Pegawai LSM


Temanku si Partono berkecil hati lagi. Menurut hitungannya, telah lebih dari sepuluh kali ia mengirimkan lamaran untuk berkarya melalui lembaga swadaya masyarakat. Labelnya, ada yang lokal, ada yang lembaga internasional. Jalur lembaga non pemerintah ini menurutnya bisa memuaskan haus hatinya untuk ikut peduli.

“Boleh dikata, tulus iklas aku nggak mencari kaya. Aku Cuma pengen belajar bersama masyarakat dampingan,” ujarnya padaku. Dan waktu itu aku pun menyahut sekenanya, ”Kalau mau kaya ya jadi pengusaha.”

Ia kini tengah tidak kerasan berada di naungan lembaga international yang cukup tenar. Posisinya ’hanya’ relawan. Kata dia, orang-orang yang duduk dalam posisi managerial sekarang, tidak seide lagi dengan orang-orang yang pernah menjadi perintis lembaga itu di negeri ini. ”Perjuangan makin mlempem. Sangat kompromis. Bahkan dengan pihak yang sangat merusak hal-hal yang diperjuangkan sekalipun.”

Oleh karena itu ia bermaksud mencari tempat lain yang dirasanya seide. Namun, harapannya makin menipis saja. ”Yang dicari orang-orang yang baru lulus, umur dibatasi. Lucu lagi, ada lembaga sosial kok nyari orang yang berpenampilan menarik!” kata dia keki.

Keputusan keluar dari organisasi nirlaba di Bali juga dialami teman sekamarku, Lia. Cerita dia, tokoh-tokoh papan atas di lembaga tempat ia pernah bekerja itu lebih memilih uang ketimbang pemberdayaan. ”Harusnya, uang yang diberikan donor itu untuk masyarakat, bukan untuk dimakan sendiri. LSM kok korup.” Kata Lia, kawan-kawan yang masih seidealis dengannya satu per satu dilengserkan karena protes dengan ulah para atasannya.

LSM kok profesi
Bekerja di organisasi nirlaba memang tidak persis seperti yang kubayangkan, semua serba baik. Baik dalam arti tutur kata, perilaku hingga bersikap. Lebih-lebih bisa menjadi teladan bagi orang yang ’belum melek’ pengetahuan. Tidak semua orang di sana berorientasi kerja sosial.

Dua hari lepas dari kejadian alam yang memakan banyak korban, tsunami tahun 2004 di Aceh. Seorang kawan diujung telpon mengajakku untuk berangkat ke Aceh. Ia yang pernah bersamaku ke Kupang menjadi relawan selama dua minggu itu mengatakan, ”Lumayan jeng dapatnya. Untuk gaji aja 12 juta, belum lagi tunjangan transport, komunikasi, rumah, makan gratis selama di sana. Pokoknya bisa lah dapat 20an sebulan.”

Ia hanya sekian persen dari orang-orang yang bekerja di lembaga sosial atas dasar mengisi lowongan pekerjaan. Bencana menjadi tempat untuk meraup uang sebanyak-banyaknya. Lain lagi karena alasan ’demi’ sesuap nasi. Terlebih, jika alasannya seperti kata seorang teman pada saya begini. ”Mau pindah kemana lagi Nuk. Susah cari kerjaan, anak istriku nanti kukasih makan apa.” Jadinya, bekerja di LSM karena profesi.

Di pulau Sumatera sana, seorang kawan yang telah lima tahun ikut bergabung dalam perlindungan satwa akhirnya limbung. Para petinggi di kantornya tidak –mau- mengerti kondisi lapangan. Kebijakan tidak sejalan dengan kondisi krisis di lapangan. Di lain pihak, seorang teman yang melek teknologi justru memporakporandakan perjuangan kawan-kawan lapangan. Mengira publikasi detail akan menuai pujian, e malah justru membinasakan satwa yang dipublikasikan.

Memang ada orang yang semakin baik perilaku dan sikapnya ketika bekerja di LSM dan mampu menyelami kode etik pekerja sosial. Teman-teman yang mau belajar ini kerap kali kutemukan lebih santun tutur katanya. Bahkan tidak hanya saat mereka berada bersama orang yang didampinginya. Meski demikian, banyak juga yang masih berperilaku layaknya bos pada buruhnya.

Orientasi bekerja di lembaga pemberdayaan masyarakat tanpa penyelaman rasa justru kerapkali membuat repot lembaga. Suatu kali seorang kawan petugas lapangan berkata pada pemuda dan pemudi desa dampingannya, ”Kalian itu malas! Apa yang kalian kerjakan selama ini?! Mana bisa kalian bisa kalau malas seperti ini!”

Saya jadi tahu alasan pemuda dan pemudi desa itu tidak mau lagi melanjutkan kegiatan. Pemudi-pemudi bekas korban konflik GAM-TNI itu sampai terisak saat menceritakan kisah itu pada saya. ”Siapa yang tidak sakit dikatakan seperti itu, Kak. Padahal tanaman yang kami tanam sudah setinggi ini,” kata perempuan yang dua tahun lebih mengungsi ke Tapaktuan, Aceh Selatan itu.

Mbak Sana aktifis perempuan dari Yogyakarta pernah berkata padaku, bisa jadi kejadian-kejadian tidak mengenakkan pada orang dampingan oleh fasilitatornya ini karena tidak tepat dalam perekrutan awal. Persis seperti yang dikatakan Partono padaku, hanya sesuai kriteria administratif, pembatasan usia maksimal, lulusan bidang tertentu, bisa bahasa Inggris, bisa komputer. Dan satu lagi, mau digaji sekian!

Sangat jarang kubaca ada lowongan yang meminta orang untuk bergabung atas dasar kepedulian pada isu yang tengah diprihatinkan dan diperjuangkan. Jika kemudian melahirkan staf-staf yang hanya jadi pegawai LSM, mungkin saja itu wajar. Posisi koordinator hanya berputar pada orang-orang tertentu yang memang ogah memberikan pada generasi lainnya. Pernah keliru aku menyebut, ”Ha, dari aku masih duduk di bangku SMA dia koordinatornya sampai sekarang dia juga koordinatornya?!”

Iklan

2 Komentar

  1. dira said,

    17 Mei 2010 pada 3:07 am

    LSM memang salah satu bidang mata pencaharian.. 🙂

    • naribungo said,

      17 Mei 2010 pada 3:16 am

      ketika project tsunami mulai ditutup, katanya sempat ketakutan juga di aceh kehilangan banyak pekerjaan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: