Maafkan Aku, Ibu…


Telpon pemberitahuan dari staff perusahaan paket di Solo Baru membuatku terkejut. Adikku Jony ternyata lupa membayar kekurangan ongkos paket yang hendak dikirim ke aku. Ketika kukonfirmasi, Jony mengatakan jumlah ongkos kirim paket untukku. “Ha, lha kok iso larang men?! Opo wae sing mbok kirim (Kok mahal banget. Apa saja yang kamu kirimkan)?” tanyaku pada adikku.

Dengan santainya ia menjawab, “Lha wong telung dus ditimbang bareng. Isine yo pesenanmu (Tiga dus ditimbang serentak. Isinya ya pesananmu).”

Masih tak percaya kutanya lagi adikku yang hanya seorang ini. Kata dia, selain jamu pesananku, keripik ceker tiga bungkus, ibu juga mengirim intep satu dus. “Allah!”

intep solo sing asli alias dudu cetakan sego (foto diambil http://www.rumahbatiksolo.com/food.php?id=39&menu=detil&idx=4)
Adikku yang tidak lulus sekolah kejuruan ini salah pengertian lagi. Padahal ia sudah kuberitahu bahwa yang dikirim ke Medan hanya jamu dan gerabah tempat masak jamu. Sedangkan keripik ceker dikirim ke kawanku di Pekanbaru. Walah, apapula ditambah intep satu dus.

“Biyen pas koe mangkat –ke Medan- kan rasido nggowo intep. Koe arep mangkat kae buk’e kepikiran, arep nggorengke gojak-gajek wong koe ngomong ora sah. Makane mumpung ki maketke jamu, buk’e inisiatif nggoreng intep. Jare neng paran mesti raono sing adol intep. (Dulu waktu kamu berangkat kan tidak jadi membawa intep. Ibu kepikiran, mau menggoreng intep ragu-ragu karena kamu bilang tidak usah. Makanya sekarang sekalian mengirimkan jamu, ibu berinisiatif menggorengkan intep. Kata ibu, di perantauan pasti nggak ada yang jual intep),” kata Jony panjang lebar lewat ponsel.

Meski demikian, aku bersikeras untuk dus isi intep dibawa pulang kembali saja, tak perlu dikirimkan. Hanya dua dus yang dipaketkan ke dua alamat yang berbeda. Jony tetap ngeyel, intep itu sebaiknya dikirimkan ke Pekanbaru jika aku tidak mau menerimanya. Ugh, tambah panas rasa kepalaku. Baru selesai membahas lagi orang-orang yang ngrecoki lembaga tempat aku kerja, Jony nambah gara-gara pula!

Jony yang tak suka pelajaran PPKN dan memilih putus sekolah berkata padaku. Jika tidak boleh dikirim ke alamat lainnya, kata Jony, ia akan bawa sisihkan untuk tidak dipaketkan. Tapi ia tetap tidak akan bawa pulang intep satu dus itu.

“Mendingan ngko tak kekke wong neng ndalan. Daripada buk’e gelo. Bendino yen masak sego direwangi ati-ati, nyicil ben dadi intep. Nggolek srengenge sak panggon-panggon gen ndang garing ben ndang digoreng, iso dikirimke. Koe malah koyo ngono (Lebih baik kuberikan orang di jalan daripada ibu kecewa. Tiap hari kalau masak ditunggui supaya bisa jadi intip. Ibu juga- Mencari sinar matahari di banyak tempat agar intip cepat kering, bisa digoreng dan segera dikirimkan. Kamu kok malah begitu)”

Akh, dadaku teriris. Tenggorokanku terasa kembung saat itu juga. Susah kutelan ludahku sendiri. Pikiranku melayang. Ibu sangat tahu makanan kesukaanku. Intep yang juga jadi oleh-oleh khas Solo memang tidak ada di sini, di Tapaktuan.

“Wong koe adoh. Yen cabuk rambak sing takkirimke ora mungkin. Paling-paling mung intep. Wong senenganmu intep. Yen karo nonton tv dipangan bareng karo kanca-kancamu (Kamu kan jauh. Kalau cabuk rambak yang kukirimkan nggak memungkinkan. Paling hanya bisa kirim intip. Wong kesukaanmu intip. Kalau nonton tv kan bisa dimakan bareng teman-teman),” kata ibu saat aku masih di Jambi lima tahun silam. Bukan hanya temanku yang suka, bahkan anak-anak rimbaku pun kerap menanyaiku, ”Lagi mansi ado intep, Ibu?”

Keinginan ibu sangat sederhana. Meskipun jauh darinya, aku masih bisa menikmati makanan salah satu makanan kesukaanku. Sesederhana intep. Ia hanya kerak nasi yang dikeringkan, lalu digoreng dengan ditabur garam atau diberi gula merah yang dicairkan. Ia yang sederhana tapi asyik menemani kami bercengkrama di rumah.

Hangatnya ’rasa’ bercengkrama saat bersama keluarga di Solo selalu dikirim ibu dalam doa, juga dalam bungkusan dus intep (dan teh) yang dipaketkan untukkku. Tengah malam tadi kukirimkan pesan singkat pada Jony, ”Intepe kirim neng Medan wae sisan yo. Matur nuwun.”

Ibu, maafkan aku, tadi sore aku ’menolak rasa sayangmu’….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: