Cangkem Lambemu


Bagi orang Jawa, setidaknya aku yang lahir di tanah Jawa, mengatakan kata ‘lambe’ (bibir) dan ‘cangkem’ (mulut) pada orang lain kerap dikatakan bicara kasar. Acapkali kata-kata ini, terutama cangkem, kerap dilontarkan orang yang sedang tidak bisa mengendalikan emosinya. Atau ketika gejolak batin tengah porak poranda.

Kuingat Ari Pesek tetanggaku yang tidak lulus SD dan penggila camdikia (salah satu jenis lotre atau judi di Solo) kerap kali mengucapkan kata-kata itu. “Cangkemmu kui (Mulutmu itu)! A…” dan sebagainya ketika ia kalah taruhan. Ia nyankem-nyangkemke orang yang dianggapnya merusak suasana hatinya.

Selain Ari Pesek, ada satu orang lagi yang kerap mengatakan, “Cangkem lambemu…” Bahkan jika setiap sore sekitar pukul 16 sampai menjelang maghrib, Cangkem lambemu tidak terdengar di telinga, beberapa orang merasa gelisah. Tidak terkecuali aku.

Mbe cangkem lambemu! Cangkem lambemu” begitu tiap kali pak krebo menawarkan jajanan anak-anak. Lalu satu persatu orang keluar rumah merubungnya. Bakso daging sapi yang lebih mini dari ukuran bakso yang dijual dengan kuahnya itu ia namai Cangkem lambemu.

Kata pak Krebo waktu itu padaku dan tetanggaku, Cangkem lambemu itu berarti “Cah ben iso mingkem, selawe bae, murah to (Anak-anak, biar mulut bisa terkatup, dua puluh lima rupiah saja. Murah kan)?”

Yup, waktu itu rupiah masih sangat berharga, terlebih untuk anak-anak sepertiku. Uang selawe bae alias dua puluh lima rupiah sudah mendapatkan daging sapi, walau sangat mini, plus saos atau sambel, atau dua-duanya.

Cangkem lambemu jadi anak
Konon, waktu istri Pak Krebo melahirkan seorang anak perempuan, anak yang telah dinanti-nanti belasan tahun itu meninggal hanya beberapa menit setelah ia dilahirkan. Kata pak Krebo yang bercerita dengan muka muram berkata padaku, juga pada tetanggaku, “Yen ora dipundut bali karo Gusti, saiki dee wes gede koyo cah ayu iki (Kalau ia tidak diminta kembali oleh Tuhan, ia sebesar cah ayu ini).”

Aku jadi mengerti mengapa setiap kali aku beli satus (seratus), selalu ia beri lebih. Tidak sedikit yang ia bonuskan padaku, kerap lebih dari sepuluh butir Cangkem lambemu. “Kan cah ayu iki anakku,” ujar Pak Krebo kala ada tetanggaku yang memprotesku, juga pada Pak Krebo.

Berkat Cangkem lambemu, Pak Krebo sukses menyekolahkan ‘adik-adikku’. Dua ‘adikku’ kini telah menjadi dokter kandungan dan seorang lagi polisi. Dengar-dengar waktu aku pulang kampung, ‘adikku’ yang polisi akan diangkat sebagai Kapolres di salah satu kota. Aku lupa tepatnya dimana.

Jadi jika suatu saat kamu main ke rumahku dan mendengar teriakan, “Cangkem lambemu”, lalu bersahut-sahut dengan teriakan suara lain (tetangga-tetanggaku) “Cangkemmu dewe“ atau “Cangkemmu ditoto” nggak usah tersinggung ya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: