kenapa kutanam pohon kalau kamu…


Sudah berhari-hari tak kubaca berita, juga kupilih menikmati musik ketimbang mengklik berita radio di internet. Tapi baru saja kumerasa rindu untuk membuka Kompas.com rubrik sains.

Kabar di hari Minggu (25/7) lalu pak Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengajak setiap satu orang untuk menanam 60 pohon. Hmm, sesaat kurasa ajakan tersebut sangat mulia. Tidak ada yang salah dan aku tentu mau melakukannya.

Tapi kemudian kepalaku berdenyut mengingat kampung halamanku di Solo sana. Aku ingin rumahku dikitari pohon-pohon rindang nan menyejukkan. Pertanyaanku, kutanam dimana ya? Bahkan pohon-pohon yang kami tanam di depan rumahku pun harus ditumbangkan karena ada pelebaran jalan. Sedangkan di tanah yang lain, apa iya boleh kutitipi pohon untuk tumbuh di sana?!

Suatu kali, aku pernah berkhayal. Di sepanjang jalan kampungku, di pinggir-pinggirnya ditumbuhi pohon-pohon buah dan obat. Ya sawo, mangga, rambutan mahoni, asam jawa, jambu dan lain-lain. Tentu selain sejuk jika berjalan di bawanya, saat-saat pohon mulai berbuah, warga tidak perlu mengeluarkan uang lebih untuk membeli buah. Yap, kebutuhan buah pada warga kampungnya yang bisa kubilang menengah ke bawah pasti –setidaknya- kala-kala terpenuhi.

Fantasi tinggal fantasi karena di sepanjang pinggiran jalan aspal, yang masih tersisa tanah malah ditutup semen! Saat kemarau tiba, serasa berada di panggangan api ketika berjalan di sana. Sebaliknya kala hujan turun, air hanya mengalir terus sungai dan membanjiri beberapa kawasan. Huah, air hujan toh akan lebih baik jika menyerap di tanah. Dulu aku dibilang orang aneh karena aku membuat lubang-lubang biopori di depan rumahku.

Jauh di pantai utara Jawa sana, seorang kawan tanpa bantuan dari manapun menanam pohon bakau di sepanjang pantai. Selain bakau, pada pasir pantai juga ia tanam cemara laut (Casuarina equisetifolia L.). Untuk apa?

“Kasihan petani-petani melati itu, Nuk. Sekarang lahan mereka makin sempit karena air laut mengurangi luas lahan mereka. Hasilnya yang sedikit semakin tidak bisa dipakai untuk makan. Jika bakau ini tumbuh besar, ia bisa melindungi cemara juga. Cemara bisa melindungi kebun melati petani. Bakau hidup, nelayan juga nggak perlu susah-susah cari ikan ke tengah laut sana,” kata mas Yudi padaku.

Apa nyana, bibit bakau dan cemara yang ia tanam berbulan-bulan coklat seperti terbakar. Sidik selidik, bibit-bibit yang ditanam mas Yudi disiram minyak tanah. Oleh siapa, mas Yudi ternyata telah mengetahui sejak lama. ”Kalau yang kayak gini sih, ini sudah hampir ke sepuluh kalinya, Nuk. Sudah biasa. Besok saya akan tanam lagi,” ujarnya tetap semangat.

Dimana, Mengapa?

Tentu aku sangat mendukung ajakan pak Menhut untuk menanam pohon. Benar kata dia, bawa untuk cinta pada alam sebenarnya sangat mudah. Minimal setiap orang selama hidupnya menanam 60 batang pohon. Namun, aku masih tetap bertanya dimana kutanam pohon sebanyak itu? Apa iya hanya cukup menanam? Sudah ada survey kah tiap kali acara penanaman pohon yag disaksikan -juga dilakukan- oleh para pejabat kita juga dipelihara dengan baik? Ya, sehingga ia menjadi pohon yang perkasa?

Mengapa harus kutanam pohon jika pembukaan hutan untuk lahan perkebunan kelapa sawit, akasia, atau memang sekedar panen kayu tanpa menanam lagi hanya dibiarkan begitu saja? Mengapa anak-anak rimba yang melaporkan pembabatan hutan di dalam taman nasional tidak pernah digubris? Mengapa membiarkan Patih Laman dan orang-orang Suku Talang Mamak sampai mengembalikan Kalpataru agar hutan mereka kembali? Mengapa…..?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: