Menikah kok malah menderita


“Nduk, sorry yo. Mengko wae telpon meneh. Lagi raiso diganggu (maaf ya, nanti telpon lagi saja. Lagi nggak bisa diganggu),” ujar sahabatku di ujung telpon. Tersentak kaget aku mendengarnya. Ia yang sudah kukenal lebih dari sepuluh tahun ini tidak pernah mengatakan seperti itu sebelumnya.

Padahal sebelumnya aku mengatakan, “Hai nduk, selamat ulang tahun ya. Mugo-mugo tansah bagas waras blab la bla…” Harapku memang demikian, dengan bertambahnya usia, Nur tetap sehat dan ceria seperti dulu.

Tidak kurang dari lima belas menit kemudian sebuah pesan pendek masuk di handphoneku. Yup, dari Nur. Kata dia dalam layer hpku, “Nduk, ngapurane yo langsung tak pateni telponmu. Yen bojoku neng omah, aku kudu ngancani, turu awan we yo kudu tak kancani. Raetuk diganggu apapun, termasuk telpon & sms (Maaf ya, -tadi- langsung kumatikan telponmu. Jika suamiku di rumah, aku harus menemaninya, tidur siang sekalipun harus kutemani. Tidak boleh diganggu apapun, termasuk telpon dan sms).

Sejak hari itu, aku tak pernah lagi menelpon dan bahkan mengirimkan pesan pendek sekedar, ”Gi ngopo e, Nduk (Lagi ngapain)?” Aku takut menganggu Nur. Lebih tepatnya mengganggu hubungannya dengan suami. ”Kalau aku telpon, ntar suaminya malah marah-marah padanya” dan sebagainya dalam pikiranku.

Nur sesekali mengajak chat di facebook. Akunya, ia sedang berada di sekolah tempat ia mengajar, tetapi juga sedang tidak ada jam mengajar baginya. Kata Nur, saat-saat seperti inilah ia bisa berkomunikasi dengan teman-teman. Jika sedang berada di rumah, ketika suaminya pulang dari bekerja di pulau lain, ia tidak bisa (boleh) berkomunikasi dengan siapapun. Dulu sebelum telponku yang ’ditolaknya’ kubertanya pada Nur, ”Lha awakmu jek manggon neng omahmu dewe? Betah juga awakmu due bojo koyo ngono ya (Kamu masih tinggal di rumahmu sendiri –keluarganya. Betah juga kamu punya suami seperti itu)?” Aku masih bisa bercanda padanya saat itu.

– –
Lalu ia bercerita banyak hal lewat email. Perih rasaku ketika Nur menulis, ”..nek masalah pas kowe telpon kae, selain emang aku terbatasi, juga waktu sing kurang pas..aku ra iso nang ngndi2 coz kuwi wayahe ngge de’e..makane isoku bebas mung jam sekolah wae..kadang saking tertekanne, sampe aku kepikiran bunuh diri koq nduk.. (Jika soal kamu telpon, selain waktu yang tidak pas, aku tidak bisa kemana-mana karena saat itu waktu memang untuk dia. Makanya aku bebas hanya saat jam sekolah. Terkadang karena tertekan, aku sampai terpikir untuk bunuh diri).”

Dulu sebelum menikah, Nur pernah bercerita tentang keluarga calon suaminya. Ia akan mendapat suami dari keluarga yang sangat agamis. Saking agamisnya, ibu calon mertuanya tidak bisa bepergian tanpa ditemani saudaranya atau anaknya. Calon bapak mertuanya pun jarang berada di rumah. Ia bekerja di pulau lain, sama dengan calon suami sahabatku waktu itu.

Nur tidak menyangka ia akan mendapat perlakuan serupa. Lebih parah lagi, untuk sekedar bertanya kabar dengan kawan-kawan sekelas saat kuliah pun tidak diperbolehkan. Padahal kawan-kawanku dan Nur sudah seperti saudara dalam sebuah keluarga, sangat akrab dan dekat.

Dahulu Nur sangat percaya diri bisa mengajak –calon- suaminya untuk hidup lebih terbuka, ”Moderat dalam berpikir, nggak sempit dalam pemahaman agama.” Nur yang selalu bikin rame itu ’kalah’ saat ini. Ia frustrasi menghadapi laki-laki yang telah dipilihnya menjadi pendamping hidupnya.

Akh, Nur, kamu menambah deretan kisah sedih teman-temanku perempuan yang justru terpuruk dalam pernikahan. Padahal jalan ini dulu kau pilih untuk menghindari omongan orang yang mengataimu, ”Perawan tua, nggak laku nikah.”

Nur, kuyakin kamu bisa dan punya hak untuk hidupmu yang lebih bahagia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: