kenapa kutanam pohon kalau kamu…

Sudah berhari-hari tak kubaca berita, juga kupilih menikmati musik ketimbang mengklik berita radio di internet. Tapi baru saja kumerasa rindu untuk membuka Kompas.com rubrik sains.

Kabar di hari Minggu (25/7) lalu pak Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengajak setiap satu orang untuk menanam 60 pohon. Hmm, sesaat kurasa ajakan tersebut sangat mulia. Tidak ada yang salah dan aku tentu mau melakukannya.

Tapi kemudian kepalaku berdenyut mengingat kampung halamanku di Solo sana. Aku ingin rumahku dikitari pohon-pohon rindang nan menyejukkan. Pertanyaanku, kutanam dimana ya? Bahkan pohon-pohon yang kami tanam di depan rumahku pun harus ditumbangkan karena ada pelebaran jalan. Sedangkan di tanah yang lain, apa iya boleh kutitipi pohon untuk tumbuh di sana?!

Suatu kali, aku pernah berkhayal. Di sepanjang jalan kampungku, di pinggir-pinggirnya ditumbuhi pohon-pohon buah dan obat. Ya sawo, mangga, rambutan mahoni, asam jawa, jambu dan lain-lain. Tentu selain sejuk jika berjalan di bawanya, saat-saat pohon mulai berbuah, warga tidak perlu mengeluarkan uang lebih untuk membeli buah. Yap, kebutuhan buah pada warga kampungnya yang bisa kubilang menengah ke bawah pasti –setidaknya- kala-kala terpenuhi.

Fantasi tinggal fantasi karena di sepanjang pinggiran jalan aspal, yang masih tersisa tanah malah ditutup semen! Saat kemarau tiba, serasa berada di panggangan api ketika berjalan di sana. Sebaliknya kala hujan turun, air hanya mengalir terus sungai dan membanjiri beberapa kawasan. Huah, air hujan toh akan lebih baik jika menyerap di tanah. Dulu aku dibilang orang aneh karena aku membuat lubang-lubang biopori di depan rumahku.

Jauh di pantai utara Jawa sana, seorang kawan tanpa bantuan dari manapun menanam pohon bakau di sepanjang pantai. Selain bakau, pada pasir pantai juga ia tanam cemara laut (Casuarina equisetifolia L.). Untuk apa?

“Kasihan petani-petani melati itu, Nuk. Sekarang lahan mereka makin sempit karena air laut mengurangi luas lahan mereka. Hasilnya yang sedikit semakin tidak bisa dipakai untuk makan. Jika bakau ini tumbuh besar, ia bisa melindungi cemara juga. Cemara bisa melindungi kebun melati petani. Bakau hidup, nelayan juga nggak perlu susah-susah cari ikan ke tengah laut sana,” kata mas Yudi padaku.

Apa nyana, bibit bakau dan cemara yang ia tanam berbulan-bulan coklat seperti terbakar. Sidik selidik, bibit-bibit yang ditanam mas Yudi disiram minyak tanah. Oleh siapa, mas Yudi ternyata telah mengetahui sejak lama. ”Kalau yang kayak gini sih, ini sudah hampir ke sepuluh kalinya, Nuk. Sudah biasa. Besok saya akan tanam lagi,” ujarnya tetap semangat.

Dimana, Mengapa?

Tentu aku sangat mendukung ajakan pak Menhut untuk menanam pohon. Benar kata dia, bawa untuk cinta pada alam sebenarnya sangat mudah. Minimal setiap orang selama hidupnya menanam 60 batang pohon. Namun, aku masih tetap bertanya dimana kutanam pohon sebanyak itu? Apa iya hanya cukup menanam? Sudah ada survey kah tiap kali acara penanaman pohon yag disaksikan -juga dilakukan- oleh para pejabat kita juga dipelihara dengan baik? Ya, sehingga ia menjadi pohon yang perkasa?

Mengapa harus kutanam pohon jika pembukaan hutan untuk lahan perkebunan kelapa sawit, akasia, atau memang sekedar panen kayu tanpa menanam lagi hanya dibiarkan begitu saja? Mengapa anak-anak rimba yang melaporkan pembabatan hutan di dalam taman nasional tidak pernah digubris? Mengapa membiarkan Patih Laman dan orang-orang Suku Talang Mamak sampai mengembalikan Kalpataru agar hutan mereka kembali? Mengapa…..?

Nikmatnya tak kenal Indonesia…

Iklan lewat, remote tv pun diklik Ida dari acara kuis asah otak ke acara gossip selebriti. Acara itu diputar masih pagi untuk ukuran waktu di sini (Aceh). Usai liputan proses perceraian Raul dan Silvalay Noor Athalia, gossip selebriti ini menggulirkan kabar lain. “Tumben gossip mbritakke koyok ngene. Mekso…. sing diwawancara pemain sinetron (Tumben acara gossip memberitakan berita seperti ini. Sedikit memaksakan, yang diwawancarai pemain sinetron),” kataku pada mbak Santi.

Infotainment pagi tadi ‘ikut-ikutan’ mengabarkan pelelangan benda-benda bersejarah. Yap, mulai Monumen Panglima Jenderal Sudirman yang ada di kota asal pak presiden, sampai benda-benda cagar budaya di Cirebon. Nilai sejarah barangkali sudah terlalu murah ketimbang uang yang entah nantinya buat siapa.

”Ugh, kira-kira apa lagi yang akan dijual dari negeri ini ya? Tanah sudah dijual, air sudah dijual untuk rakyatnya sendiri. Mati saja aku kalau nanti udara yang bebas ini juga diperjualbelikan,” kataku pada diri sendiri. Mbak Santi, Ida, Mbak Elis sudah sibuk mempersiapkan pagi.

Berita pelelangan habis, kuklik remote ke stasiun lain. Walah, ternyata tak kalah memuakkan kabar tersiar. Anak 4 tahun terkena ledakan tabung gas. Huhu, sarapan pagi di negeriku sungguh-sungguh mengenyangkan otak dan dadaku. Penuh dalam waktu sekejap saja. Saat menulis ini pun, wajah anak yang terbakar dan rengekan tangisnya masih terngiang di mata dan telingaku. Tapi aku bisa berbuat apa?

Otakku malah membimbing mundur ke tahun-tahun lalu. Ia juga mengembalikan ingatan pada foto-foto Suku Korowai yang dimuat di koran Kompas hari Minggu dua hari lalu. Betapa senang saat aku berada di hutan bersama saudara-saudaraku suku minoritas. Betapa tenang rasaku hidup tanpa tahu kabar di luar sana. Hingar bingar penguasa yang berlomba-lomba berebut kuasa dan memperkaya diri sendiri. Tiba-tiba wajah Nyingkap, bapaknya Mulung yang Orang Rimba itu muncul.

indonesia yoi apo? (foto milik kki warsi)”Au lah ndok ngapo. Lah ado pemakonon, lah ado kupi. Lembau lah ado podo huma. Yo lah tiduk-tiduk mumpa nio bae ibo….(Ya mau ngapain lagi. Sudah ada makanan, ada kopi. Ubi juga sudah ditanam di ladang. Ya tidur-tiduran saja seperti ini),” ujarnya sambil menunggui anak-anak belajar baca tulis hitung.

Sepertinya asyik hidup dalam keterasingan, tak mengenal negara, pak menteri punya kebijakan baru, pak anu lagi adu kekuasaan dengan bu una, harga cabe naik. Wong menanam sendiri di ladang. Bersungut-sungut seperti Mulau yang bertanya padaku, “Apo yoya peresiden?” atau “Indonesia yoi apo, Guding?

Hmmm, sesaat terdiam. Kuhanya bisa berharap dan berdoa, semoga orang-orang yang terpilih dalam tampuk kekuasaan di Jakarta sana masih punya telinga, mata, rasa, nurani untuk orang-orang yang dikuasainya. Semoga Sang Pengasih masih mengasihi negeri ini dan melindungi ’yang terkuasai’ dari kerusakan dan derita.

Ada to, Aktivis Selebritis…

Kalau dulu aku pernah berkisah tentang pegawai LSM (http://sosbud.kompasiana.com/2010/05/17/pegawai-lsm/), kini aku akan bercerita tentang aktivis selebritis. Istilah aktivis selebritis ini sendiri kudengar pertama kali dari mulut mbak Bonnie dan mbak Sana. Mereka berdua aktif di pendampingan perempuan di pelosok-pelosok desa.
– –
“Sampaikan salam saya untuk kak tittttt (Namanya sengaja kusensor hehehe…) ya. Saya sangat bangga padanya. Kemarin sore saya lihat berita di tv, ia menerima penghargaan lagi. Sungguh sangat hebat!” abang-abang yang di kemudian hari kutahu para coordinator tim itu hanya tertawa lebar. Si bule yang ikut mewawancaraiku juga tertawa.

Di hari-hari berikutnya, kabar yang kurang sedap mengenai orang yang kutitip salam semakin terasa. Kisah kesohorannya di berbagai media, terutama media nasional, ternyata sangat jauh berbeda dari cerita masyarakat atau orang-orang desa yang pernah dekat dan mengenalnya. Cerita tidak mengenakkan itu justru tak pernah muncul dari mulut para abang-abang, si bule, juga kawan-kawan sekantorku, bahkan hingga sekarang. “Daripada mengumbar energi untuk meluruskan masalah ke public, mendingan focus kerja untuk masyarakat dampingan,” begitu kata kawan yang masih bekerja di lembaga tersebut.

diambil di maryulismax.wordpress.com/2006/0...ngudara/Sedangkan teman-temanku wartawan. baik media local maupun nasioanal yang memang tinggal di wilayah itu, memilih tidak mau memberitakan kak tittttt itu tadi. “Ngapain juga ngliput aktivis selebritis? Datang ke masyarakat Cuma kalau ada media Jakarta atau asing mau datang. Tiga hari empat hari jeprat-jepret selesai pulang! Dasar orang –media- Jakarta aja yang bodo, terus-terusan mengekspos orang begituan!” ujar Kak Yanti yang wartawan media nasional.

Kekesalan Kak Yanti benar adanya ketika sekelompok orang yang katanya didampingi si aktivis selebritis mengatakan, ”Si Tittttt datang ke sini kan kalau ada orang suting-suting, foto-foto. Paling lama empat hari dia di sini, setelah itu pergi dengan orang-orang yang suting-suting.

Belakangan aku banyak mendapati cerita yang sama. Ternyata bukan hanya para artis sinetron saja yang suka diekspos media. Pun seorang aktivis juga satu dua ada yang suka nongol di media.

Kisah yang kudapati waktu lalu, seorang aktivis selalu berkoar-koar di media mengenai wilayah tertentu. Tiada waktu rasanya tanpa menceritakan pengalamannya mendampingi masyarakat di beberapa tempat. Eh, pas tidak sengaja kuberada di daerah yang diceritakannya, bahkan orang-orang di sana bahkan tidak mengenal namanya. “Tapi orang itu bercerita mengenai daerah ini begini, begini… masak orang itu bohong, Bu?” tanyaku. Ibu-ibu di sana malah tertawa.

“Mana ada orang itu menunjukkan batang hidungnya ke kami. Tidak pernah sekalipun ia mendampingi kami,” kata seorang ibu dengan muka kesal. Di belakang hari, ternyata si aktivis yang mengaku melakukan pendampingan di wilayah itu ternyata hanya memakai pengalaman orang lain dan mengatasnamakan dirinya.


Aktivis selebritis ternyata tidak hanya kujumpai di kota besar Jakarta. Di beberapa wilayah, kutemui pengalaman yang sama. Kalaupun tidak –hingga- dikenal di media, paling tidak ia ingin menunjukkan bahwa perjuangannya pantas diketahui teman-temannya sendiri. Bahwa kerja kerasnya seharusnya diapresiasi dengan sangat baik oleh teman-temannya. Meskipun, “Yah, yang seperti itu kan biasa. Lagian kalau nggak mau mendapat tanggungjawab seperti itu ya mundur saja.”

Lalu ketika perjuangannya gagal dan respon teman-teman pada perjuangannya hanya biasa-biasa saja, aktivis selebritis ini akan mempersalahkan semua orang. Tidak sedikit ketika aktivis selebritis gagal mendapat dukungan dari mayoritas, ia akan semakin mempererat hubungan dengan sesama aktivis selebritis. Dulu di tempat kerjaku dikenal sebagai kelompok barisan sakit hati.

Beberapa orang memilih mengundurkan diri untuk menjadi ‘saingan’ dari lembaga yang pernah membesarkannya. Meski demikian, ada juga yang enggan meninggalkan lembaga lama untuk ikut bergabung di lembaga baru. Itu dilakukan karena nafkah di lembaga baru tidak terlalu menjanjikan seperti di lembaga yang terus dibencinya. Pikiran jenis ini lebih dikatakan sebagai oportunis. Aktivis selebritis jenis ini tidak lebih bahaya dari aktivis selebritis yang memilih masuk di lembaga barisan sakit hati. Sebab, ia tidak segan-segan untuk ‘membocorkan’ informasi dari tempat ia mendapat sesuap nasi.

Pada kondisi yang pernah kujumpai, aktivis selebritis di kelompok sakit hati terus menyebar gosip murahan ke pihak-pihak yang sebenarnya netral atau tidak ambil pusing. Sampai di titik ini, temanku yang kerap kupanggil uni mengatakan, “Biarlah Tuhan yang akan mengadilinya. Capek meladeni aktivis selebritis…”

Perkara kuno yang pernah muncul, aktivis selebritis baik yang berkeras bertahan di lembaga yang dibencinya sekaligus menghidupinya, juga aktivis selebritis yang membuat kelompok barisan sakit hati malah melupakan tujuan utama. Apa itu? Ya memberikan pelayanan pada orang-orang yang patut ia beri pelayanan.

“Yah, kok kisahmu nggak membanggakan to? Mbok berkisah tuh kayak aktivis anti korupsi yang sampai diteror sedemikian rupa, digebuki! Kok nggak ada cerita kaya Munir yang sampai dihilangkan nyawanya,” kata Nunung teman masa kecilku di kampungku, Solo.

Menikah kok malah menderita

“Nduk, sorry yo. Mengko wae telpon meneh. Lagi raiso diganggu (maaf ya, nanti telpon lagi saja. Lagi nggak bisa diganggu),” ujar sahabatku di ujung telpon. Tersentak kaget aku mendengarnya. Ia yang sudah kukenal lebih dari sepuluh tahun ini tidak pernah mengatakan seperti itu sebelumnya.

Padahal sebelumnya aku mengatakan, “Hai nduk, selamat ulang tahun ya. Mugo-mugo tansah bagas waras blab la bla…” Harapku memang demikian, dengan bertambahnya usia, Nur tetap sehat dan ceria seperti dulu.

Tidak kurang dari lima belas menit kemudian sebuah pesan pendek masuk di handphoneku. Yup, dari Nur. Kata dia dalam layer hpku, “Nduk, ngapurane yo langsung tak pateni telponmu. Yen bojoku neng omah, aku kudu ngancani, turu awan we yo kudu tak kancani. Raetuk diganggu apapun, termasuk telpon & sms (Maaf ya, -tadi- langsung kumatikan telponmu. Jika suamiku di rumah, aku harus menemaninya, tidur siang sekalipun harus kutemani. Tidak boleh diganggu apapun, termasuk telpon dan sms).

Sejak hari itu, aku tak pernah lagi menelpon dan bahkan mengirimkan pesan pendek sekedar, ”Gi ngopo e, Nduk (Lagi ngapain)?” Aku takut menganggu Nur. Lebih tepatnya mengganggu hubungannya dengan suami. ”Kalau aku telpon, ntar suaminya malah marah-marah padanya” dan sebagainya dalam pikiranku.

Nur sesekali mengajak chat di facebook. Akunya, ia sedang berada di sekolah tempat ia mengajar, tetapi juga sedang tidak ada jam mengajar baginya. Kata Nur, saat-saat seperti inilah ia bisa berkomunikasi dengan teman-teman. Jika sedang berada di rumah, ketika suaminya pulang dari bekerja di pulau lain, ia tidak bisa (boleh) berkomunikasi dengan siapapun. Dulu sebelum telponku yang ’ditolaknya’ kubertanya pada Nur, ”Lha awakmu jek manggon neng omahmu dewe? Betah juga awakmu due bojo koyo ngono ya (Kamu masih tinggal di rumahmu sendiri –keluarganya. Betah juga kamu punya suami seperti itu)?” Aku masih bisa bercanda padanya saat itu.

– –
Lalu ia bercerita banyak hal lewat email. Perih rasaku ketika Nur menulis, ”..nek masalah pas kowe telpon kae, selain emang aku terbatasi, juga waktu sing kurang pas..aku ra iso nang ngndi2 coz kuwi wayahe ngge de’e..makane isoku bebas mung jam sekolah wae..kadang saking tertekanne, sampe aku kepikiran bunuh diri koq nduk.. (Jika soal kamu telpon, selain waktu yang tidak pas, aku tidak bisa kemana-mana karena saat itu waktu memang untuk dia. Makanya aku bebas hanya saat jam sekolah. Terkadang karena tertekan, aku sampai terpikir untuk bunuh diri).”

Dulu sebelum menikah, Nur pernah bercerita tentang keluarga calon suaminya. Ia akan mendapat suami dari keluarga yang sangat agamis. Saking agamisnya, ibu calon mertuanya tidak bisa bepergian tanpa ditemani saudaranya atau anaknya. Calon bapak mertuanya pun jarang berada di rumah. Ia bekerja di pulau lain, sama dengan calon suami sahabatku waktu itu.

Nur tidak menyangka ia akan mendapat perlakuan serupa. Lebih parah lagi, untuk sekedar bertanya kabar dengan kawan-kawan sekelas saat kuliah pun tidak diperbolehkan. Padahal kawan-kawanku dan Nur sudah seperti saudara dalam sebuah keluarga, sangat akrab dan dekat.

Dahulu Nur sangat percaya diri bisa mengajak –calon- suaminya untuk hidup lebih terbuka, ”Moderat dalam berpikir, nggak sempit dalam pemahaman agama.” Nur yang selalu bikin rame itu ’kalah’ saat ini. Ia frustrasi menghadapi laki-laki yang telah dipilihnya menjadi pendamping hidupnya.

Akh, Nur, kamu menambah deretan kisah sedih teman-temanku perempuan yang justru terpuruk dalam pernikahan. Padahal jalan ini dulu kau pilih untuk menghindari omongan orang yang mengataimu, ”Perawan tua, nggak laku nikah.”

Nur, kuyakin kamu bisa dan punya hak untuk hidupmu yang lebih bahagia.

Hantu itu Hanya Tulisan

Al yang tidak terlalu akrab denganku tiba-tiba menyapaku. Gerangan apa yang mengajak tangannya utk mengetikkan huruf-huruf untuk menyapaku? Tak lama ‘berbasa-basi’, Al yang pendiam itu curhat padaku.

“Saya lagi sedih ibu,” kata dia dalam chat di halaman bawah facebook.

Telisik kutelisik, kesedihan Al itu berujung pada buku catatannya. Buku yang katanya telah tertuliskan kisah berhalaman-halaman itu hilang di kampungnya. ”Tidak ketemu juga bu. Entah dimana hilangnya.”

Mahasiswa yang baru saja memiliki adik ini berkisah, cerita itu kali pertama ia tulis. Niat Al, kisah itu akan diketik, lalu diberikan padaku untuk dibaca sebelum ditag di halaman facebooknya. Ya, aku bisa merasakan kesedihan Al.

Perjalanan hidupku yang tidak terlalu penting untuk orang lain pernah juga hilang. Aku sendiri lupa berapa tulisan tentang kehidupanku ketika di rimba Jambi yang hilang. Dasar aku yang gaptek, tidak mau bertanya pada teman, semua tulisan di flash disk lenyap dimakan virus.

Al pantas bersedih, begitupun aku. Ia sedih kehilangan kisahnya, aku sedih tidak jadi membaca kisah yang ditulisnya. Semangatku padanya waktu itu, ”Memungkinkan nggak kalau ditulis lagi?”

Tentu, menulis lagi hanya berdasarkan ingatan tidak seperti ketika menuliskannya pada saat awal. Rentetan omongan, alur, pilihan kata memang lebih asyik mengalir tanpa harus kita mengingat-ingat sesuatu yang pernah dituliskan.

Al hanya menjawab, ”InsyaAllah, semoga…”
– –

Ingatanku pada1993an kala aku SMP datang lagi. Sekelompok orang berbadan tegap menyambangi rumahku. Aku tidak pernah tahu siapa mereka. Sesekali senjata laras panjang diarahkan pada ibu, bapak, aku, dan anggota keluargaku yang lain

Seisi rumah diubrak-abrik, tak terkecuali isi lemari. Tatapku hanya tatap mata bingung tak mengerti. Buku-buku yang mereka bawa keluar, lalu ditumpuk di depan rumah bukan saja buku milik bapak, atau juga buku pinjaman dari teman bapak.

fotocopy-nya pun dibakar (foto diambil di phatinjo.blogspot.com/2010/01/bu…oer.html)Tumpukan kertas itupun masih tertuliskan ”Buku Matematika, kelas 2 SMP” dan buku-buku pelajaran lain. Juga buku pelajaran sekolah milik mbakku yang SMEA waktu itu. Diantara buku-buku yang dibuang ke luar rumah itu adalah buku-buku ’hitam’. Buku-buku yang beberapa diantaranya foto copy itu juga berjudul ”Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, Memoar Oey Tjoe Tat.”

Aku hanya menatap nanar, begitu juga ibu. Tak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi. Ahk, bapakpun juga tak berbuat apapun. Almarhum bapak saat itu hanya berpesan pada ibu, ”Kalau aku dibawa lagi, jaga anak-anak.”

Bapak memang tidak pernah ’dibawa’ lagi. Namun, pembakaran semua buku di rumahku membuatku gamang. ”Sesuk gek piye yen aku sekolah? Kan bukune diobong kabeh, Pak? Buku nggone sekolahan yo katut diobong (Bagaimana besok aku sekolah? Kan semua buku dibakar? Buku milik sekolah –yg bertulis ”Milik Negara. Tidak diperjualbelikan”-pun ikutan dibakar).
– –

Buku itu tidak pernah kutulis. Kisah-kisah itu adalah karya orang-orang. Aku, almarhum bapak hanya sebagai salah satu penikmat goresan indah karya para penulis. ada Al, betapapun aku merasa sangat bersedih .Karyanya belum sempat kubaca hilang. Pun ketika tulisanku dimakan virus.

Sesaat kumerenung, ”Akh, tak terkira sedihnya mbah Pram yang berkali-kali kekayaan intelektualnya dihancurkan dan dirampas darinya. Tak terkira orang-orang yang mendapat perlakuan serupa…”

Tanyakan Saja Pada Anjing

Sudah lebih dari empat hari rasaku, anjing-anjing di seputaran rumah mess tempat kutinggal menggonggong. Dini hari waktu lalu kusempatkan keluar untuk mencoba membuatnya diam. “Husttt! Husttt!” Mereka semakin keras terdengar ketika berada di gang antara rumah dengan kantor PMI.

Anjing-anjing itu malah seperti mengejekku, mereka hanya lari berputar, lalu balik lagi ke sebelah rumah.. Kadang mereka berlari seperti berkejar-kejaran. Sebalku, tidak henti-hentinya mulut mereka mengonggong

Jujur saja, gelisahku datang tiap kali gelap mulai merambat. Ingatanku kembali ke bulan-bulan lalu semenjak aku berada di kota tuan tapa, Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan ini. Tiap kali anjing-anjing itu ‘berulah’, getaran bumi sekian skala Richter seakan terasakan lagi.

pengendus bahaya yang pintar (foto diambil di s4.invisionfree.com/forumpft/ar/t59.htm)Ya, kerapkali mereka membawa pertanda alam. Tapi, akh apakah ia mengabarkan lagi seperti waktu lalu akan terjadi sesuatu di sini? Benarkah ia juga menyeru, “Tidurlah, tapi jangan terlelap. Waspadalah dalam istirahatmu!”

Aku tak pernah tahu apa mau anjing-anjing itu. Rasaku hanya mengatakan untuk tidak mematikan lampu tepat pada atas tangga. Juga tidak lagi mengenakan kain sarung saat tidur. Kamu tentu tahu mengapa….

Hmm, tidur lagi nggak ya?!

02.12

Maafkan Aku, Ibu…

Telpon pemberitahuan dari staff perusahaan paket di Solo Baru membuatku terkejut. Adikku Jony ternyata lupa membayar kekurangan ongkos paket yang hendak dikirim ke aku. Ketika kukonfirmasi, Jony mengatakan jumlah ongkos kirim paket untukku. “Ha, lha kok iso larang men?! Opo wae sing mbok kirim (Kok mahal banget. Apa saja yang kamu kirimkan)?” tanyaku pada adikku.

Dengan santainya ia menjawab, “Lha wong telung dus ditimbang bareng. Isine yo pesenanmu (Tiga dus ditimbang serentak. Isinya ya pesananmu).”

Masih tak percaya kutanya lagi adikku yang hanya seorang ini. Kata dia, selain jamu pesananku, keripik ceker tiga bungkus, ibu juga mengirim intep satu dus. “Allah!”

intep solo sing asli alias dudu cetakan sego (foto diambil http://www.rumahbatiksolo.com/food.php?id=39&menu=detil&idx=4)
Adikku yang tidak lulus sekolah kejuruan ini salah pengertian lagi. Padahal ia sudah kuberitahu bahwa yang dikirim ke Medan hanya jamu dan gerabah tempat masak jamu. Sedangkan keripik ceker dikirim ke kawanku di Pekanbaru. Walah, apapula ditambah intep satu dus.

“Biyen pas koe mangkat –ke Medan- kan rasido nggowo intep. Koe arep mangkat kae buk’e kepikiran, arep nggorengke gojak-gajek wong koe ngomong ora sah. Makane mumpung ki maketke jamu, buk’e inisiatif nggoreng intep. Jare neng paran mesti raono sing adol intep. (Dulu waktu kamu berangkat kan tidak jadi membawa intep. Ibu kepikiran, mau menggoreng intep ragu-ragu karena kamu bilang tidak usah. Makanya sekarang sekalian mengirimkan jamu, ibu berinisiatif menggorengkan intep. Kata ibu, di perantauan pasti nggak ada yang jual intep),” kata Jony panjang lebar lewat ponsel.

Meski demikian, aku bersikeras untuk dus isi intep dibawa pulang kembali saja, tak perlu dikirimkan. Hanya dua dus yang dipaketkan ke dua alamat yang berbeda. Jony tetap ngeyel, intep itu sebaiknya dikirimkan ke Pekanbaru jika aku tidak mau menerimanya. Ugh, tambah panas rasa kepalaku. Baru selesai membahas lagi orang-orang yang ngrecoki lembaga tempat aku kerja, Jony nambah gara-gara pula!

Jony yang tak suka pelajaran PPKN dan memilih putus sekolah berkata padaku. Jika tidak boleh dikirim ke alamat lainnya, kata Jony, ia akan bawa sisihkan untuk tidak dipaketkan. Tapi ia tetap tidak akan bawa pulang intep satu dus itu.

“Mendingan ngko tak kekke wong neng ndalan. Daripada buk’e gelo. Bendino yen masak sego direwangi ati-ati, nyicil ben dadi intep. Nggolek srengenge sak panggon-panggon gen ndang garing ben ndang digoreng, iso dikirimke. Koe malah koyo ngono (Lebih baik kuberikan orang di jalan daripada ibu kecewa. Tiap hari kalau masak ditunggui supaya bisa jadi intip. Ibu juga- Mencari sinar matahari di banyak tempat agar intip cepat kering, bisa digoreng dan segera dikirimkan. Kamu kok malah begitu)”

Akh, dadaku teriris. Tenggorokanku terasa kembung saat itu juga. Susah kutelan ludahku sendiri. Pikiranku melayang. Ibu sangat tahu makanan kesukaanku. Intep yang juga jadi oleh-oleh khas Solo memang tidak ada di sini, di Tapaktuan.

“Wong koe adoh. Yen cabuk rambak sing takkirimke ora mungkin. Paling-paling mung intep. Wong senenganmu intep. Yen karo nonton tv dipangan bareng karo kanca-kancamu (Kamu kan jauh. Kalau cabuk rambak yang kukirimkan nggak memungkinkan. Paling hanya bisa kirim intip. Wong kesukaanmu intip. Kalau nonton tv kan bisa dimakan bareng teman-teman),” kata ibu saat aku masih di Jambi lima tahun silam. Bukan hanya temanku yang suka, bahkan anak-anak rimbaku pun kerap menanyaiku, ”Lagi mansi ado intep, Ibu?”

Keinginan ibu sangat sederhana. Meskipun jauh darinya, aku masih bisa menikmati makanan salah satu makanan kesukaanku. Sesederhana intep. Ia hanya kerak nasi yang dikeringkan, lalu digoreng dengan ditabur garam atau diberi gula merah yang dicairkan. Ia yang sederhana tapi asyik menemani kami bercengkrama di rumah.

Hangatnya ’rasa’ bercengkrama saat bersama keluarga di Solo selalu dikirim ibu dalam doa, juga dalam bungkusan dus intep (dan teh) yang dipaketkan untukkku. Tengah malam tadi kukirimkan pesan singkat pada Jony, ”Intepe kirim neng Medan wae sisan yo. Matur nuwun.”

Ibu, maafkan aku, tadi sore aku ’menolak rasa sayangmu’….

« Older entries