Rintihan Anjing itu Tanda Gempa?


Gruduggg gruduggg… Suara bumi membahana di udara. Dalam tidur siangku, tubuhku digoncang hebat. Serasa mimpi digoncang dalam mobil di jalanan buruk. Secepatnya kutarik pintu, berlari ke lantai dasar dan keluar rumah. Ada Ida yang berdiri di bawah pohon mangga. Teman-teman yang lain, mbak Nur, mbak Rita, Farida, entah kemana.

Berseliweran pikiran dan ingatan yang beraneka macam. Takut, deg-degan, cemas ’kalau-kalau’ jadi satu. Gempa besar lagi meskipun tidak kutahu sampai kupelototi runing news di televisi usai gempa reda.

Senin lalu saat kumelongok facebook, perkiraan akan terjadi gempa telah disebutkan antara tanggal 3-9 bulan ini. Pusat gempa di Siemeulu. Pada gempa tanggal 7 April bulan lalu, perkiraan dari group anak-anak tahan bencana itu juga telah disebarkan. Dan benar ada.

Aku tidak tahu pasti rintihan anjing sejak empat harian lalu apakah juga menjadi tanda. Rintihannya menyakitkan batin seperti anjing kesakitan. Meski teman-teman lebih menyebut rintihannya mirip anak-anak ditinggal orang tuanya. Ia tidak lagi menggonggong seperti bulan lalu.

Bertiga bersama Ida dan Farida, kami sempat packing dan bersiap lari ke gunung. Galau kalau-kalau berita di tv tentang potensi tsunami benar terjadi. Maklum saja, rumah tempat kutinggal bersama lima teman kantorku hanya berjarak tidak lebih dari 200 meter dari laut. Untuk lari ke gunung, kami tinggal menuju arah belakang rumah. jaraknya juga sangat dekat, hanya sekitar 200 meter.

Tapi jalanan arah Medan-Meulaboh di depan mess kami tampak sunyi seperti biasa. Tidak ada orang keluar untuk lari. Hanya saat gempa saja mereka keluar rumah lalu masuk lagi. Farida sempat menengok selokan yang ada di depan rumah, tidak ada tanda apapun di sana.

Ketika mbak Nur dan mbak Rita pulang, mereka membawa berita menenangkan. ”Kambing dan ayam tidak ada yang lari. Mereka tenang-temang saja ki,” kata mbak Rita diiyakan mbak Nur. Bang Putra yang sedang berada di Hotel Catreine, yang didepannya laut juga mengatakan, ”Tidak ada pergerakan berarti dari air laut. Nggak papa mbak.”

Padahal aku tidak pernah mengalami kejadian luar biasa seperti akhir Desember 2004 lalu. Hanya ingatan melalui tayangan televisi yang diputar berulang-ulang. Aku cemas bahkan lebih dari gempa yang terjadi subuh bulan lalu. Hingga kutulis kisah ini, kakiku masih terasa gemetar. Rasanya sangat pegal. Bedanya, sekarang tidak ada lagi ruam biru-biru di kaki.

09052010 14.03

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: