Caping Gunung Mbah Gesang


Jika orang banyak mengenang mbah Gesang dengan Bengawan Solo-nya, aku justru selalu terkenang dengan Caping Gunung. Begini syairnya,

Ndek jaman berjuang, njur kelingan anak lanang
Biyen tak openi, gek saiki ono ngendi
Jarene wes menang, keturutan sing digadang
Biyen ninggal janji gek saiki opo lali….

Neng gunung tak cadongi sego jagung
Yen mendung tak silihi caping gunung
Sukur biso nyawang gunung deso dadi rejo
Dene ora ilang gone pada lara lapa

Kusendiri tidak tahu pasti sejak kapan aku menyukai keroncong mbah Gesang yang satu ini. Kali pertama dari mulut bapak yang selalu mendendangkan klenengan atau keroncong, menjelang aku tidur dalam pelukannya. Ada rasa bercampur kala tembang ini dilagukan. Sesekali kubertanya pada bapak, ”Jaman perang biyen piye to pak? Mangane sego jagung? (Bagaimana sih waktu perang dulu? Makan nasi jagung).

Suatu kali ketika sore bersepeda onthel ’kebo’ bersama adikku, diboncengkan bapak, kami berjumpa dengan seorang pedagang tenggok (bakul). Di atas tumpukan tenggok bambu itu, tertata rapi caping yang juga terbuat dari bambu. Bentuknya menyerupai kerucut bertingkat.

Bapak mengatakan padaku, ”Kui caping gunung koyok sing dinyanyekke mbah Gesang (Itu yang disebut caping gunung seperti yang ditembangkan mbah Gesang).” Baru kutahu, Caping Gunung tercipta lewat rasa mbah Gesang.

Salaman
Konser Kantata Takwa di alun-alun kidul Keraton Surakarta akhirnya mendapat ijin meskipun polisi disebar dimana-mana. Bersama mas-masku dan tetanggaku, semuanya laki-laki kecuali aku, ikut merangsek masuk. Dari kejauhan, Iwan Fals dan Sawung Jabo hanya kelihatan seujung jari kelingkingku. Tanganku terus digenggam mas Untung, masku nomer tiga. ”Nggo ndak ilang (Ntar kamu hilang),” kata mas Untung, meskipun pada akhirnya aku benar-benar hilang.

Tubuhku yang masih terlalu kecil (saat itu aku masih SD), gesit terus berjalan maju. Seorang yang pernah kulihat di sampul kaset menegok ke arah kiri. Ia menatapku lalu tersenyum. Tangannya yang sudah berkerut melambai padaku. Bungkusan kecil di tangannya diberikan padaku. ”Dimaem yo nduk (Dimakan ya),” kata dia.

Pada bulan atau tahun yang berbeda usai aku menari di Gedung Wayang Orang Sriwedari, seorang berwajah sepuh itu bertemu denganku lagi. Padahal ia tengah berbincang dengan seseorang yang tak juga kukenal. ”O, jebul kowe pinter nari to, Nduk,” kata dia sambil tersenyum. Tangannya diulurkan ke aku. Kucium tangan tua itu ke dahiku.

”Mbah, tak bisik’i,” kataku padanya. Tubuhnya dibungkukkan menyesuaikan tubuh kecilku.

”Aku seneng lagune mbah kakung sing caping gunung,” kataku lagi padaku. Ia terkekeh senang. Lalu kepalaku yang masih bersanggul dielusnya.

Sampai sekarang kutaktahu pasti darimana keberanianku muncul, berbicara pada orang yang hanya kukenal lewat foto di sampul kaset. Semasa kini, aku merasa sangat beruntung pernah berjumpa dengan seorang maestro. Kukenang mbah Gesang hingga Sebelum Aku Mati, seperti lagunya :

“Sekali Ku Hidup, Sekali Ku Mati, Aku Dibesarkan Di Bumi Pertiwi, Akan Kutinggalkan Warisan Abadi, Semasa Hidupku Sebelum Aku Mati. Lambaian Tanganku Panggilan Abadi, Semasa Hidupku Sebelum Aku Mati”

Selamat jalan mbah Gesang….

Iklan

4 Komentar

  1. john said,

    28 Juni 2010 pada 10:20 am

    kalau mau dengerin lagu capung gunung versi baru

    http://orangutan.bandcamp.com/track/caping-gunung-tribute-to-gesang

    • naribungo said,

      29 Juni 2010 pada 3:34 am

      terima kasih informasinya bung john…

  2. 15 Juni 2010 pada 5:01 pm

    cerita yang bagus,mbak. sampai terharu bacanya. baru tahu juga lagu Caping Gunung-nya Mbah Gesang dari posting mbak ini. Selamat jalan Mbah Gesang…

    • naribungo said,

      21 Juni 2010 pada 2:41 am

      terima kasih…. yup, tembang-tembang mbah Gesang beberapa ada kisah mengharukan. salah satu tembang ada yg dibahasaindonesiakan dan dinyanyikan oleh alm. broery marantika, pamitan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: