Listrik atau Konflik?


Makin hari layanan listrik di kota ini semakin menyebalkan saja. Kemarin petang saat aku sampai di jalan TB Mahmut, Lhok Keutapang, rumah-rumah lebih banyak yang gelap daripada yang terang. Rupanya benar, listrik mati lagi sejak pukul entah berapa. Sebab, mbak Nur yang kutanyai juga tidak tahu jam berapa listrik mulai mati. ”Aku pulang jam setengah enam, listrik sudah tidak nyala,” kata dia.

Maunya usai mandi, aku menulis apa saja yang kusaksikan tadi pagi hingga sore. Banyak hal menarik untuk dituliskan. Salah satunya, anak-anak balita yang melenggang di panggung menyanyikan ”Kalau ada gempa, lindungi kepala…Kalau ada gempa sembunyi di bawah meja, kalau ada gempa menjauh….” Celoteh mereka padaku tentang kebenaran lagu yang mereka nyanyikan. Sialnya, laptopku habis batrei saat lagi pengen-pengennya aku menulis!

Listrik mati di Aceh Selatan hampir dua hari sekali. Alasan apa, kurang tahu juga. Susahnya kalau jadi warga bukan warga lokal, tidak bisa protes. ”Mau protes gimana, wong orang-orang di sini juga nggak ada yang punya inisiatif untuk protes,” ujar Mbak Elis yang dari Ngawi.

Lilin telah meleleh hingga keluar gelas saat kuterbangun pukul 00 sekian menit. Farida juga lupa mematikan lilin. Hingga hari ini (17/5), Farida dan aku sengaja menghidupkan lampu tengah di antara kamar kami. Tahu kenapa? Saat gempa 7,2 SR menguncang pada subuh April lalu, kakiku ternyata biru-biru di sana-sini. Kata teman-teman, kemungkinan aku menendang benda-benda di rumah saat berlari ke luar rumah. Suasana gelap membuat aku kurang waspada. Terlebih aku berada di lantai dua yang jauh dari pintu keluar.

Saat konflik
Banyak warga desa yang kutemui berkata, konflik antara GAM dan TNI tidak melulu membawa dampak negatif. Salah satu yang mengatakan hal itu adalah Pak Abas dari Kluet Timur. ”Selain kita jadi tahu pentingnya perdamaian, tahu dan merasakan susahnya hidup di masa konflik, konflik juga membuat listrik tidak pernah dipadamkan seperti sekarang.”

Seorang pemuda mantan kombatan pun juga mengatakan hal yang sama. ”Mana berani tentra tinggal di rumah dalam gelap-gelap, makanya listrik dihidupkan terus oleh PLN. Orang-orang kota, para pegawai tuh takut kegelapan” kata seorang pemuda mantan kombatan padaku. Ia mengaku geram dengan pelayanan PLN sekarang ini.

Bagaimana tidak, listrik mati sejak matahari mau tenggelam. Lalu dia dihidupkan kala mata telah meminta diri untuk beristirahat. Saat mata telah terjaga, hendak mengerjakan banyak hal, listrik kembali dipadamkan. Uben yang juga mantan kombatan mengatakan, ”Apa ya harus konflik lagi, kak, biar listrik terus hidup seperti dulu? Kami tidak hidup dalam kegelapan.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: