Toilet Pra Kemerdekaan RI


Rupanya aku salah duga. Kumengira, pembangunan toilet-toilet umum hanya dilakukan masa-masa kini saja. Persis cerita orang-orang desa yang dengan bangga mendapat bantuan WC umum oleh mahasiswa. “Mereka kuliah kerja nyata di sini. Membantu masyarakat membuatkan WC dan tempat mandi umum,” kata pak Rahman di Kecamatan Air Hitam, Sarolangun, Jambi empat tahunan yang lalu padaku.

Meski demikian, di beberapa daerah masih banyak ditemukan toilet sederhana. Sekalipun ada bantuan kamar-kamar petak permanent yang ‘lebih layak’, tidak jarang warga lebih memilih ‘kamar mandi atas sungai’. Bahkan di beberapa desa Serambi Mekah sekalipun, kamar mandi yang nangkring di atas sungai atau parit hanya dibuat dari ijuk daun pinang. Jika daun-daun telah mengering, nampak lah nyata aktivitas yang dilakukan orang yang berada di dalamnya.

Pengalaman berbeda soal tempat membersihkan diri, buang hajat itu ada di salah satu desa seputar Bukittinggi. Desa Sianok tepatnya. Desa yang berhias persawahan nan elok dan berlatar gunung Merapi ini telah memiliki toilet bangunan permanent sebelum negara kita merdeka. Kamar mandi yang terlihat kokoh itu dibangun sejak 18 Juni 1942! Tulisan Juni pun masih berakses tempo dulu, Djoeni.

Sayang, saat itu tidak kutemui orang desa di sana untuk bertanya lebih lanjut. Hanya kumengira, bangunan itu dibuat masa pendudukan Jepang. Sebab di bawah sana, gua-gua buatan Jepang dibangun menembus perbukitan.

Meski nampak bersih dari sisi luar (jalan), kamar mandi yang diluarnya tertulis “WANITA” ini sepertinya jarang digunakan lagi. Kusempatkan masuk ke dalam hanya dalam tempo beberapa menit. Tidak tercium bau pesing seperti umumnya toilet-toilet di negeri kita. Bak besar berukuran 1 x 3 meter-an terbentang. Ia tidak terletak di sisi dalam tembok. Ada jarak sekitar satu meter dari tembok luar. Sedangkan sisi tembok bagian dalam, ada 3 pancuran yang sudah tidak mengucurkan air. Bak besar yang masih kokoh bangunan semennya itu berisi air keruh. Coklat susu warnanya. Airnya lebih mirip tanah yang diaduk dalam air. Rasa kebeletku akhirnya kutunda dan malah asyik memeriksa beberapa bagian toilet tempo dulu itu.

Jika pergi ke Bukittinggi, singgahlah di desa Sianok. Desa ini merupakan desa tetangga sentra kerajinan perak Koto Gadang. Jaraknya sekitar 7 kilo saja dari jam gadang. Sayang melewatkan pandangan mata hanya dengan perjalanan naik mobil. Perjalanan kaki bisa ditempuh dari Bukittinggi menyusuri ngarai. Ada jalan tembus yang biasa digunakan desa untuk langsung menuju desa Sianok. Tangga setapak dikuatkan bambu lalu berlanjut semen itu dinamai orang desa parak tangga. Silakan bertanya dan tidak termakan rayuan tukang ojek jika memang berniat menempuh perjalanan kaki menuju toilet masa pra kemerdekaan itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: