Kala Orang Besar Buat Kerusakan


Cuaca panas tanpa angin semilir membuat ibunya Nila beberapa kali mengipaskan ujung kain jaritnya. Tubuhnya agak dibungkukkan, kakinya yang slonjoran di lantai agak ditekuk. Butiran keringat membasahi wajah petani yang baru saja selesai membolak-balik padi hasil panenannya itu.

”Tidak ada angin ya?” kata dia. Kali ini tangannya dikibas-kibaskan. Sesaat kemudian, Nila anak gadisnya yang menjadi pengurus organisasi pemudi di desanya itu, ia mintai tolong mengambilkan ijuk daun pinang. Daun-daunnya saling dikaitkan pada daun lainnya sehingga membentuk kipas sederhana. Angin dari kibasan kipas itu sedikit mengenai mukaku yang tidak tertutup kain.

”Seingat mamak, ndak pernah ada cuaca macam ini, Nak. Panas sekali! Padahal kita tinggal di desa. Gunung di dimana-mana. Gunung di sinipun masih hijau. Masih banyak pokok yang tidak ditebang,” kata dia lagi.

Nila bersama ibu dan bapaknya tinggal di Gampong (Desa) Lawe Sawah, Kecamatan Kluet Timur, Kabupaten Aceh Selatan. Gampong tempat Nila tinggal berada di Kawasan Ekosistem Lauser (KEL). Ia masuk desa penyangga Taman Nasional Gunung Lauser. Orang-orang di kawasan ini biasa menyebut bukit-bukit yang berjajar indah itu gunung.

Seingat ibunya Nila, tahun-tahun ketika Nila menginjak remaja tidak separah sekarang kondisi cuaca. Bersama warga desa lain yang menanam padi lokal, ia terkena juga imbas dari perubahan iklim. “Tahun-tahun lalu, Nak, ibu biasa menjual padi karena memang sisa untuk makan kami. Sekarang ini, wah, banyak yang kosong. Itupun kami masih beruntung karena masih tanam padi dusun. Kalau padi malaysia dari pemerintah tu, ehmm entahlah ada bisa panen atau ndak.”

Banyaknya padi yang tidak berisi menurut ibunya Nila karena hujan dan panas datang tidak seperti yang mereka perkirakan. ”Kan dulu ada musimnya hujan dan panas itu datang. Sekarang tidak lagi bisa ditanda. Panas sekali tiba-tiba hujan deras. Padinya jadi sakit juga. Asal tidak datang angin yang menakutkan itu lah. Takut ibu. Angin berputar-putar. Setua ini baru-baru sekarang ibu ketemu angin yang berputar-putar seperti itu,” kisah ibu dua orang anak ini. Wajahnya mengeryit ketakutan membayangkan angin puting beliung di desanya waktu lalu.

”Nilah kalau orang suka nebang pokok kayu banyak-banyak. Tidak dipikirkan akibatnya ke orang-orang lain. Hutan jadi gundul, kejadian banjir ada dimana-mana seperti di tivi. Kan lucu, banjir datang kok di musim panas begini. Gunung ditebang pokok-pokoknya, longsor dimana-mana. Cuaca jadi berubah tidak sesuai kodratnya. Orang lain motong-motong pokok kayu, kami semua kena panasnya. Orang besar buat kerusakan, kami yang ndak tahu apa-apa kena akibatnya,” ujarnya. Keringat masih mengucur di wajah perempuan desa yang sederhana ini.

bukit digunduli

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: