Orang-Orang Itu Menamparku…


Bungkus kertas sebesar dua genggam tanganku masih erat dalam dua telapak tangan yang terbuka. Lelaki tua yang kuperkirakan lebih dari 60 tahun itu tidak segera membuka bungkusan itu. Matanya terkatup rapat tapi sangat tenang. Lebih dari dua menit ia terdiam. Posisi duduknya sangat tidak nyaman. Ia jongkok untuk menghindari celana coklatnya semakin kotor. Lantai tempat ia jongkok memang jalan lalu lalang orang hendak menuju ke toilet. Bapak yang tak kutahu namanya itu duduk hampir di pojokan luar bangunan Rumah Makan Rizki Ramayana, di Merek, Karo, Sumatera Utara.

Raut mukanya berseri ketika tangannya mulai membuka bungkusan di tangannya. Sebungkus nasi, berlauk ikan asin dan sedikit sambal warna merah. Tidak ada lauk lain. Tidak juga daun ubi (singkong) untuk kudapan seperti di rumah makan masakan padang. Lahap betul ia makan. Daun pisang di dalam kertas coklat itu pasti menambah selera makan. Sesekali ditegaknya air dari botol minum kemasan. Aku hanya mengira-ira, nasi bungkus itu dibawanya dari rumah. Mungkin saja masakan istri tercinta. Sambil melahap, tak diacuhkannya orang-orang yang melewatinya.

Tak jauh dari sang bapak, seorang anak kecil berdiri bersandar tiang bangunan. Bajunya berlubang di sana-sini. Jaket hitam yang ia kenakan sangat besar, melebihi dengkul kakinya. Jagung bakar yang sudah dimakan sebagian, erat dalam genggamannya. Matanya liar menatap pada orang-orang dewasa yang turun dari mobil angkutan. Tidak ada satupun yang mempedulikannya, juga aku.

Ia mirip anak gelandangan meski aku tak tahu pasti. Entah mengapa berat kakiku untuk mendekatinya. Padahal mata anak yang kira-kira berusia 10 tahun itu sempat bertatapan denganku. Ia menelan ludah ketika melihat bapak-bapak di dalam ruangan lahap menikmati ikan bumbu. Akh, mungkin anak laki-laki itu kelaparan.

Padahal baru saja aku keluar dari rumah makan. Belum juga 15an menit aku mengatakan pada suster dan bang Putra, ”Bosan makan makanan beginian.” Ya, beginian yang kumaksud adalah lauk ayam, daging sapi atau lembu, ikan air tawar, maupun air laut. Jika merasa masih kurang, aku bisa memesan menu lain seperti yang Ida, Pak Ras, dan Bang Putra. Mereka juga memesan sup daging lembu.

Semua ada di atas meja, tinggal pilih mana yang disuka. Bahkan sebelum berjumpa dengan bapak yang jongkok dan si anak berbaju kumal, aku malas berhadapan dengan lauk berlimpah do depanku. Ada yang terasa kurang di atas meja. Tapi aku tak tahu menu apa lagi yang bisa menambah selera makanku. Tak ada syukur sedikitpun hingga tamparan itu dihadapkan di dadaku.

Lalu, tamparan itu mendarat lagi untuk ketiga kalinya di tempat yang sama. Persis di depan mushala, juga di samping toilet, sekeluarga lahap memakan makanan yang mereka bawa sendiri. Berbungkus koran dan beralas daun pisang. Balita lak-laki yang disuapi ibunya dengan sayur kangkung berkata, ”Nakk mak, enak.” Enak dengan akses e seperti kita mengatakan elang.

Kuingat-ingat ketika mobil sudah meluncur menuju Aceh. Aku kerap mengeluh, menu yang dibeli Rico tidak sesuai selera. Ogah-ogahan makan hidangan yang telah diantri oleh Rico. Mak, seharusnya aku bersyukur jarang merasakan lapar. Juga bisa memilih menu makanan yang bertebar di atas meja, tanpa harus mengantri panjang seperti yang dilakukan Rico.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: