Hantu itu Hanya Tulisan


Al yang tidak terlalu akrab denganku tiba-tiba menyapaku. Gerangan apa yang mengajak tangannya utk mengetikkan huruf-huruf untuk menyapaku? Tak lama ‘berbasa-basi’, Al yang pendiam itu curhat padaku.

“Saya lagi sedih ibu,” kata dia dalam chat di halaman bawah facebook.

Telisik kutelisik, kesedihan Al itu berujung pada buku catatannya. Buku yang katanya telah tertuliskan kisah berhalaman-halaman itu hilang di kampungnya. ”Tidak ketemu juga bu. Entah dimana hilangnya.”

Mahasiswa yang baru saja memiliki adik ini berkisah, cerita itu kali pertama ia tulis. Niat Al, kisah itu akan diketik, lalu diberikan padaku untuk dibaca sebelum ditag di halaman facebooknya. Ya, aku bisa merasakan kesedihan Al.

Perjalanan hidupku yang tidak terlalu penting untuk orang lain pernah juga hilang. Aku sendiri lupa berapa tulisan tentang kehidupanku ketika di rimba Jambi yang hilang. Dasar aku yang gaptek, tidak mau bertanya pada teman, semua tulisan di flash disk lenyap dimakan virus.

Al pantas bersedih, begitupun aku. Ia sedih kehilangan kisahnya, aku sedih tidak jadi membaca kisah yang ditulisnya. Semangatku padanya waktu itu, ”Memungkinkan nggak kalau ditulis lagi?”

Tentu, menulis lagi hanya berdasarkan ingatan tidak seperti ketika menuliskannya pada saat awal. Rentetan omongan, alur, pilihan kata memang lebih asyik mengalir tanpa harus kita mengingat-ingat sesuatu yang pernah dituliskan.

Al hanya menjawab, ”InsyaAllah, semoga…”
– –

Ingatanku pada1993an kala aku SMP datang lagi. Sekelompok orang berbadan tegap menyambangi rumahku. Aku tidak pernah tahu siapa mereka. Sesekali senjata laras panjang diarahkan pada ibu, bapak, aku, dan anggota keluargaku yang lain

Seisi rumah diubrak-abrik, tak terkecuali isi lemari. Tatapku hanya tatap mata bingung tak mengerti. Buku-buku yang mereka bawa keluar, lalu ditumpuk di depan rumah bukan saja buku milik bapak, atau juga buku pinjaman dari teman bapak.

fotocopy-nya pun dibakar (foto diambil di phatinjo.blogspot.com/2010/01/bu…oer.html)Tumpukan kertas itupun masih tertuliskan ”Buku Matematika, kelas 2 SMP” dan buku-buku pelajaran lain. Juga buku pelajaran sekolah milik mbakku yang SMEA waktu itu. Diantara buku-buku yang dibuang ke luar rumah itu adalah buku-buku ’hitam’. Buku-buku yang beberapa diantaranya foto copy itu juga berjudul ”Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, Memoar Oey Tjoe Tat.”

Aku hanya menatap nanar, begitu juga ibu. Tak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi. Ahk, bapakpun juga tak berbuat apapun. Almarhum bapak saat itu hanya berpesan pada ibu, ”Kalau aku dibawa lagi, jaga anak-anak.”

Bapak memang tidak pernah ’dibawa’ lagi. Namun, pembakaran semua buku di rumahku membuatku gamang. ”Sesuk gek piye yen aku sekolah? Kan bukune diobong kabeh, Pak? Buku nggone sekolahan yo katut diobong (Bagaimana besok aku sekolah? Kan semua buku dibakar? Buku milik sekolah –yg bertulis ”Milik Negara. Tidak diperjualbelikan”-pun ikutan dibakar).
– –

Buku itu tidak pernah kutulis. Kisah-kisah itu adalah karya orang-orang. Aku, almarhum bapak hanya sebagai salah satu penikmat goresan indah karya para penulis. ada Al, betapapun aku merasa sangat bersedih .Karyanya belum sempat kubaca hilang. Pun ketika tulisanku dimakan virus.

Sesaat kumerenung, ”Akh, tak terkira sedihnya mbah Pram yang berkali-kali kekayaan intelektualnya dihancurkan dan dirampas darinya. Tak terkira orang-orang yang mendapat perlakuan serupa…”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: