Rombengan


Padahal, kotaku Sala menjadi salah satu pusat batik di negeri ini selain Yogjakarta dan Pekalongan. Aneka batik dari harga jutaan sampai harga murah belasan ribu bisa didapat. Baru dan masih bau malam yang harum. Tapi siapa nyana jika rombengan masih banyak peminatnya. Rombengan alias baju bekas di kota bertajuk Solo The Spirit of Java itu beda dengan baju-baju bekas asal negara luar. Baju buangan asal Negara luar biasanya ada yang bermerek bagus dan memang kerapkali ‘masih sangat layak pakai’.

Kalau pun merasa gengsi dengan produk Pasar Klewer, seperti Nuri tetanggaku, ia akan melenggang ke mall. Solo Grand Mall di jalan utama Slamet Riyadi, Matahari Singosaren, atau pusat busana yang berada di seputaran Keraton Surakarta.

Berbeda dengan Nuri, mbak Sur yang kutemui di pojokan Pasar Gemblekan Sala lebih memilih rombengan. Bersama Bu Dul, ia tangkas memilah dan memilih baju bekas yang memang sudah tampak bekas. Pada orang-orang berduit, baju-baju yang dipilih mbak Sur dan Bu Dul sebenarnya lebih layak disebut gombal. Tapi mbak Sur punya alasan.

”Menawi rombengan ngaten reginipun mirah mbak. Mboten kados rasukan ingkang enggal kados rasukan wonten toko-toko ageng. Nggih, sing penting saged nyandang, mboten wudoh. Milih nggih milih ingkang patut (Kalau rombengan begini harganya lebih murah. Tidak seperti pakaian baru yang dijual ditoko-toko besar. Yang penting bisa berpakaian, tidak telanjang. Memilih pakaian ya memilih yang patas –dipakai),” ujar mbak Sur. Ia terkekeh.

Daster batik warna hijau dan biru yang robek sedikit pada ketiaknya bisa dibawa pulang mbak Sur dengan harga tujuh ribu rupiah. Juga sepasang baju untuk anak-anak yang warnanya masih cerah, merah hitam bergambar khas anak-anak, masih utuh bisa dibawa dengan harga lima ribu saja. Raut muka mbak Sur tampak berbinar dengan pilihannya. ”Anakku mesti seneng tak oleh-olehi klambi anyar (anakku pasti suka kukasih oleh-oleh baju ’baru’),” kata mbak Sur entah berujar pada siapa.

Lebih dekat dengan arah rumahku, rombengan di jalan Rajiman di bawah pohon asem nan rindang juga ada. Dulu waktuku kecil, ada juga kios-kios kecil di sela-sela taman kota. Kios itu lebih mirip penjahit ketimbang jual baju rombengan. Memang ada mesin jahit di sana. Mesin jahit digunakan untuk menjahit baju yang bolang di sana-sini. Selain baju yang dilipat rapi, beberapa baju yang tampak bagus-bagus sengaja digantung.

Mbah Surip yang sudah renta juga masih berjualan di emperan toko. Ia tekun menjahit kaos bertuliskan ’Cha Cha Cha’ yang bolong di bagian perut samping. ”Ben sing tuku ora gelo, Nduk, amargo wes bolong (biar pembeli tidak kecewa karena sudah robek),” tutur simbah yang tiap hari pulang pergi jalan kaki ke rumahnya di Jetis. Matanya mengernyit. Mungkin pandangannya sudah kabur.

Baju-baju yang dijualnya dari harga tiga ribu sampai tujuh belas ribu saja. Mbah Surip yang katanya jualan baju rombengan sejak tahuu 1984 juga menjual jarik, handuk, juga jas. ”Sing kerep mampir tuku kerepe yo supir becak, wong-wong sing ora due nduk. Okeh toko gede, neng wong yo ora kuat tuku…” ujar mbah Surip sambil terkekeh.

Dengan nada rendah hati ia berkata, ”Bathi sithik ora popo. Iso etuk beras nggo sedino. Seneng iso nyandangi sedulur sing podo-podo ora ndue…(Sedikit untung tidak mengapa. Bisa membeli beras untuk –makan- sehari. Senang rasanya bisa ’mempakaiani’ saudara-saudara yang sama-sama tak mampu).

bajunya wong cilik (foto : ninuk)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: