mencari kami karena mendapat peringatan keras dari Pusat.

Kepala bagian HRD yang sempat kami temui pun, kata sang direktur, sempat kena dampratnya juga. Selain tidak mencatat keluh kesah kami, ia juga sama sekali tidak mencatat alamat atau nomer kontak kami. Ah, jangankan mencatat, menanyakan nama kami pun tidak. Ia pun berbicara dengan nada merendahkan. Mungkin karena aku dan mbak Ulis hanya bersandal jepit swallow.

Dalam meeting pagi, si ayuk dan kepala HRD itu meminta maaf kepada kami di hadapan semua staf MDS Jambi. Si ayuk kasir juga berpamitan pada kawan-kawan. Pembelajaran yang ditangkap kawan-kawannnya, jangan pernah menganggap remeh pelanggannya. Aku tidak pernah tahu apakah mereka dipaksa keluar atau mengundurkan diri.

Namun, kejadian serupa berulang lagi pada mbak Ulis beberapa bulan kemudian. Ia dipermalukan di muka umum dengan tuduhan mencuri saat berbelanja di supermarket toko yang sama. Setelah somasi lagi-lagi dikirimkan ke pusat, karyawan ’berpenampilan menarik’ itu akhirnya dinyatakan keluar dalam acara permohonan maaf di hadapan seluruh karyawan.

Kuingat betul nasehat kepala bagian supermarket pada karyawannya pagi itu. Bahwa mereka tidak boleh menilai pelanggan dari penampilan luar. ”Tak disangka adik-adik ini datang jauh-jauh ingin mencerdaskan orang-orang kubu. Mereka ikut menjaga hutan Jambi agar kita orang Jambi tidak terkena bencana.”

Setelah kejadian itu, jika kami belanja atau sekedar cuci mata seantero MDS memberikan senyum termanis pada kami. Dipaksakan, mungkin juga iya.

Setiap orang, baik kakak dan laki-laki penjual hiasan dinding, para penjaga toko di MDS berhak menilai tampang dan penampilanku. Mau menyebutku PRT, ndeso, ya sumonggo, asal tidak dituduh pencuri. Penampilan dan tampangku ya memang begini adanya. Kurus, kulit legam, rambut merah meskipun tidak dicat, baju seadanya. Kan kalau termakan gerusan iklan, cantik itu putih mulus?! Cantik itu rambutnya panjang tergerai. Lha aku? Hahaha…inilah aku. Aku hanya bisa berikan senyum tulus di bibir dan mataku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: