Goyang Bumi Sebelum Subuh


Jangan pernah bilang, “Dasar Anjing!” sebab dialah yang membuatku terjaga sebelum bumi mengeliat

Brkgbrrgkrrrr…. Badanku yang baru saja ganti posisi tiba-tiba bergoncang-goncang tanpa bisa kukendalikan. Refleks, aku bangun dan lari menggedor-gedor pintu kamar Farida yang berisi Yitra. “Gempa Cik, Gempa!”

Mbak Rita, mbak Elis, mbak Nur, Ida bersamaku lari ke luar rumah, terpisah dalam dua kelompok. Cicik Yitra ternyata ikut mbak Rita dan Ida ke pintu depan, sedangkan mbak Elis dan mbak Nur bersamaku lari ke kebun belakang rumah. Bunga-bunga pohon mangga berayun seperti digeber angin kencang lebih dari satu menit lamanya. Takut, cemas, pikiran macam-macam. “Jangan-jangan….”

Jika tidak salah persepsi, goyang pagi ini sebenarnya sudah ditandai oleh gonggongan anjing milik tetangga. Sebelum bumi, tepatnya di Sinabang, bergoncang 7,2 skala Richter, anjing-anjing itu ribut. Ia yang kerap memberi tanda jika ada tanda-tanda alam, menggonggong bahkan sebelum orang mengaji sebelum subuh.

Sepantasnya, aku berterima kasih pada anjing-anjing itu. Mereka telah membangunkanku sebelum gempa datang dengan “Guk! Guk! Guk!…” Juga meminta maaf padanya karena sebelum gempa, aku memaki dia dalam kantukku.

Setelah situasi tenang, aku balik ke lantai atas. Tak berapa lama, Cicik Yitra mengikutiku untuk kembali ke peraduan. Tiba-tiba hp berbunyi, pesan singkat tertulis, “Potensi tsunami, 7,2 episentrum sinabang. Siaga” Yup, jarak Sinabang dengan Tapaktuan, tempatku berteduh sekarang, memang tidak terlalu jauh.

Waduh! Spontan lari lagi ke bawah. Ternyata mbak Elis mendapat pesan yang sama. Mbak Rita mengatakan, ”Siap-siap….”

Entah siapa yang menyetel tv, meski bukan acara berita. Inisiatifku untuk mengganti ke program berita. Uh, ternyata aku salah pilih stasiun tv. Berita pagi yang kami tonton malah membuat aku deg degan, lebih dari kejadian gempa yang baru saja terjadi. Meski akhirnya kami malah menjadi komentator bagi si pembawa berita.

Si pembawa berita yang berdua itu mengatakan bahwa sudah ada rumah retak akibat gempa yang baru saja terjadi. Lokasinya ada di Banda Aceh. Lalu dia mengatakan bahwa Banda Aceh memang sangat dekat dengan pusat gempa. ”Bodoh, buta peta dia! Tadi sudah disebutkan reporternya kalau lokasinya jauh dari Banda Aceh” komentar salah satu dari kami.

Menurut berita, gempa berentetan sampai empat kali. Dari Sinabang hingga ke Singkil. Kalau kamu pengen tahu tepatnya dimana, buka saja peta. Dua hari lalu, mbak Rita mengatakan, dalam tanggal antara 5-11 bulan ini ada prediksi gempa di pulau Sumatera. Mbak Rita mendapatkan informasi dari group anak-anak tahan bencana di facebook.

Ingatanku jadi kembali ke perbincanganku sore kemarin dengan mbak Elis. ”Orang desa kita beri tas siaga bencana, tapi kita sendiri malah nggak punya ya, Mbak?”

Mbak Elis bilang, baru akan dipesan untuk staff yang mau memesannya. Pikir-pikir, dalam kondisi alam yang masih tak menentu seperti sekarang, punya tas siaga bencana perlu juga. Jika memang alam mendesah, tas siaga tinggal di rangkulkan di pundak. Dari obat-obatan, selimut, makanan-minuman, korek api, alat makan, hingga plastik untuk tenda sementara bisa masuk dalam satu tas.

Ya, meskipun kita tak pernah berharap gairah alam atau rusaknya alam akibat ulah manusia, akan mendatangkan bencana. Tapi, siaga bencana itu penting dan perlu.

Iklan

2 Komentar

  1. gitaditya said,

    8 April 2010 pada 6:08 pm

    wah, puji Tuhan tidak apa-apa. 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: