Puasa Listrik


Listrik baru saja nyala kembali setelah empat jam mati, dari pukul 10.30–14.30 WIB. Rasa bosan tidak mengerjakan ssesuatu di jam-jam kerja membuat jenuh juga. Terlebih ketika koran dan majalah sudah habis dibaca. Apa lagi? Padahal minggu ini aku malas mengikuti berita, lebih-lebih kalau ada kata Century, DPR, koalisi ini itu. Malas sekali aku. Tapi hari ini aku mulai membaca koran lagi.

Koran lokal Serambi, hari ini masih menyajikan tingkah aneh bupati Aceh Barat, Ramli MS. Kemarin ramai soal pencopotan tiga dokter spesialis di Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh. Hari ini, kubaca berita bahwa ia telah meneken Peraturan Bupati Rok. Ya, rok wajib dikenakan muslimah di Aceh Barat. Ida yang orang Meulaboh mengatakan, “Entahlah, malas kali aku membaca berita soal bupatiku. Orang gila!”

Kompas langganan kantorku hari ini tapi kemarin juga habis kubaca. Tumben-tumben aku membaca rubrik Bisnis dan Keuangan. Tertarik kubaca ”Sri Mulyani Sering Terpana” setelah melihat foto Sri Mulyani menoleh. Sesaat teringat lebaran tahun 2008 lalu, aku lebaran di rumah dinasnya. Bukan sekedar silaturrahmi, tapi juga meminta ia ’bersuara’. Redakturku di studio KBR 68H sudah menunggu statementnya yang selalu menjadi bahan berita ini.

Sebenarnya aku mau mencari berita mengenai wafatnya mbah Gesang. Namun, jika mau membaca koran konvensional aku harus menunggu Kompas besok pagi tapi hari ini. Ups, tak perlu bingung dengan istilah hari ini tapi kemarin, besok pagi tapi hari ini. Maksudnya, koran kemarin datang hari ini, koran hari ini baru bisa kubaca besok. Maklum, koran Kompas di Tapaktuan didatangkan dari Medan. Butuh sedikitnya 10 jam perjalanan darat untuk membawa ke kota bekas penghasil pala ini.

Di kota naga ini, listrik padam sudah menjadi makanan hampir setiap hari. Jamnya, tinggal siap-siap saja, setiap saat bisa saja mati. Paling sebentar lebih dari tiga jam. Cilakanya, jika sedang berada di rumah lampu tiba-tiba padam. Apa lagi yang dipilih kalau tidak tidur sore. Berharap bangun pagi untuk segera bisa mengisi bak kamar mandi yang telah kosong sejak sore.

Kantukku setengah lelap kala Didik memanggilku untuk rapat mendadak. Nah, ini baru kerjaan. Di tengah rapat sempat terlintas dalam pikiranku, mengapa ya kami harus bergantung dengan listrik pasokan PLN. Kan sudah tahu pelayanannya hari demi hari patut dipertanyakan. Mengapa pemerintah daerah di sini tidak mau mengembangkan potensi wilayahnya. Lautan nan luas, air mengucur dimanapun dibalik bebatuan, panas terik matahari potensi yang luar biasa untuk pasokan listrik skala rumahan.

Mati lampu di sini, tidak berarti apapun dengan Desa Koto Indarung, Siurai-Urai, serta Desa Alue Keujren, Kecamatan Kluet Tengah, Aceh Selatan. Semasa pulang dari pengungsian, kampung mereka mendapat bantuan panel surya.

”Apa yang diharap lagi dari pemerintah, sudah puluhan tahun lalu kami meminta listrik mengalir di desa kami. Tidak tahu lagi apakah mereka masih punya hati,” kata seorang pemuda padaku. Aku hanya bergumam, juga saat listrik mati lagi tadi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: