Indonesia Harus Diruwat!


“Ganti! Ganti wae, njelehi beritane! Marahi mumet (Ganti saja –pilihan stasiun tvnya. Membosankan beritanya! Bikin pusing)!” begitu kata mbak Santi. Obrolan kami sore kemarin terpatahkan oleh berita tentang anggota dewan yang lebih suka membolos rapat ketimbang memikirkan rakyatnya.

Remote tv entah tergeletak dimana. Aku pun enggan beranjak untuk menganti channel secara manual alias memencet pada alat yang terhubung dengan parabola. Seterusnya gambar-gambar beranjak pada berita-berita lain.

jika tidak ada korupsi, sekolahku tidak akan berlubang-lubang (foto-nuk)Akh, betapa bosan kudengar berita tawuran pemuda di sana-sini. Penatnya otakku bertebar organisasi masa saling menyerang, juga merusak rumah warga yang tak tahu apa-apa. Jenuh rasaku ketika rakyat diperlakukan tidak adil di sana-sini, hingga gejolak menyeruak di seantero negeri.

Tapi, apakah kamu juga tak bosan dengan ulah penguasa negeri ini terus saja tunjuk sana salah tunjuk aku sendiri benar dan paling bersih? Apa yang bisa dilakukan untuk mengembalikan nurani para penguasa? Membenamkan tubuh di tanah sampai pingsan, atau bahkan mengakhiri hidup dengan menjerat leher atau meminum obat nyamuk? Atau juga kabar pagi tadi tentang seorang ibu yang membunuh anaknya sendiri tanpa berasa apapun juga. Derita hidup selesai sudah.

Ternyata tidak juga. Pesan pendek di hpku berbunyi, “Nuk, pa kbrmu? Aq bingung mikir keluarga&rmhq. Makin hr rumahq makin turun tanahx. Mgkn sbentar lg Lumpur Lapindo jg akan tenggelamkn rmhkq”

Pesan seorang kawan di Sidoarjo sana. Wuri, pak presiden, anggota dewan dan entah siapa lagi yang jadi penguasa sekarang telah melupakanmu. Kabar tentang Lumpur Lapindo sudah jarang terdengar. Padahal si janggut nyathis bak cakil itu tidak lagi duduk membantu pak presiden di tampuk kepemimpinan? Kalau dulu mungkin pak presiden tidak enak hati untuk mengutak-atik Lapindo wong si janggut cakil masih jadi menterinya.

Ku juga tak tahu gerangan alasan yang diserukan sehingga kabar Lumpur Lapindo jahanam itu samar-samar menghilang. Ah, Wuri, maafkan aku, ternyata aku pun melupakanmu. Mungkin kaupun juga tahu, kabar memuakkan century juga berlahan hilang. Lambat laun saja masih terdengar kabar tentang tabung gas yang meledak seperti balon di berita-berita.

Meski begitu, saat ini hatiku terbersit rasa bangga kala kudikabari anak-anak berjiwa muda akan menggruduk Sinar Mas di Riau sana. “Perusahaan keparat itu membuka hutan untuk penanaman sawit di Taman Nasional Bukit 30.” Oalah, tiada berkesudahan bumiku dihinakan. Siapa yang akan mendapat untung dan siapa yang akan dapat banjir dan kehilangan sumber air? Rusak lah negeriku, rusaklah bangsaku.

Negeriku nandang sukerto
Penjual bendera di pojok Kota Tapaktuan mulai menggelar dagangannya sejak akhir bulan Juli kemarin. Sebentar lagi negaraku akan berulangtahun kemerdekaan. Kepada para pemimpin kuberseru, “Jangan sampai si miskin yang tak punya dan tak kuat beli bendera malah mengibarkan celana dalamnya supaya cepat kering terkena angin ya?!”

Negaraku tercinta memang sudah waktunya pensiun. Tahun ini ia berusia 65 tahun. Seharusnya di masa pensiun, kualitas hidup –penguasa dan rakyatnya- semakin mantap dan sejahtera. Andaikan saja penguasa dan rakyat ini seorang PNS, kan tinggal leha-leha menikmati apa yang disebut sejahtera. Tapi kok? Entahlah….

Jejak-jejak berita dari detik ke detik, segala peristiwa di negeriku hanya bermuara pada dumeh (mentang-mentang) dan aji mumpungnya para pemimpin bangsa ini. Dumeh dan mentang-mentang berkuasa ya korupsi uang negara sebanyak-banyaknya. Dumeh dan mumpung jadi anggota dewan rapat mangkir dan study banding sana-banding sini, dolan sana dolan sini. Dumeh dan mumpung mineral bumi kita kaya, keruk dan rusak segalanya. Dumeh polisi tidak bertindak apa-apa orang yang berkeyakinan berbeda diserang. Dumeh….

Dumeh-dumeh dan mumpung-mumpung yang terlanjur menyakiti hati rakyat ini seharusnya dibersihkan. Rakyat dalam negara kita sedang nandang sukerto atau mengalami penderitaan karena penguasanya berada dalam dosa-dosa, ya korupsi, ya mau senang sendiri, ya memperkaya diri sendiri. Persis seperti lakon Murwakala. Rakyat yang manandang sukerto akan terus dimangsa ‘Batara Kala anak Batara Guru yang lahir dari nafsu yang tidak bisa dikendalikan Dewi Uma’.

Indonesia yang semakin menua nampaknya perlu diruwat. Ia perlu dibebaskan dan disucikan atas dosa dan kesalahan yang berdampak kesialan dalam hidup bernegara. Kususahan batin rakyat harus dibersihkan dan diobati. Penguasa yang licik yang doyan korupsi uang rakyat harus segera diruwat dengan piranti mulat sarira hangrasa wani (mawas diri, instropeksi diri). katanya- Wakil rakyat yang tak punya nurani membela rakyatnya juga harus diruwat dengan ubo rampe (bahan-bahan) ajining diri soko obahing lathi (harga diri tergantung dari ucapannya). Kalabendu akan terus berlangsung jika para pemimpin saling bermain lidah dan rakyat tak percaya lagi pada para pemimpinnya.

Semoga negeriku segera terbebas dari sukerto…..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: