Perkara Kecil Di Kota Kecil


“Nuk, mau nitip apa?” tanya mbak Elis padaku. Aku masih kurang paham dengan pertanyaan mbak Elis.

“Rita lagi blonjo. Jadi nitip teh tong dji?” lanjut mbak Elis.

Lezatttt, bikin lapar mata (Foto diambil di http://ummizaihadi-homesweethome.blogspot.com/2010/04/roti-keju-oregano.html)“Iyo?! Karo sekalian titip roti mbak! Sing bertabur keju yo. Pokoke sing lezzziiitttt di pandang mata!” kataku senang. Di pelupuk mataku seakan telah terhidang kue-kue khas toko-toko roti di kota-kota sana.

Menurut mbak Oni dan mbak Elis, Abah akan balik ke Tapaktuan nanti malam. Biasanya, jika menggunakan travel akan berangkat dari Medan sekitar pukul 20. Sampai di kota bekas penghasil pala ini pagi hari, paling cepat jam 6 pagi.

Sudah 20 bulan aku berada di kota naga Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan. Kota kecil yang bahkan ketika aku interview sebelum masuk ke lembaga tempat aku berkarya saat ini, aku sama sekali tak pernah mendengar namanya. Di sini, kerapkali tiba-tiba otakku membayangkan makanan lezat seperti yang tersedia di kota lain. Makanan lezat ala kota metropolis yang sebenarnya membosankan jika aku tengah berada di kota, atau pulang kampung ke Solo.

Di kota tuan tapa ini, toko khusus jualan roti hanya Aceh Bakery. Jenis roti yang ditawarkan pun tak banyak, hanya donat, roti tawar biasa dan rasa pandan, roti tawar kering, roti isi coklat, dan selai nanas. Bentuk rotinya pun sangat sederhana, bahkan lebih sederhana dari roti-roti yang dijual di pasar tradisional di kotaku, Solo.

Namun, apa boleh buat hanya itu yang ada, sehingga ia menjadi paling lezat di antara roti yang dijual ketengan di beberapa warung atau toko.

Mundur satu hari
Saat-saat bepergian ke kota terkadang menjadi saat yang kutunggu, pertemuan di kantor Medan misalnya. Akh, barangkali bukan hanya aku. Ida pernah membuat kakiku serasa menarik batu berkilo-kilo ketika mengajakku ‘main’ ke mall. Inong (perempuan) asal Meulaboh ini memborong apapun yang ia anggap menarik matanya. Sepatu, sandal, aksesoris, sampai selusin baju! “Wuih, murah-murah….” Ujar anak kembar ini gembira.

Jika Ida, Dian, kak Marwiah, Farida doyan belanja fashion atau makanan ’enak’, aku hanya betah ke perpustakaan gratis baca ’Gramedia’. Ricka yang suka berbelanja juga suka menyisihkan sedikit waktu untuk mencari buku yang menarik baginya. Bulan lalu, saat ada kesempatan jalan-jalan aku hanya bisa membawa enam judul buku saja. Pengumaman bagi pelanggan agar lekas menyelesaikan transaksi di kasir membuatku merasa tidak puas. Namun, apa boleh buat, waktu buka toko telah habis. Dua-tiga jam di toko buku adalah waktu yang sangat sempit.

Toko buku di Tapaktuan tidak banyak pilihan, hanya toko-toko kecil bersebelahan dengan toko-toko kelontong lain di daerah –kampung- pasar. Buku-buku baru jarang sekali ada. Lebih banyak buku berbau agama. Majalah populer kesukaanku, National Geographic, Intisari, atau Reader Digest! tidak ada ada di sana. Pun kios-kios penjual koran harian dan majalah mingguan. Pernah aku pesan pada loper koran yang tiap hari datang ke kantorku, untuk berlangganan. Tetapi anak asal Jakarta ini malah menjawab,”Wah, susah si kak, soalnya nggak ada pembacanya di sini. Meskipun langganan, kalau Cuma satu dua eksemplar nggak mau orang itu.”

Majalah-majalah itu menjadi barang yang berharga di sini. Beruntung selalu ada kawan yang datang dan pergi, pulang atau balik dari Jawa, atau paling tidak di pulau Sumatera. Dari mereka lah aku, dulu Mustika, sering menitip majalah yang tak pernah ada di Tapaktuan. Ya, jangankan National Geographic, koran Kompas saja datang sehari setelah tanggal terbit. Dulu awal-awal di sini, pernah aku keliru hari gara-gara otakku telah terpatri pada hari dan tanggal koran Kompas.

Tergantung cuaca
Tapaktuan tidak berada di pulau terpisah dari pulau Sumatera. Kota ini terletak di pesisir pantai barat Aceh ini. Ia tidak terlalu dikenal seperti kota-kota lain di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Meulaboh misalnya. Temanku asal Magelang pernah bertanya, ”Memang ada kota Tapaktuan? Dimana tuh?” Pertanyaan seperti itu bahkan lebih dari sepuluh kali diajukan padaku oleh teman-temanku.

Di kota yang selalu bergoyang kencang kala gempa di sekitar Meulaboh atau Nias menguncang itu, kerap dilanda badai. Tidak kurang dari enam kali sejak aku berada di sini. Terkadang juga tak sampai badai, ’hanya’ angin kencang saja yang melintas beberapa hari.

Online tapi offline (Foto diambil di http://www.coroflot.com/public/individual_file.asp?portfolio_id=173213&individual_id=120084)Jika langit telah mengantar awan abu-abu, begitu pula dengan kondisi dompet yang memburuk, kerepotan sering terjadi padaku. Tiba-tiba ATM offline. Dulu sebelum BRI membuka cabang mesin ATM di wilayah Pasar, ATM BRI di kelurahan Jambo Apha menjadi satu-satunya mesin ATM di kota ini. Jika sudah begitu, transaksi pinjam-meminjam uang cash di antara staff menjadi tinggi. Lalu mbak Elis akan kemayu dan berkata, ”Aku sugih to, okeh sing nyilih duit karo aku (Aku kaya kan, banyak yang meminjam uang padaku.”

Ahk, aku terlalu berlebihan nggak sih bercerita padamu mengenai perkara kecil ini?!

Iklan

2 Komentar

  1. faza said,

    15 Juli 2010 pada 1:55 am

    pokok e mak nyus………………………

    • naribungo said,

      15 Juli 2010 pada 3:06 am

      faza, apanya yang mak nyus? nggak ada yang mak nyus di sini! hehehehe…

      terima kasih baca kisahku


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: