Jika Piala Dunia Tanpa Listrik


Belakangan ini, suara-suara luapan kekesalan karena listrik dimatikan PLN sudah jarang terdengar. Suara mulut bernada uring-uringan itu biasanya datang dari kami, aku dan teman-teman, ketika kaki mulai beranjak mendekati rumah mess. ”Walah, listrik mati lagi!” Atau ucapan cerewet mbak Rita, ”Mbayar listrik ajeg, mati listrike yo ajeg. Cen bajigur tenan kok PLN ki (Bayar listrik rutin, listrik mati juga rutin. Memang brengsek PLN nih!)”

Bulan-bulan lalu, bahkan setiap dua hari sekali listrik mendapat giliran pemadaman. Lebih mengesalkan, listrik sengaja dimatikan ketika jam-jam yang sangat dibutuhkan! Jam-jam mati listrik biasanya sore menjelang maghrib sekitar pukul 17, sampai pukul 00. Kalaupun PLN menghidupkan listrik lagi, orang-orang sudah tidur dalam kegelapan. Jika dirasakan kurang, pagi usai subuh listrik dimatikan lagi. Repotnya, air di sini pakai pompa listrik. Kerapkali bimbang memilih bertoleran dengan teman yang masih istirahat, atau mengejar listrik sebelum ia dimatikan PLN.

Aku sendiri tidak tahu pasti ada pemikiran apa oleh para ’pemangku jabatan’ di PLN Aceh Selatan. Listrik menjadi byar pet kala situasi normal. Menurut cerita banyak orang padaku, masa konflik GAM vs TNI waktu lalu listrik tidak pernah dipadamkan. Sampai-sampai Uben pemuda mantan kombatan dari Kluet mengatakan padaku, ”Apa iya harus konflik lagi, kak, biar listrik terus hidup seperti dulu? Kami tidak hidup dalam kegelapan.”

Namun, sejak Piala Dunia digelar di Afrika Selatan bulan ini, listrik sangat jarang dimatikan oleh PLN. Sekali terjadi hari Selasa (22/6) lalu. Itupun tidak sampai satu jam dan di jam siang. Entah ada hubungannya atau tidak aku tidak tahu pasti. Terpasti, saat ini tidak ada lagi listrik mati setiap hari. Boleh jadi para pegawai PLN di sini juga para penggila bola. Tapi bisa jadi juga PLN takut kena semprot warga pecinta bola.

semarak piala dunia...
Jika listrik terus dimatikan PLN saat Piala Dunia berlangsung pastilah kedai-kedai kopi di sini merugi. Selain Bank BRI, belasan kedai kopi di Tapaktuan membuka gerainya hingga pagi. Merekalah yang menyediakan tontonan gratis Piala Dunia. Sebab, memang tidak semua tv yang ’berparabola biasa’ dapat menikmati siaran bola kaki itu. Tapi biarpun gratis nontonnya, tidak gratis untuk segelas kopinya. Yup, dan sudah barang tentu PLN sangat turut andil dalam memberikan hiburan bagi warga di kota naga ini.

”Mana berani PLN matikan lampu di malam hari.. Habis orang itu kalau sampai mematikan listrik saat orang nonton Piala Dunia,” begitu kata seorang Bapak sopir becak yang kutumpangi. Ah, betul juga.

Iklan

2 Komentar

  1. naribungo said,

    28 Juni 2010 pada 6:31 am

    hehehe, orang kota sudah sangat tergantung dg listrik di… dulu aku belajar sama orang rimba tanpa pernah pake listrik,tp pakai damar. thaks utk komennya ya

  2. Adi said,

    28 Juni 2010 pada 6:25 am

    Yang saya takuTi pas lagI belajar lampu mati,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: