Nasip Untung Buntung di ‘Kantor Biro Statistik’ Tapaktuan


Di Kota Tapaktuan, Aceh Selatan ini, ‘Kantor Biro Statistik’ selalu ramai. Jam buka kantor itu kutahu mulai jam setengah sembilan, sampai kukembali dari kantor ke mess. Setiap hari kantor selalu dikunjungi orang. Kursi yang berdempet di tembok tiap hari diduduki pantat-pantat laki-laki. Macam-macam ’bentuknya’ para lelaki di kantor itu. Dari tukang becak sampai PNS. Pernah juga kulihat seorang lelaki berpakaian seragam khas pengadilan.

Kantor Biro Statistik Tapaktuan, istilah yang diberikan Didik, juga menjadi ruang kerja bagi pak…(aku lupa namanya). Ruangan sempit berukuran tak lebih dari 2 x 2 meter itu hanya berisi meja dan mesin jahit, serta bangku panjang yang kerap diduduki para lelaki. Para PNS yang duduk-duduk di sana memang tidak bekerja di kantor mini itu. Mereka hanya mengobrol.

Tapi masih digaji oleh negara? Ya iya, paling hanya beberapa menit mereka di sana. Mungkin juga mengobrol sesaat. Lha trus apa urusannya?

Meski telah memiliki gaji tetap bagi mereka yang PNS, atau memiliki gaji yang tak tetap seperti para abang tukang becak, mereka juga ingin mendapat tambahan penghasilan. Sukur-sukur, tambahannya banyak. Tapi kata Pak Rasidi teman sekantorku yang juga suka datang ke KBST, ”Tergantung. Lagi rejeki atau tidak. Kalau pas ya untung, kalau nggak pas ya buntung.”

Oh, kok gitu Pak?

– – –
Pak Rasidi paling rajin menanti hari H yang dua kali seminggu itu. ”Kode alame mobil Panther, Nduk,” kata dia kemarin padaku. Tangan kanannya mulai menulis angka-angka di kertas kwarto tak terpakai.

Ia yang tidak bisa membaca dan menulis huruf itu menjadi sangat rajin membawa pena dan kertas untuk menghitung. Entah apa yang ia hitung. Lalu ia akan pergi ke Kantor Biro Statistik Tapaktuan itu. Terpasti, ia pernah tertawa dan berkata padaku,”Lumayan, Nduk, iso tak kirim muleh (bisa kukirim pulang)

Jika sedang tidak lumayan ya seperti Didik yang koordinatorku. Juga Pak Ras yang akrab dipanggil Wak Geng ini.

“Ora bos. Metune lembu. Nol sembilan (Nggak, keluarnya lembu),” ujar Wak Geng pada Didik.

Aih, tanyalah kode alam segala macamnya pada Wak Geng, ia pasti hafal!

Hehehe, padahal sekarang lagi bulan puasa lho!
Padahal ini masih Aceh, Bung! (tahu maksudku kan?)
Padahal orang-orang itu juga punya seragam lho!
Padahal….
Sore penghilang penat

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: