Ada to, Aktivis Selebritis…


Kalau dulu aku pernah berkisah tentang pegawai LSM (http://sosbud.kompasiana.com/2010/05/17/pegawai-lsm/), kini aku akan bercerita tentang aktivis selebritis. Istilah aktivis selebritis ini sendiri kudengar pertama kali dari mulut mbak Bonnie dan mbak Sana. Mereka berdua aktif di pendampingan perempuan di pelosok-pelosok desa.
– –
“Sampaikan salam saya untuk kak tittttt (Namanya sengaja kusensor hehehe…) ya. Saya sangat bangga padanya. Kemarin sore saya lihat berita di tv, ia menerima penghargaan lagi. Sungguh sangat hebat!” abang-abang yang di kemudian hari kutahu para coordinator tim itu hanya tertawa lebar. Si bule yang ikut mewawancaraiku juga tertawa.

Di hari-hari berikutnya, kabar yang kurang sedap mengenai orang yang kutitip salam semakin terasa. Kisah kesohorannya di berbagai media, terutama media nasional, ternyata sangat jauh berbeda dari cerita masyarakat atau orang-orang desa yang pernah dekat dan mengenalnya. Cerita tidak mengenakkan itu justru tak pernah muncul dari mulut para abang-abang, si bule, juga kawan-kawan sekantorku, bahkan hingga sekarang. “Daripada mengumbar energi untuk meluruskan masalah ke public, mendingan focus kerja untuk masyarakat dampingan,” begitu kata kawan yang masih bekerja di lembaga tersebut.

diambil di maryulismax.wordpress.com/2006/0...ngudara/Sedangkan teman-temanku wartawan. baik media local maupun nasioanal yang memang tinggal di wilayah itu, memilih tidak mau memberitakan kak tittttt itu tadi. “Ngapain juga ngliput aktivis selebritis? Datang ke masyarakat Cuma kalau ada media Jakarta atau asing mau datang. Tiga hari empat hari jeprat-jepret selesai pulang! Dasar orang –media- Jakarta aja yang bodo, terus-terusan mengekspos orang begituan!” ujar Kak Yanti yang wartawan media nasional.

Kekesalan Kak Yanti benar adanya ketika sekelompok orang yang katanya didampingi si aktivis selebritis mengatakan, ”Si Tittttt datang ke sini kan kalau ada orang suting-suting, foto-foto. Paling lama empat hari dia di sini, setelah itu pergi dengan orang-orang yang suting-suting.

Belakangan aku banyak mendapati cerita yang sama. Ternyata bukan hanya para artis sinetron saja yang suka diekspos media. Pun seorang aktivis juga satu dua ada yang suka nongol di media.

Kisah yang kudapati waktu lalu, seorang aktivis selalu berkoar-koar di media mengenai wilayah tertentu. Tiada waktu rasanya tanpa menceritakan pengalamannya mendampingi masyarakat di beberapa tempat. Eh, pas tidak sengaja kuberada di daerah yang diceritakannya, bahkan orang-orang di sana bahkan tidak mengenal namanya. “Tapi orang itu bercerita mengenai daerah ini begini, begini… masak orang itu bohong, Bu?” tanyaku. Ibu-ibu di sana malah tertawa.

“Mana ada orang itu menunjukkan batang hidungnya ke kami. Tidak pernah sekalipun ia mendampingi kami,” kata seorang ibu dengan muka kesal. Di belakang hari, ternyata si aktivis yang mengaku melakukan pendampingan di wilayah itu ternyata hanya memakai pengalaman orang lain dan mengatasnamakan dirinya.


Aktivis selebritis ternyata tidak hanya kujumpai di kota besar Jakarta. Di beberapa wilayah, kutemui pengalaman yang sama. Kalaupun tidak –hingga- dikenal di media, paling tidak ia ingin menunjukkan bahwa perjuangannya pantas diketahui teman-temannya sendiri. Bahwa kerja kerasnya seharusnya diapresiasi dengan sangat baik oleh teman-temannya. Meskipun, “Yah, yang seperti itu kan biasa. Lagian kalau nggak mau mendapat tanggungjawab seperti itu ya mundur saja.”

Lalu ketika perjuangannya gagal dan respon teman-teman pada perjuangannya hanya biasa-biasa saja, aktivis selebritis ini akan mempersalahkan semua orang. Tidak sedikit ketika aktivis selebritis gagal mendapat dukungan dari mayoritas, ia akan semakin mempererat hubungan dengan sesama aktivis selebritis. Dulu di tempat kerjaku dikenal sebagai kelompok barisan sakit hati.

Beberapa orang memilih mengundurkan diri untuk menjadi ‘saingan’ dari lembaga yang pernah membesarkannya. Meski demikian, ada juga yang enggan meninggalkan lembaga lama untuk ikut bergabung di lembaga baru. Itu dilakukan karena nafkah di lembaga baru tidak terlalu menjanjikan seperti di lembaga yang terus dibencinya. Pikiran jenis ini lebih dikatakan sebagai oportunis. Aktivis selebritis jenis ini tidak lebih bahaya dari aktivis selebritis yang memilih masuk di lembaga barisan sakit hati. Sebab, ia tidak segan-segan untuk ‘membocorkan’ informasi dari tempat ia mendapat sesuap nasi.

Pada kondisi yang pernah kujumpai, aktivis selebritis di kelompok sakit hati terus menyebar gosip murahan ke pihak-pihak yang sebenarnya netral atau tidak ambil pusing. Sampai di titik ini, temanku yang kerap kupanggil uni mengatakan, “Biarlah Tuhan yang akan mengadilinya. Capek meladeni aktivis selebritis…”

Perkara kuno yang pernah muncul, aktivis selebritis baik yang berkeras bertahan di lembaga yang dibencinya sekaligus menghidupinya, juga aktivis selebritis yang membuat kelompok barisan sakit hati malah melupakan tujuan utama. Apa itu? Ya memberikan pelayanan pada orang-orang yang patut ia beri pelayanan.

“Yah, kok kisahmu nggak membanggakan to? Mbok berkisah tuh kayak aktivis anti korupsi yang sampai diteror sedemikian rupa, digebuki! Kok nggak ada cerita kaya Munir yang sampai dihilangkan nyawanya,” kata Nunung teman masa kecilku di kampungku, Solo.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: