Kala Piala Dunia Hanya By Internet


Demam piala dunia makin lama makin memanas. Demam ini juga melanda teman-teman sekantorku di Aceh Selatan. T-shirt tim kesayangan telah mereka pesan jauh sebelum piala dunia berlangsung. Setiap kali ada kawan yang pulang ke Jawa, pasti ada saja yang menitip T-shirt bertulis dan bergambar tim kesayangan. Bahkan, sampai ada kawan yang menitip dibelikan bendera Negara saat seorang kawan pergi ke Negara tersebut.

Bagi Anda maniak piala dunia yang tinggal di wilayah ‘normal’, tentu tak perlu repot-repot untuk memelototi layar tv. Di wilayah normal, channel tv yang menayangkan piala dunia tinggal diklik dan otomatis tontonan spektakuler itu bisa dinikmati. Sedangkan di Tapaktuan, Aceh Selatan, juga di banyak wilayah lain di negeri kita, seperangkat parabola bahkan harus digunakan dalam keseharian untuk menikmati acara tv.

“Kalau pas diacak pas muncul Tapaktuan kita bisa nonton, kalau nggak ya nggak bisa nonton. Lagian, apa ya ada yang mengenal Tapaktuan? Wong gempa sebesar kemarin (7,2 Sr) di Meulaboh yang dekat sini aja, berita di tv yang muncul terus malah wilayah Banda Aceh. Tapaktuan nggak pernah satu kalipun disebut,” tukas seorang kawan.

Hanya tempat-tempat tertentu yang bisa dan mampu menayangkan piala dunia. Di kota bekas penghasil pala ini, banyak yang menggunakan Receiver Matrix Soccer. Hal ini pula yang dimanfaatkan banyak warung kopi di Aceh. Tak heran, hari-hari menjelang piala dunia berlangsung warung-warung kopi memasang spanduk “Nonton Bola Gratis, Bisa Sambil Ngopi di Sini.”

Ada beberapa teman yang memilih menikmati piala dunia di warung kopi. Tetapi banyak juga yang memilih nonton gratis ke Bank BRI di Jambo Apha. “Enak nonton bareng di sana, Nduk. Tapi nggak enaknya nggak boleh dan nggak bisa beranjak dari kursi jika nggak ingin kursinya diembat penonton lain,” kelakar pak Rasidi. Tidak jarang juga ada penonton yang sengaja membawa kursi dari rumah.

Bola Net
Semingguan yang lalu, Bang Tapoen, BangAdi, dibantu Munawar petangkringan naik di sandaran kursi untuk memasang layar warna putih. Rupanya mereka juga makin lama makin ‘sesak nafas’ karena tiap kali nonton bola harus ke tempat gratisan. Dede, kawan kantorku yang ahli otak-atik internet memberitahukan pada kawan-kawan bahwa ada situs internet yang bisa dipakai untuk menikmati gol-gol indah. Mungkin Anda pun tahu, situs itu adalah indoweb.tv/bola

Farida kawan satu messku yang menjagokan Jerman sejak ia mengenal bola tak mau ketinggalan. Meski Jerman berhasil memencundangi Inggris 4-1di babak 16 besar, ia kecewa berat. Gol keempat Jerman yang dicetak Thomas Muller untuk kedua kalinya tidak sempat disaksikan Farida. Apa pasal? Siaran langsung lewat jaringan internet ngadat bermenit-menit. Umpan Klose di sayap kanan pada Muller di kotak pinalti Inggris yang membuahkan gol keempat tak keluar dari layar laptop.

Miroslav Klose (kiri) dan Thomas Mueller (AP Photo/Bernat Armangue)
“Masak, di tempat lain orang-orang sudah teriak gol, sudah dapat hasil 4-1, di sini berhenti di gol ketiga! Sial memang jaringan internet di sini!” sesal Farida, berapi-api.

Kisah serupa juga ternyata dialami bang Tapoen dan kawan-kawan yang memasang layar di salah satu ruangan di kantor. Tendangan-tendangan fantastis kerapkali terlewatkan karena jaringan internet ngadat. Yah, inilah nasip para pecinta bola yang tidak dapat menyaksikan secara langsung di layar tv. Alhasil, piala dunia juga mengajarkan pecinta bola untuk menjadi penyabar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: