Perak Koto Gadang

Jika kota pelajar Yogjakarta punya Kota Gede, Bukittinggi yang lebih terkenal dengan Jam Gadangnya ternyata punya pusat kerajinan perak. Meskipun nama depannya hanya beda satu huruf, keduanya memiliki arti yang sama. Yap, Bukittinggi punya Koto Gadang. Koto Gadang artinya sama Kota Gede! Wew tak kukira, arti nama sama, pun pusat kerajinan yang sama.

Mulanya ibu pemilik Hotel Sari, Bukittinggi yang menyarankan agar kami juga berkunjung ke sana. Kata dia, ”Mumpung masih di seputaran Bukittinggi. Tempatnya juga sangat dekat. Naik mobil angkutan hanya dua kali dengan ongkos dua ribu sekali jalan.”

Heri yang suka bercerita pada orang-orang yang kami temui sangat antusias dengan saran si ibu. Agam Aceh ini malah mengungkapkan, ”Kalau ke sana, kami bisa melihat proses pembuatan kerajinan perak. Bukan hanya sekedar melihat hasil jadi. Orang-orang kadang lebih suka melihat hasil jadi tanpa tahu bagaimana proses awalnya. Padahal ini tidak kalah penting.”

Sepi
Rumah bercat putih memudar, serba putih plus pagarnya tampak perkasa tapi anggun. Satu pintunya terbuka. Dari jalan nampak sunyi, sesunyi jalan yang menghampar sawah pada kaki Singgalang ini. ”Ada orangnya nggak ya?” pertanyaan yang sebenarnya tak perlu dijawab. Icha yang kelelahan lesu berjalan menaiki tangga sebelum masuk Yayasan ”Keradjinan Amai Setia” souvenir center.

Sejak 1915, hampir satu abad
Di dalam rumah yang berlantai kayu kokoh hanya ada tiga orang, ketiganya perempuan. Tak tampak pengunjung lain kecuali kami bertiga. ”Sekarang orang kurang berkunjung ke sini. Orang sudah beralih dari perak ke emas. Perak tidak lagi berdaya tarik besar,” ujar kak Yeti.

Lemari demi lemari kusinggahi. Saat melihat cincin batu akik, bibirku mengembang. Batunya besar menutup cincin perak berukuran kecil. Aih, kalau disematkan di jariku lucu juga. Mungkin anak-anak lari ketakutan karena mengira aku seorang dukun!

Miniatur Jam Gadang dipajang dalam kotak kaca. Tinggi persis bentuk aslinya. Meski demikian, ukiran rumitnya membuatku termenung sejak. Bagaimana ya cara membuatnya? Bisa secantik ini.

rumah gadang perak

Selain jam gadang, ada pula miniatur Rumah Gadang. Ukurannya lebih besar dan tak kalah rumit. Ia dipajang di sudut antara lemari satu dengan lemari pajangan lainnya. Harganya? Aku tidak melihat kertas kecil yang menunjukkan angka rupiah di sana.

Cincin jari tangan, cincin jari kaki, anting-anting, subang, kalung hingga pernak-pernik hiasan pajangan tertata rapi pada lemari. Icha tertarik membeli gelang kaki. ”Tujuh puluh lima ribu,” kata kawan kak Yeti. Aku sendiri membeli subang dan anting. Keduanya cukup kubawa pulang dengan harga yang sama dengan gelang kaki Icha.

Saat Heri menanyakan tentang proses pembuatan kerajinan perak ini, kak Yeti mengatakan bahwa bengkel tidak ada di rumah ini. ”Dulu ada yang menggarap di sini, tapi kian sepi akhirnya di sini hanya menjadi tempat menampung hasil kerajinan. Semua yang dijual di sini adalah karya perajin di Koto Gadang,” ujar kak Yeti.

Ada sulaman juga
Icha rupanya tertarik dengan selembar kain warna hitam. Lembarannya digelar pada kayu yang mirip kaki meja. Bentuknya segi panjang. Dari jauh nampak berpinggir warna merah. Oh, rupanya kain penutup besi yang ditali oleh kain berukuran panjang dua meter itu. Hitam kain itu berhias sulaman benang emas. Cantik terlihat. Sayang, Heri ternyata tidak mengambil fotonya.

Kak Yeti memperlihatkan pada kami cara pembuatan sulaman itu. Benang warna-warni menempati posisinya masing-masing pada kayu khusus penggulung. Bentuk kayunya mirip obeng. Bedanya, ia tanpa menggunakan besi dan ujungnya tidak runcing. Sebab, pada ujung melengkung itulah benang tidak meluncur keluar liar dari penggulungnya.

lincah, teliti, sabar

Usai satu jarum pentul ditancapkan, tangan kak Yeti lincah mempermainkan tak kurang tiga belas penggulung benang. Selang-seling bergerak ke sana kemari. Gerakannya lebih cepat dari putaran jarum detik jam dinding. ’Permainan tangan’ lincah kak Yeti menghasilkan untai demi untai sulaman. Kata kakak berkulit bersih ini, ”Kuncinya Cuma harus sabar saat menyulam. Sama sabarnya dengan membuat kerajinan perak sehingga jadi indah hasilnya”

Selain kerajinan perak, yayasan ini juga menjual hasil-hasil kerajinan sulaman dari para perempuan seputar desa ini. Baju, mukena, selendang, hingga bahan kain untuk baju ada di sini. Harganya tentu juga ditentukan dari bahan kain, juga rumit tidaknya sulaman yang dihasilkan.

Ganti profesi
Heri tampak kecewa setelah turun dari rumah berplang bengkel kerajinan perak. Memang, beberapa rumah kerajinan perak yang kami singgahi sedang tidak beroperasi. Alasannya yang dilontarkan para pemilik bengkel adalah tidak ada bahan baku. Selain juga alasan semakin sepinya peminat perak pada saat sekarang.

”Jaman dulu perak kan jadi perhiasan yang dihantar pada calon pengantin perempuan. Jaman raja-raja pun juga memakai perak. Sekarang ya jarang Nak yang beli. Untuk investasi pun tak laku kan? Orang sekarang milih beli emas. Kalau memakai emas juga seakan jadi lebih tinggi derajatnya,” ujar seorang bapak pemilik warung depan bengkel yang dimasuki Heri dan Icha.

Kata bapak tiga anak ini, para perajin sudah banyak yang beralih profesi, termasuk dirinya. Ia yang memiliki ketrampilan turun temurun dari orangtuannya itu juga mengaku tidak bisa berbuat banyak. ”Namanya bekerja, maunya membuat dan laku terus. Jadi ya kita bisa membuat terus kerajinan perak. Sekarang sepi begini. Sementara anak butuh makan, butuh sekolah. Makanya banyak perajin pindah profesi. Perak kurang memberi hasil sekarang,” ungkapnya lesu.

Lalu, akankah bangunan bertanda tahun 1915 di bawah tulisan ”Keradjinan Amai Setia” itu juga akan tutup usia seperti para peminatnya?

menghadap dedaun padi di kaki singgalang (Foto-foto by Heri Tarmizi)

Iklan

Jalan Pintas Bukittinggi-Koto Gadang

Jam yang kulihat di handphoneku belum juga menunjukkan pukul 9. Hari masih pagi kala aku, Heri, dan Icha sampai di Jam Gadang, Bukittinggi dari arah Danau Maninjau. Perut kami juga telah terisi masakan padang saat kaki-kaki kami melangkah di Pasar Atas. Ini kali kedua aku masuk di pasar ini. Kali pertama, aku bersama temanku Bubung Angkawijaya saat kami masih bekerja di Komunitas Konservasi Warsi.

Batik Jawa yang sepertinya dibuat di Solo pun tampil di sini. “Batiknya Kak, silakan,” ujar kakak-kakak di sepanjang lorong pasar oleh-oleh ini. Tulisan huruf jawa pada baju-baju yang dipajang pun masih sama. Heri malah menawariku untuk membeli celana panjang. Hmm, aku sudah punya.

Tidak lebih dari 15 menit kami menyusuri lorong pasar yang di sana-sini ada sisa genangan air hujan. Keluar pasar, gantian menyusuri pertokoan. Bungkus makanan yang kami beli sebelum sarapan tadi bingung mau kubuang dimana. Di sepanjang pertokoan pinggiran Pasar Atas Bukittinggi ini tidak satupun kutemukan tong sampah. Lalu, kemana jika wisatawan yang datang akan membuang sampah? Harap simpan dulu di saku celana atau di tas.

Goa Jepang
Heri menanyakan jalan yang harus kami tempuh ke arah Koto Gadang dari Jam Gadang pada seorang penjual makanan. Bapak itu memberi tahu kelokan demi kelokan jalan yang bisa ditempuh tidak lebih dari setengah jam. ”Dekat. Dari arah jam gadang, belakang rumah sakit, nah susuri saja sampai ketemu ngarai. Tanya orang di sana. Setelah jembatan ada warung. Nah tanya orang di sana dimana jalan menuju Koto Gadang. Ada jalan pintas,” ujarnya ramah.

Panas mulai menyengat meski jam belum menanjak ke angka 10. Seharusnya kami belok ke arah kiri pada pertigaan jalan. Tapi kami berjalan lempeng lurus saja. Pada seorang satpam di sekolah dasar, Heri yang mahir bahasa Minang ini bertanya lagi jalan menuju Koto Gadang. Kami diberitahu untuk balik lagi dan belok ke kanan.

Simpang jalan kami temui, satu menurun tajam satu lagi naik. Di sebuah warung pojokan jalan di atas batu itu Heri bertanya lagi. Jika kuingat-ingat dalam bahasa Indonesiannya kurang lebih begini. ”Maunya sih naik ojek, Pak. Cuma, uang kami pas-pasan. Maklumlah Pak….” Rupanya para lelaki yang nongkrong di warung itu para tukang ojek.

Kepada Icha aku bilang, ”Asem, kok bilang mahasiswa nggak punya duit! Kenapa nggak jujur aja kalau memang niatnya mau jalan kaki.” Icha hanya tertawa. Baru kutahu kemudian ternyata itu hanya trik yang dilakukan Heri. Ya, trik berkelit dari para tukang ojek yang ’agak’ memaksa kami untuk naik ojek mereka. ”Juga trik supaya kita bisa tetap jalan dengan aman,” kata Heri padaku.

Jalanan meluncur turun pelan. Gelap dari kejauhan seperti hendak masuk ke lorong. Rupanya ’lorong’ itu hanya 10an meter saja. Tidak terlalu gelap, tapi malah dingin segar terasa. Dedaunan menutupi ’atap’ jalan ini sehingga kita seperti masuk lorong.

”Lah, ini kan jalan yang kita lewati tadi?” tanyaku pada Heri dan Icha. Sayang sopir travel yang membawa kami dari Maninjau tidak tahu dimana Koto Gadang berada. Kami kini berjalan arah balik. Bedanya, sebelumnya naik mobil, kini jalan kaki.

Lepas dari ’lorong’ nan sejuk itu, suguhan di sisi kiri adalah goa-goa Jepang di sepanjang jalan. Tidak kurang dari lima goa kami lewati. Saat kutengok, lorong goa memanjang diberi lampu pada langit-langitnya. Lampu warna kuning masih menyala hingga sesiang itu. Mungkin memang sengaja tidak dimatikan untuk menghilangkan kesan angker. Beberapa goa yang terletak persis di muka jalan tidak bisa dimasuki. Pintunya tertutup pagar besi yang digembok dari dalam. Pintu teralis besi bagian luar sepertinya masih baru.

goa-goa jepang

masih tampak kokoh

goa nan sempit

Lagi-lagi aku prihatin, sampah menumpuk di dalam goa hingga berjarak tiga meteran dari mulut goa. Sampah bekas bungkus minuman, makanan berserak tak karuan. ”Inilah Indonesia,” kata-kata dari mulutku.

Kala kepalaku melongok ke atas, sebuah goa ternganga menghadap ngarai. Ternyata tidak hanya satu, ada beberapa di dinding bukit atas. Diameternya tidak terlalu lebar seperti goa-goa yang persis di pinggir jalan. Goa-goa yang ada di perbukitan itu berdiameter tidak kurang dari satu meter. Jika masuk, tentu saja tubuh kita harus membungkuk atau bahkan ’laku dodok’.

Buruk sangka
Dari jalanan seberang goa, dinding bukit seperti bekas longsoran terlihat. Jalan di sanalah yang akan kami tempuh ke Koto Gadang jika saja tidak rusak. Makin turun makin mata kami semakin dimanja oleh alam. Rumah-rumah di bawah jalan menghadap pesawahan di kaki ngarai.

”Untung Icha tadi bilang kalau lebih baik jalan kaki saja. Kan kalau jalan kak bisa banyak yang dilihat. Bisa banyak yang diceritakan,” kata mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Riau ini. Aih, padahal ia tidak mau naik mobil lagi karena hampir mabuk.

Kukatakan padanya, ”Ok, kutunggu ceritamu. Tag di facebookku ya.” Icha yang berkawat gigi itu hanya tertawa. ”Tidak janji sih Buk,” elak dia.

Buah-buah kuning menarik pandangan mataku. Saat mendekatinya, aku harus melongok lagi ke atas. Rumah yang memiliki buah unik itu memang berada jauh di atas jalan. ”Ini namanya terong susu. Kan bentuknya mirip susu,” ujar Heri. Manggut-manggut kepalaku. Baru sekarang kulihat terong seunik ini. Akupun lupa menanyakan nama latinnya, juga apakah terong jenis ini dikonsumsi atau tidak.

kata Heri, namanya terong susu

Nyengir dan berkerut dahiku saat tiba di sebuah jembatan. Panas semakin menyengat. Yup, orang-orang yang kami tanyai sebelumnya memang mengatakan, kami harus melewati jembatan sebelum akhirnya ketemu sebuah warung. Mak, dimana warungnya? Sudah lebih dari 7 Km sepertinya perjalanan siang ini. Jalan pelan karena harus mengimbangi langkah kaki Icha yang tak bisa berjalan cepat.

Tiba di pinggir jembatan di bawah bukit itu, seorang nenek renta menyapa kami. Ia menanyai tujuan kami. Bakul yang berisi pisang kepok, alpokat dan entah apa lagi ia letakkan di pagar jembatan. ”Bawalah alpokat ini. Atau pisang, Nak, untuk kalian makan di jalan,” kata dia.

Ah, aku telah berburuk sangka sebelumnya padanya. Kukira ia seorang pedagang yang juga akan memaksa kami untuk membeli dagangannya. Ternyata aku salah duga. Nenek yang kuperkirakan usianya 80an tahun ini baru pulang dari ladangnya. Ia beristirahat sejenak di pinggir jembatan.

Untung ada Pak Rusdi
Icha sepertinya sudah sangat kelelahan. Meski sebelumnya kami (aku dan Heri) tawari untuk berhenti sejenak tak mau, Icha akhirnya mencari tempat juga di pondokan pinggir jalan. Si pemilik pondok pinggir jalan di atas jurang itu juga menyewakan peralatan camping. Kata si kakak (aku lupa namanya), suaminya juga sering membawa anak-anak sekolah untuk outbound di sekitar ngarai.

Dalam perbincangan numpang istirahat itu, kakak tersebut juga memberitahu kami jalan pintas menuju Koto Gadang. ”Ada dekat sini. Itu, tidak jauh lagi ada jalan ke atas.”

Tak selang tiga menit, seorang laki-laki tua berbaju kemeja warna orange tua ikut singgah. Kami pun berbincang-bincang berpanjang lebar. Heri paling banyak bercerita. ”Nanti ikut Bapak ini saja,” kata si kakak lagi.

Baru kami tahu ternyata laki-laki tua bernama Pak Rusdi itu juga melakukan perjalanan yang sama dengan kami. Ia juga berjalan dari arah jam gadang. Tapi baju rapi yang dikenakannya tidak ada setetes keringatpun. Wajahnya pun tidak tampak lelah sedikitpun. Lempeng saja.

Laki-laki yang lahir satu tahun sebelum Indonesia merdeka ini berkisah, hampir tiap hari menyusuri Parak Tingga. Yap, jalan lintas ke arah desa Sianok ini dinamai penduduk sekitar Parak Tingga. Pada bagian bawah hingga tiga puluhan undak dibuat dari bambu-bambu yang dilintangkan. Fungsinya, supaya jalan berundak tersebut tidak longsor. Selain itu, agar pejalan tidak terpeleset saat turun menyusuri tangga.

Kali ini, langkah Pak Rusdi lah yang mengimbangi kami. Sesekali ia berhenti menengok ke bawah ke arah kami. Aku masih belum merasa haus. Bahkan sempat berphose di depan kamera Heri saat menemukan tulang rahang. Entah binatang apa.

Kiri kanan tangga masih banyak terdapat pohon salak. Semakin naik jalanan semakin bagus. Jalan setapak di atas jurang itu terbuat dari semen. ”Dulu lebih bagus lagi jalan ini. Tiap hari lah Bapak dan orang Sianok lewat sini,” kisah Pak Rusdi saat kami berhenti menunggu Icha.

Ah, Icha sepertinya sudah tidak kuat lagi berjalan. Berkali-kali kutanya apakah masih sanggup lagi melanjutkan perjalanan. Ia selalu berkata iya meskipun pantatnya tidak juga beranjak dari tangga semen itu. Tiba-tiba gadis yang usianya lebih muda dariku dan Heri 10 tahun ini mengatakan bahwa kakinya kram. Mencoba melangkah lagi beberapa anak tangga tapi kemudian terduduk lagi. Lebih dari 10 menit kami berhenti. Pak Rusdi yang masih setia menunggu akhirnya kupersilakan untuk melanjutkan perjalanan, ketimbang harus menunggu lebih lama lagi.

Perjalanan masih mengantung. Icha malah muntah. Heri mulai mrepet. ”Cha, kalau nggak kuat ya bilang nggak kuat. Turun aja ya?” kata dia.

Wew, padahal kata pak Rusdi, undakan tangga tinggal sedikit lagi. Tidak lebih dari 40….” tukas bapak 66 tahun ini sebelum pergi.


Seperti dipaksakan akhirnya lepas juga kami dari perjalanan menanjak. Mirip di belakang kebun rumah orang ketika tangga itu berakhir. Luas, mendatar, dan banyak pohon bambu. Simpang-simpang jalan setapak tidak begitu membuat kami bingung. Icha mengingatkan, ”Kata ibu tadi, kalau ada kuburan belok kiri.”

Tiba juga di Koto Gadang
Tak hanya sekedar pura-pura bertanya, kami melepas lelah lagi di rumah yang kami lewati. Tuan rumah juga mempersilakan Icha numpang ke kamar mandi untuk kencing. Aku dan Heri bertanya-tanya pada empu rumah mengenai jalan yang harus kami lewati. ”Sudah dekat. Tidak lebih dari seperempat jam sudah sampai. Lewat jalan itu lurus saja. Nanti ada plang-plangnya,” kata si ibu pemilik rumah.

Menyusuri jalan pada tengah hari membuat perutku makin mengeliat. Berkali-kali kutanyai warung di pinggiran jalan, tak satupun berjualan nasi atau lontong. Malah jumpa lagi dengan pak Rusdi. Ia tengah bercakap-cakap dengan bapak-bapak di depan sebuah rumah yang juga membuka warung kelontong.

Panas menyengat kulit saat jalan lurus itu kami lewati. Belum juga meninggalkan Desa Sianok, sebuah masjid indah belum selesai pengerjaannya membuat Heri tak mau melepaskan kesempatan. Dua tiga kali jepretan dengan picingan mata.

Menghadap persawahan nan luas, toilet masa pra kemerdekaan kami singgahi. Icha yang awalnya enggan masuk itu akhirnya masuk juga. Kisah toilet yang dibangun pada 18 JDOENI 1942 ini telah kukisahkan di https://naribungo.wordpress.com/2010/05/07/toilet-pra-kemerdekaan-ri/

Gadis kecil bersepeda menyapa kami di siang yang terik itu. ”Mau kemana kak? Mampirlah ke rumah kami sejenak,” kata dia tulus.

Panas di kepala diselingi semilir angin yang sebelumnya singgah pada padi-padi yang menghijau. Puas mata menelanjangi hamparan sawah di kaki Gunung Singgalang ini. Lirih mulutku bernyanyi, ”Padaku paman berjanji, mengajak libur di desa…. Hatiku girang tidak terperi terbayang sudah aku di sana. Mandi di sungai, turun ke sawah, menggiring kerbau ke kandang…”

Pada hamparan sawah berlahan naik ke puncak gunung itu lah rumah-rumah kerajinan perak Koto Gadang berada. Tahun yang ditunjukkan adalah 1915. Entah bangunan rumah yayasan ”Kerajinan Amai Setia” atau kali pertama perak dikerjakan tahun. Yup, jalan pintas itu berakhir di sini.

Terima kasih untuk Heri Tarmizi untuk foto-fotonya

Tubuh Perempuan Selalu Salah

Berita di Redaksi Pagi Trans7 tadi pagi membuat mbak Elis dan aku prihatin. Bukan pada isi beritanya, tapi lebih pada opini atau komentar si pembuat berita.

Kabar yang dibacakan, sekelompok perempuan yang masih sekeluarga mengeroyok seorang perempuan. Mereka semua orang-orang Papua di Manokwari. Si perempuan yang dikeroyok itu diduga merupakan selingkuhan suami dari istri yang bertubuh gemuk. Dalam gambar yang disajikan, si istri bertubuh gemuk itu berkali-kali disebutkan bertubuh gemuk tanpa menyebutkan namanya. ”….keluarga perempuan bertubuh gemuk itu juga ikut….”

Ironisnya, kalimat penutup pada berita tersebut yang dibacakan seorang perempuan pembaca berita itu malah mengatakan, ”….perempuan bertubuh gemuk itu memang harus melakukan diet agar suaminya tidak berpaling mencari perempuan lain.”

Pertanyaanku, mungkin juga pemirsa berita itu adalah mengapa tubuh gemuknya yang disalahkan? Mengapa tidak menyalahkan si suami yang berselingkuh? Mengapa bukan laki-laki yang melakukan kekerasan terhadap istrinya itu yang ’dihukum’? Mengapa harus ada opini seorang wartawan yang menyudutkan tubuh perempuan? Padahal, si pembaca berita itu juga seorang perempuan.

Keprihatinanku belum tersampaikan ke redaksi TV ini. Tidak ada kontak email yang tertera. Hanya berharap tidak ada lagi pemberitaan yang menyudutkan tubuh perempuan.

07.32

bukan tidak cantik

Puasa Listrik

Listrik baru saja nyala kembali setelah empat jam mati, dari pukul 10.30–14.30 WIB. Rasa bosan tidak mengerjakan ssesuatu di jam-jam kerja membuat jenuh juga. Terlebih ketika koran dan majalah sudah habis dibaca. Apa lagi? Padahal minggu ini aku malas mengikuti berita, lebih-lebih kalau ada kata Century, DPR, koalisi ini itu. Malas sekali aku. Tapi hari ini aku mulai membaca koran lagi.

Koran lokal Serambi, hari ini masih menyajikan tingkah aneh bupati Aceh Barat, Ramli MS. Kemarin ramai soal pencopotan tiga dokter spesialis di Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh. Hari ini, kubaca berita bahwa ia telah meneken Peraturan Bupati Rok. Ya, rok wajib dikenakan muslimah di Aceh Barat. Ida yang orang Meulaboh mengatakan, “Entahlah, malas kali aku membaca berita soal bupatiku. Orang gila!”

Kompas langganan kantorku hari ini tapi kemarin juga habis kubaca. Tumben-tumben aku membaca rubrik Bisnis dan Keuangan. Tertarik kubaca ”Sri Mulyani Sering Terpana” setelah melihat foto Sri Mulyani menoleh. Sesaat teringat lebaran tahun 2008 lalu, aku lebaran di rumah dinasnya. Bukan sekedar silaturrahmi, tapi juga meminta ia ’bersuara’. Redakturku di studio KBR 68H sudah menunggu statementnya yang selalu menjadi bahan berita ini.

Sebenarnya aku mau mencari berita mengenai wafatnya mbah Gesang. Namun, jika mau membaca koran konvensional aku harus menunggu Kompas besok pagi tapi hari ini. Ups, tak perlu bingung dengan istilah hari ini tapi kemarin, besok pagi tapi hari ini. Maksudnya, koran kemarin datang hari ini, koran hari ini baru bisa kubaca besok. Maklum, koran Kompas di Tapaktuan didatangkan dari Medan. Butuh sedikitnya 10 jam perjalanan darat untuk membawa ke kota bekas penghasil pala ini.

Di kota naga ini, listrik padam sudah menjadi makanan hampir setiap hari. Jamnya, tinggal siap-siap saja, setiap saat bisa saja mati. Paling sebentar lebih dari tiga jam. Cilakanya, jika sedang berada di rumah lampu tiba-tiba padam. Apa lagi yang dipilih kalau tidak tidur sore. Berharap bangun pagi untuk segera bisa mengisi bak kamar mandi yang telah kosong sejak sore.

Kantukku setengah lelap kala Didik memanggilku untuk rapat mendadak. Nah, ini baru kerjaan. Di tengah rapat sempat terlintas dalam pikiranku, mengapa ya kami harus bergantung dengan listrik pasokan PLN. Kan sudah tahu pelayanannya hari demi hari patut dipertanyakan. Mengapa pemerintah daerah di sini tidak mau mengembangkan potensi wilayahnya. Lautan nan luas, air mengucur dimanapun dibalik bebatuan, panas terik matahari potensi yang luar biasa untuk pasokan listrik skala rumahan.

Mati lampu di sini, tidak berarti apapun dengan Desa Koto Indarung, Siurai-Urai, serta Desa Alue Keujren, Kecamatan Kluet Tengah, Aceh Selatan. Semasa pulang dari pengungsian, kampung mereka mendapat bantuan panel surya.

”Apa yang diharap lagi dari pemerintah, sudah puluhan tahun lalu kami meminta listrik mengalir di desa kami. Tidak tahu lagi apakah mereka masih punya hati,” kata seorang pemuda padaku. Aku hanya bergumam, juga saat listrik mati lagi tadi.

Caping Gunung Mbah Gesang

Jika orang banyak mengenang mbah Gesang dengan Bengawan Solo-nya, aku justru selalu terkenang dengan Caping Gunung. Begini syairnya,

Ndek jaman berjuang, njur kelingan anak lanang
Biyen tak openi, gek saiki ono ngendi
Jarene wes menang, keturutan sing digadang
Biyen ninggal janji gek saiki opo lali….

Neng gunung tak cadongi sego jagung
Yen mendung tak silihi caping gunung
Sukur biso nyawang gunung deso dadi rejo
Dene ora ilang gone pada lara lapa

Kusendiri tidak tahu pasti sejak kapan aku menyukai keroncong mbah Gesang yang satu ini. Kali pertama dari mulut bapak yang selalu mendendangkan klenengan atau keroncong, menjelang aku tidur dalam pelukannya. Ada rasa bercampur kala tembang ini dilagukan. Sesekali kubertanya pada bapak, ”Jaman perang biyen piye to pak? Mangane sego jagung? (Bagaimana sih waktu perang dulu? Makan nasi jagung).

Suatu kali ketika sore bersepeda onthel ’kebo’ bersama adikku, diboncengkan bapak, kami berjumpa dengan seorang pedagang tenggok (bakul). Di atas tumpukan tenggok bambu itu, tertata rapi caping yang juga terbuat dari bambu. Bentuknya menyerupai kerucut bertingkat.

Bapak mengatakan padaku, ”Kui caping gunung koyok sing dinyanyekke mbah Gesang (Itu yang disebut caping gunung seperti yang ditembangkan mbah Gesang).” Baru kutahu, Caping Gunung tercipta lewat rasa mbah Gesang.

Salaman
Konser Kantata Takwa di alun-alun kidul Keraton Surakarta akhirnya mendapat ijin meskipun polisi disebar dimana-mana. Bersama mas-masku dan tetanggaku, semuanya laki-laki kecuali aku, ikut merangsek masuk. Dari kejauhan, Iwan Fals dan Sawung Jabo hanya kelihatan seujung jari kelingkingku. Tanganku terus digenggam mas Untung, masku nomer tiga. ”Nggo ndak ilang (Ntar kamu hilang),” kata mas Untung, meskipun pada akhirnya aku benar-benar hilang.

Tubuhku yang masih terlalu kecil (saat itu aku masih SD), gesit terus berjalan maju. Seorang yang pernah kulihat di sampul kaset menegok ke arah kiri. Ia menatapku lalu tersenyum. Tangannya yang sudah berkerut melambai padaku. Bungkusan kecil di tangannya diberikan padaku. ”Dimaem yo nduk (Dimakan ya),” kata dia.

Pada bulan atau tahun yang berbeda usai aku menari di Gedung Wayang Orang Sriwedari, seorang berwajah sepuh itu bertemu denganku lagi. Padahal ia tengah berbincang dengan seseorang yang tak juga kukenal. ”O, jebul kowe pinter nari to, Nduk,” kata dia sambil tersenyum. Tangannya diulurkan ke aku. Kucium tangan tua itu ke dahiku.

”Mbah, tak bisik’i,” kataku padanya. Tubuhnya dibungkukkan menyesuaikan tubuh kecilku.

”Aku seneng lagune mbah kakung sing caping gunung,” kataku lagi padaku. Ia terkekeh senang. Lalu kepalaku yang masih bersanggul dielusnya.

Sampai sekarang kutaktahu pasti darimana keberanianku muncul, berbicara pada orang yang hanya kukenal lewat foto di sampul kaset. Semasa kini, aku merasa sangat beruntung pernah berjumpa dengan seorang maestro. Kukenang mbah Gesang hingga Sebelum Aku Mati, seperti lagunya :

“Sekali Ku Hidup, Sekali Ku Mati, Aku Dibesarkan Di Bumi Pertiwi, Akan Kutinggalkan Warisan Abadi, Semasa Hidupku Sebelum Aku Mati. Lambaian Tanganku Panggilan Abadi, Semasa Hidupku Sebelum Aku Mati”

Selamat jalan mbah Gesang….

Kala Orang Besar Buat Kerusakan

Cuaca panas tanpa angin semilir membuat ibunya Nila beberapa kali mengipaskan ujung kain jaritnya. Tubuhnya agak dibungkukkan, kakinya yang slonjoran di lantai agak ditekuk. Butiran keringat membasahi wajah petani yang baru saja selesai membolak-balik padi hasil panenannya itu.

”Tidak ada angin ya?” kata dia. Kali ini tangannya dikibas-kibaskan. Sesaat kemudian, Nila anak gadisnya yang menjadi pengurus organisasi pemudi di desanya itu, ia mintai tolong mengambilkan ijuk daun pinang. Daun-daunnya saling dikaitkan pada daun lainnya sehingga membentuk kipas sederhana. Angin dari kibasan kipas itu sedikit mengenai mukaku yang tidak tertutup kain.

”Seingat mamak, ndak pernah ada cuaca macam ini, Nak. Panas sekali! Padahal kita tinggal di desa. Gunung di dimana-mana. Gunung di sinipun masih hijau. Masih banyak pokok yang tidak ditebang,” kata dia lagi.

Nila bersama ibu dan bapaknya tinggal di Gampong (Desa) Lawe Sawah, Kecamatan Kluet Timur, Kabupaten Aceh Selatan. Gampong tempat Nila tinggal berada di Kawasan Ekosistem Lauser (KEL). Ia masuk desa penyangga Taman Nasional Gunung Lauser. Orang-orang di kawasan ini biasa menyebut bukit-bukit yang berjajar indah itu gunung.

Seingat ibunya Nila, tahun-tahun ketika Nila menginjak remaja tidak separah sekarang kondisi cuaca. Bersama warga desa lain yang menanam padi lokal, ia terkena juga imbas dari perubahan iklim. “Tahun-tahun lalu, Nak, ibu biasa menjual padi karena memang sisa untuk makan kami. Sekarang ini, wah, banyak yang kosong. Itupun kami masih beruntung karena masih tanam padi dusun. Kalau padi malaysia dari pemerintah tu, ehmm entahlah ada bisa panen atau ndak.”

Banyaknya padi yang tidak berisi menurut ibunya Nila karena hujan dan panas datang tidak seperti yang mereka perkirakan. ”Kan dulu ada musimnya hujan dan panas itu datang. Sekarang tidak lagi bisa ditanda. Panas sekali tiba-tiba hujan deras. Padinya jadi sakit juga. Asal tidak datang angin yang menakutkan itu lah. Takut ibu. Angin berputar-putar. Setua ini baru-baru sekarang ibu ketemu angin yang berputar-putar seperti itu,” kisah ibu dua orang anak ini. Wajahnya mengeryit ketakutan membayangkan angin puting beliung di desanya waktu lalu.

”Nilah kalau orang suka nebang pokok kayu banyak-banyak. Tidak dipikirkan akibatnya ke orang-orang lain. Hutan jadi gundul, kejadian banjir ada dimana-mana seperti di tivi. Kan lucu, banjir datang kok di musim panas begini. Gunung ditebang pokok-pokoknya, longsor dimana-mana. Cuaca jadi berubah tidak sesuai kodratnya. Orang lain motong-motong pokok kayu, kami semua kena panasnya. Orang besar buat kerusakan, kami yang ndak tahu apa-apa kena akibatnya,” ujarnya. Keringat masih mengucur di wajah perempuan desa yang sederhana ini.

bukit digunduli

Listrik atau Konflik?

Makin hari layanan listrik di kota ini semakin menyebalkan saja. Kemarin petang saat aku sampai di jalan TB Mahmut, Lhok Keutapang, rumah-rumah lebih banyak yang gelap daripada yang terang. Rupanya benar, listrik mati lagi sejak pukul entah berapa. Sebab, mbak Nur yang kutanyai juga tidak tahu jam berapa listrik mulai mati. ”Aku pulang jam setengah enam, listrik sudah tidak nyala,” kata dia.

Maunya usai mandi, aku menulis apa saja yang kusaksikan tadi pagi hingga sore. Banyak hal menarik untuk dituliskan. Salah satunya, anak-anak balita yang melenggang di panggung menyanyikan ”Kalau ada gempa, lindungi kepala…Kalau ada gempa sembunyi di bawah meja, kalau ada gempa menjauh….” Celoteh mereka padaku tentang kebenaran lagu yang mereka nyanyikan. Sialnya, laptopku habis batrei saat lagi pengen-pengennya aku menulis!

Listrik mati di Aceh Selatan hampir dua hari sekali. Alasan apa, kurang tahu juga. Susahnya kalau jadi warga bukan warga lokal, tidak bisa protes. ”Mau protes gimana, wong orang-orang di sini juga nggak ada yang punya inisiatif untuk protes,” ujar Mbak Elis yang dari Ngawi.

Lilin telah meleleh hingga keluar gelas saat kuterbangun pukul 00 sekian menit. Farida juga lupa mematikan lilin. Hingga hari ini (17/5), Farida dan aku sengaja menghidupkan lampu tengah di antara kamar kami. Tahu kenapa? Saat gempa 7,2 SR menguncang pada subuh April lalu, kakiku ternyata biru-biru di sana-sini. Kata teman-teman, kemungkinan aku menendang benda-benda di rumah saat berlari ke luar rumah. Suasana gelap membuat aku kurang waspada. Terlebih aku berada di lantai dua yang jauh dari pintu keluar.

Saat konflik
Banyak warga desa yang kutemui berkata, konflik antara GAM dan TNI tidak melulu membawa dampak negatif. Salah satu yang mengatakan hal itu adalah Pak Abas dari Kluet Timur. ”Selain kita jadi tahu pentingnya perdamaian, tahu dan merasakan susahnya hidup di masa konflik, konflik juga membuat listrik tidak pernah dipadamkan seperti sekarang.”

Seorang pemuda mantan kombatan pun juga mengatakan hal yang sama. ”Mana berani tentra tinggal di rumah dalam gelap-gelap, makanya listrik dihidupkan terus oleh PLN. Orang-orang kota, para pegawai tuh takut kegelapan” kata seorang pemuda mantan kombatan padaku. Ia mengaku geram dengan pelayanan PLN sekarang ini.

Bagaimana tidak, listrik mati sejak matahari mau tenggelam. Lalu dia dihidupkan kala mata telah meminta diri untuk beristirahat. Saat mata telah terjaga, hendak mengerjakan banyak hal, listrik kembali dipadamkan. Uben yang juga mantan kombatan mengatakan, ”Apa ya harus konflik lagi, kak, biar listrik terus hidup seperti dulu? Kami tidak hidup dalam kegelapan.”

« Older entries