Jalan Pintas Bukittinggi-Koto Gadang


Jam yang kulihat di handphoneku belum juga menunjukkan pukul 9. Hari masih pagi kala aku, Heri, dan Icha sampai di Jam Gadang, Bukittinggi dari arah Danau Maninjau. Perut kami juga telah terisi masakan padang saat kaki-kaki kami melangkah di Pasar Atas. Ini kali kedua aku masuk di pasar ini. Kali pertama, aku bersama temanku Bubung Angkawijaya saat kami masih bekerja di Komunitas Konservasi Warsi.

Batik Jawa yang sepertinya dibuat di Solo pun tampil di sini. “Batiknya Kak, silakan,” ujar kakak-kakak di sepanjang lorong pasar oleh-oleh ini. Tulisan huruf jawa pada baju-baju yang dipajang pun masih sama. Heri malah menawariku untuk membeli celana panjang. Hmm, aku sudah punya.

Tidak lebih dari 15 menit kami menyusuri lorong pasar yang di sana-sini ada sisa genangan air hujan. Keluar pasar, gantian menyusuri pertokoan. Bungkus makanan yang kami beli sebelum sarapan tadi bingung mau kubuang dimana. Di sepanjang pertokoan pinggiran Pasar Atas Bukittinggi ini tidak satupun kutemukan tong sampah. Lalu, kemana jika wisatawan yang datang akan membuang sampah? Harap simpan dulu di saku celana atau di tas.

Goa Jepang
Heri menanyakan jalan yang harus kami tempuh ke arah Koto Gadang dari Jam Gadang pada seorang penjual makanan. Bapak itu memberi tahu kelokan demi kelokan jalan yang bisa ditempuh tidak lebih dari setengah jam. ”Dekat. Dari arah jam gadang, belakang rumah sakit, nah susuri saja sampai ketemu ngarai. Tanya orang di sana. Setelah jembatan ada warung. Nah tanya orang di sana dimana jalan menuju Koto Gadang. Ada jalan pintas,” ujarnya ramah.

Panas mulai menyengat meski jam belum menanjak ke angka 10. Seharusnya kami belok ke arah kiri pada pertigaan jalan. Tapi kami berjalan lempeng lurus saja. Pada seorang satpam di sekolah dasar, Heri yang mahir bahasa Minang ini bertanya lagi jalan menuju Koto Gadang. Kami diberitahu untuk balik lagi dan belok ke kanan.

Simpang jalan kami temui, satu menurun tajam satu lagi naik. Di sebuah warung pojokan jalan di atas batu itu Heri bertanya lagi. Jika kuingat-ingat dalam bahasa Indonesiannya kurang lebih begini. ”Maunya sih naik ojek, Pak. Cuma, uang kami pas-pasan. Maklumlah Pak….” Rupanya para lelaki yang nongkrong di warung itu para tukang ojek.

Kepada Icha aku bilang, ”Asem, kok bilang mahasiswa nggak punya duit! Kenapa nggak jujur aja kalau memang niatnya mau jalan kaki.” Icha hanya tertawa. Baru kutahu kemudian ternyata itu hanya trik yang dilakukan Heri. Ya, trik berkelit dari para tukang ojek yang ’agak’ memaksa kami untuk naik ojek mereka. ”Juga trik supaya kita bisa tetap jalan dengan aman,” kata Heri padaku.

Jalanan meluncur turun pelan. Gelap dari kejauhan seperti hendak masuk ke lorong. Rupanya ’lorong’ itu hanya 10an meter saja. Tidak terlalu gelap, tapi malah dingin segar terasa. Dedaunan menutupi ’atap’ jalan ini sehingga kita seperti masuk lorong.

”Lah, ini kan jalan yang kita lewati tadi?” tanyaku pada Heri dan Icha. Sayang sopir travel yang membawa kami dari Maninjau tidak tahu dimana Koto Gadang berada. Kami kini berjalan arah balik. Bedanya, sebelumnya naik mobil, kini jalan kaki.

Lepas dari ’lorong’ nan sejuk itu, suguhan di sisi kiri adalah goa-goa Jepang di sepanjang jalan. Tidak kurang dari lima goa kami lewati. Saat kutengok, lorong goa memanjang diberi lampu pada langit-langitnya. Lampu warna kuning masih menyala hingga sesiang itu. Mungkin memang sengaja tidak dimatikan untuk menghilangkan kesan angker. Beberapa goa yang terletak persis di muka jalan tidak bisa dimasuki. Pintunya tertutup pagar besi yang digembok dari dalam. Pintu teralis besi bagian luar sepertinya masih baru.

goa-goa jepang

masih tampak kokoh

goa nan sempit

Lagi-lagi aku prihatin, sampah menumpuk di dalam goa hingga berjarak tiga meteran dari mulut goa. Sampah bekas bungkus minuman, makanan berserak tak karuan. ”Inilah Indonesia,” kata-kata dari mulutku.

Kala kepalaku melongok ke atas, sebuah goa ternganga menghadap ngarai. Ternyata tidak hanya satu, ada beberapa di dinding bukit atas. Diameternya tidak terlalu lebar seperti goa-goa yang persis di pinggir jalan. Goa-goa yang ada di perbukitan itu berdiameter tidak kurang dari satu meter. Jika masuk, tentu saja tubuh kita harus membungkuk atau bahkan ’laku dodok’.

Buruk sangka
Dari jalanan seberang goa, dinding bukit seperti bekas longsoran terlihat. Jalan di sanalah yang akan kami tempuh ke Koto Gadang jika saja tidak rusak. Makin turun makin mata kami semakin dimanja oleh alam. Rumah-rumah di bawah jalan menghadap pesawahan di kaki ngarai.

”Untung Icha tadi bilang kalau lebih baik jalan kaki saja. Kan kalau jalan kak bisa banyak yang dilihat. Bisa banyak yang diceritakan,” kata mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Islam Riau ini. Aih, padahal ia tidak mau naik mobil lagi karena hampir mabuk.

Kukatakan padanya, ”Ok, kutunggu ceritamu. Tag di facebookku ya.” Icha yang berkawat gigi itu hanya tertawa. ”Tidak janji sih Buk,” elak dia.

Buah-buah kuning menarik pandangan mataku. Saat mendekatinya, aku harus melongok lagi ke atas. Rumah yang memiliki buah unik itu memang berada jauh di atas jalan. ”Ini namanya terong susu. Kan bentuknya mirip susu,” ujar Heri. Manggut-manggut kepalaku. Baru sekarang kulihat terong seunik ini. Akupun lupa menanyakan nama latinnya, juga apakah terong jenis ini dikonsumsi atau tidak.

kata Heri, namanya terong susu

Nyengir dan berkerut dahiku saat tiba di sebuah jembatan. Panas semakin menyengat. Yup, orang-orang yang kami tanyai sebelumnya memang mengatakan, kami harus melewati jembatan sebelum akhirnya ketemu sebuah warung. Mak, dimana warungnya? Sudah lebih dari 7 Km sepertinya perjalanan siang ini. Jalan pelan karena harus mengimbangi langkah kaki Icha yang tak bisa berjalan cepat.

Tiba di pinggir jembatan di bawah bukit itu, seorang nenek renta menyapa kami. Ia menanyai tujuan kami. Bakul yang berisi pisang kepok, alpokat dan entah apa lagi ia letakkan di pagar jembatan. ”Bawalah alpokat ini. Atau pisang, Nak, untuk kalian makan di jalan,” kata dia.

Ah, aku telah berburuk sangka sebelumnya padanya. Kukira ia seorang pedagang yang juga akan memaksa kami untuk membeli dagangannya. Ternyata aku salah duga. Nenek yang kuperkirakan usianya 80an tahun ini baru pulang dari ladangnya. Ia beristirahat sejenak di pinggir jembatan.

Untung ada Pak Rusdi
Icha sepertinya sudah sangat kelelahan. Meski sebelumnya kami (aku dan Heri) tawari untuk berhenti sejenak tak mau, Icha akhirnya mencari tempat juga di pondokan pinggir jalan. Si pemilik pondok pinggir jalan di atas jurang itu juga menyewakan peralatan camping. Kata si kakak (aku lupa namanya), suaminya juga sering membawa anak-anak sekolah untuk outbound di sekitar ngarai.

Dalam perbincangan numpang istirahat itu, kakak tersebut juga memberitahu kami jalan pintas menuju Koto Gadang. ”Ada dekat sini. Itu, tidak jauh lagi ada jalan ke atas.”

Tak selang tiga menit, seorang laki-laki tua berbaju kemeja warna orange tua ikut singgah. Kami pun berbincang-bincang berpanjang lebar. Heri paling banyak bercerita. ”Nanti ikut Bapak ini saja,” kata si kakak lagi.

Baru kami tahu ternyata laki-laki tua bernama Pak Rusdi itu juga melakukan perjalanan yang sama dengan kami. Ia juga berjalan dari arah jam gadang. Tapi baju rapi yang dikenakannya tidak ada setetes keringatpun. Wajahnya pun tidak tampak lelah sedikitpun. Lempeng saja.

Laki-laki yang lahir satu tahun sebelum Indonesia merdeka ini berkisah, hampir tiap hari menyusuri Parak Tingga. Yap, jalan lintas ke arah desa Sianok ini dinamai penduduk sekitar Parak Tingga. Pada bagian bawah hingga tiga puluhan undak dibuat dari bambu-bambu yang dilintangkan. Fungsinya, supaya jalan berundak tersebut tidak longsor. Selain itu, agar pejalan tidak terpeleset saat turun menyusuri tangga.

Kali ini, langkah Pak Rusdi lah yang mengimbangi kami. Sesekali ia berhenti menengok ke bawah ke arah kami. Aku masih belum merasa haus. Bahkan sempat berphose di depan kamera Heri saat menemukan tulang rahang. Entah binatang apa.

Kiri kanan tangga masih banyak terdapat pohon salak. Semakin naik jalanan semakin bagus. Jalan setapak di atas jurang itu terbuat dari semen. ”Dulu lebih bagus lagi jalan ini. Tiap hari lah Bapak dan orang Sianok lewat sini,” kisah Pak Rusdi saat kami berhenti menunggu Icha.

Ah, Icha sepertinya sudah tidak kuat lagi berjalan. Berkali-kali kutanya apakah masih sanggup lagi melanjutkan perjalanan. Ia selalu berkata iya meskipun pantatnya tidak juga beranjak dari tangga semen itu. Tiba-tiba gadis yang usianya lebih muda dariku dan Heri 10 tahun ini mengatakan bahwa kakinya kram. Mencoba melangkah lagi beberapa anak tangga tapi kemudian terduduk lagi. Lebih dari 10 menit kami berhenti. Pak Rusdi yang masih setia menunggu akhirnya kupersilakan untuk melanjutkan perjalanan, ketimbang harus menunggu lebih lama lagi.

Perjalanan masih mengantung. Icha malah muntah. Heri mulai mrepet. ”Cha, kalau nggak kuat ya bilang nggak kuat. Turun aja ya?” kata dia.

Wew, padahal kata pak Rusdi, undakan tangga tinggal sedikit lagi. Tidak lebih dari 40….” tukas bapak 66 tahun ini sebelum pergi.


Seperti dipaksakan akhirnya lepas juga kami dari perjalanan menanjak. Mirip di belakang kebun rumah orang ketika tangga itu berakhir. Luas, mendatar, dan banyak pohon bambu. Simpang-simpang jalan setapak tidak begitu membuat kami bingung. Icha mengingatkan, ”Kata ibu tadi, kalau ada kuburan belok kiri.”

Tiba juga di Koto Gadang
Tak hanya sekedar pura-pura bertanya, kami melepas lelah lagi di rumah yang kami lewati. Tuan rumah juga mempersilakan Icha numpang ke kamar mandi untuk kencing. Aku dan Heri bertanya-tanya pada empu rumah mengenai jalan yang harus kami lewati. ”Sudah dekat. Tidak lebih dari seperempat jam sudah sampai. Lewat jalan itu lurus saja. Nanti ada plang-plangnya,” kata si ibu pemilik rumah.

Menyusuri jalan pada tengah hari membuat perutku makin mengeliat. Berkali-kali kutanyai warung di pinggiran jalan, tak satupun berjualan nasi atau lontong. Malah jumpa lagi dengan pak Rusdi. Ia tengah bercakap-cakap dengan bapak-bapak di depan sebuah rumah yang juga membuka warung kelontong.

Panas menyengat kulit saat jalan lurus itu kami lewati. Belum juga meninggalkan Desa Sianok, sebuah masjid indah belum selesai pengerjaannya membuat Heri tak mau melepaskan kesempatan. Dua tiga kali jepretan dengan picingan mata.

Menghadap persawahan nan luas, toilet masa pra kemerdekaan kami singgahi. Icha yang awalnya enggan masuk itu akhirnya masuk juga. Kisah toilet yang dibangun pada 18 JDOENI 1942 ini telah kukisahkan di https://naribungo.wordpress.com/2010/05/07/toilet-pra-kemerdekaan-ri/

Gadis kecil bersepeda menyapa kami di siang yang terik itu. ”Mau kemana kak? Mampirlah ke rumah kami sejenak,” kata dia tulus.

Panas di kepala diselingi semilir angin yang sebelumnya singgah pada padi-padi yang menghijau. Puas mata menelanjangi hamparan sawah di kaki Gunung Singgalang ini. Lirih mulutku bernyanyi, ”Padaku paman berjanji, mengajak libur di desa…. Hatiku girang tidak terperi terbayang sudah aku di sana. Mandi di sungai, turun ke sawah, menggiring kerbau ke kandang…”

Pada hamparan sawah berlahan naik ke puncak gunung itu lah rumah-rumah kerajinan perak Koto Gadang berada. Tahun yang ditunjukkan adalah 1915. Entah bangunan rumah yayasan ”Kerajinan Amai Setia” atau kali pertama perak dikerjakan tahun. Yup, jalan pintas itu berakhir di sini.

Terima kasih untuk Heri Tarmizi untuk foto-fotonya

Iklan

6 Komentar

  1. Icha said,

    31 Mei 2010 pada 3:13 pm

    icha tau artin7ya Buk,, bntr ya cha terjemahkan,,, hehehe… ( di tanah yang jauh saya teringat dengan Bukit Tinggi Yang saya cinta,,biarlah burung lepas di kandang asal jangan lepas di tangan,,

    gunumg Singalang dan Merapi, dua gunung Model kembar dua, di atas udara yang sejuk,, di lembah air mengalir jernih… ) ini terjemahannya BUk,, tp Makna nya Ntar di Cari ya Buk…

    • naribungo said,

      2 Juni 2010 pada 2:46 am

      ouw, itu toh artinya….
      apik apik…

      pengen jalan-jalan lagi uey

  2. naribungo said,

    31 Mei 2010 pada 6:49 am

    apolah artinya ambo ndak ngerti

    • Nuskan Syarif said,

      31 Mei 2010 pada 8:24 am

      hahhahahahahahahha…samo ambo juo nda ngarati bu

      • naribungo said,

        31 Mei 2010 pada 9:12 am

        wo, lha njiplak mana nus?

  3. Nuskan Syarif said,

    31 Mei 2010 pada 6:40 am

    ditanah jaooo…denai takana..jo bukik tinggi nan den cinto…bialah lapes buruang dikandang..asalkan indak yang ditangan….

    gunuang singgalang jo marapai, duo gunuang mode kamba duo. diateh udara nan sajuak, di lambah aia mangalia jaraniah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: