Nikmatnya tak kenal Indonesia…


Iklan lewat, remote tv pun diklik Ida dari acara kuis asah otak ke acara gossip selebriti. Acara itu diputar masih pagi untuk ukuran waktu di sini (Aceh). Usai liputan proses perceraian Raul dan Silvalay Noor Athalia, gossip selebriti ini menggulirkan kabar lain. “Tumben gossip mbritakke koyok ngene. Mekso…. sing diwawancara pemain sinetron (Tumben acara gossip memberitakan berita seperti ini. Sedikit memaksakan, yang diwawancarai pemain sinetron),” kataku pada mbak Santi.

Infotainment pagi tadi ‘ikut-ikutan’ mengabarkan pelelangan benda-benda bersejarah. Yap, mulai Monumen Panglima Jenderal Sudirman yang ada di kota asal pak presiden, sampai benda-benda cagar budaya di Cirebon. Nilai sejarah barangkali sudah terlalu murah ketimbang uang yang entah nantinya buat siapa.

”Ugh, kira-kira apa lagi yang akan dijual dari negeri ini ya? Tanah sudah dijual, air sudah dijual untuk rakyatnya sendiri. Mati saja aku kalau nanti udara yang bebas ini juga diperjualbelikan,” kataku pada diri sendiri. Mbak Santi, Ida, Mbak Elis sudah sibuk mempersiapkan pagi.

Berita pelelangan habis, kuklik remote ke stasiun lain. Walah, ternyata tak kalah memuakkan kabar tersiar. Anak 4 tahun terkena ledakan tabung gas. Huhu, sarapan pagi di negeriku sungguh-sungguh mengenyangkan otak dan dadaku. Penuh dalam waktu sekejap saja. Saat menulis ini pun, wajah anak yang terbakar dan rengekan tangisnya masih terngiang di mata dan telingaku. Tapi aku bisa berbuat apa?

Otakku malah membimbing mundur ke tahun-tahun lalu. Ia juga mengembalikan ingatan pada foto-foto Suku Korowai yang dimuat di koran Kompas hari Minggu dua hari lalu. Betapa senang saat aku berada di hutan bersama saudara-saudaraku suku minoritas. Betapa tenang rasaku hidup tanpa tahu kabar di luar sana. Hingar bingar penguasa yang berlomba-lomba berebut kuasa dan memperkaya diri sendiri. Tiba-tiba wajah Nyingkap, bapaknya Mulung yang Orang Rimba itu muncul.

indonesia yoi apo? (foto milik kki warsi)”Au lah ndok ngapo. Lah ado pemakonon, lah ado kupi. Lembau lah ado podo huma. Yo lah tiduk-tiduk mumpa nio bae ibo….(Ya mau ngapain lagi. Sudah ada makanan, ada kopi. Ubi juga sudah ditanam di ladang. Ya tidur-tiduran saja seperti ini),” ujarnya sambil menunggui anak-anak belajar baca tulis hitung.

Sepertinya asyik hidup dalam keterasingan, tak mengenal negara, pak menteri punya kebijakan baru, pak anu lagi adu kekuasaan dengan bu una, harga cabe naik. Wong menanam sendiri di ladang. Bersungut-sungut seperti Mulau yang bertanya padaku, “Apo yoya peresiden?” atau “Indonesia yoi apo, Guding?

Hmmm, sesaat terdiam. Kuhanya bisa berharap dan berdoa, semoga orang-orang yang terpilih dalam tampuk kekuasaan di Jakarta sana masih punya telinga, mata, rasa, nurani untuk orang-orang yang dikuasainya. Semoga Sang Pengasih masih mengasihi negeri ini dan melindungi ’yang terkuasai’ dari kerusakan dan derita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s