Rindu Sahabat Penaku


Tiba-tiba aku ingat pada Nunik. Namanya hanya kebalikan dari namaku. Nunik kukenal sebagai gadis asal Pati, Jawa Tengah. Dari foto yang dikirim kepadaku, wajahnya putih manis. Dagunya lebih lancip dari daguku. Seingatku, mirip-mirip dagunya penyanyi jazz Iga Mawarni. Nunik berambut cepak berombak. Potongannya lebih ’cewek’ dariku.

Seingatku, aku lah yang pertama kali mengirimkan surat padanya. Alamat Nunik kudapat dari sebuah majalah remaja di tahun 1994, yang kupinjam dari teman SMPku. Nunik menulis surat pada majalah itu, menyampaikan bahwa ia tengah mencari teman. Fotonya tidak disertakan dalam majalah itu.

Suratku berbalas. Nunik menuliskan jawaban-jawaban yang kutanyakan padanya. Dari coretan tangannya, ia menuliskan lahir di bulan Oktober 1979. Aku sudah lupa tanggalnya. Nunik yang kemudian kutahu anak sendang kapit pancuran (anak perempuan diapit anak laki-laki) ini berkeinginan memiliki teman sebanyak-banyaknya. Dulu kutulis dalam surat balasanku, ”Sederhana sekali ya keinginanmu, Nik”

Nunik kawan yang asyik. Dia sangat suka bercerita tentang desanya yang di pesisir pantai utara jawa itu. Pernah suatu kali Nunik bercerita mengenai nasi gandul, makanan khas Pati. Kata Nunik dalam suratnya waktu itu, ”Karena penjualnya keliling kampung memakai pikulan, jadi gondal-gandul pikulnya. Itulah mengapa disebut nasi gandul. Tapi ada juga yang bilang karena nasinya yang dijual di warung-warung makan digandulkan.”

Pun aku sering bercerita padanya tentang kotaku, Sala. Kami pernah saling berharap suatu saat kami bisa bertemu secara langsung. Berkomentar, ”Oh, kamu ternyata lebih cantik dari foto yang kamu kirimkan.”

Tapi Nunik tak pernah bertemu denganku. Tiga kali surat yang kukirimkan padanya tak pernah terbalas lagi. Ya, sejak ia bercerita mengenai kondisi kesehatannya yang semakin memburuk. Dari seorang teman relawan yang juga berasal dari Pati dan ternyata kenal dengan sahabat penaku ini, Nunik telah meninggal. Nunik yang selalu suka memanggilku ”Nduk Ninuk” ini meninggal karena kanker paru-paru.

”Nik, hari ini ingin kubaca lagi surat-suratmu yang ikut terendam banjir pada akhir tahun 2009 lalu. Sayang, surat dan fotomu tidak kubawa. Rindu aku pada tulisanmu yang rapi dan bercita rasa anak muda itu. Semoga engkau mendapat tempat terbaik bersama Sang Pengasih ya Nik…”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: