Harimau Sumatera Punah, Kamu juga Punah!

“Ada kemarin orang ngracun, mati. Dijualnya mentah-mentah seharga Rp 9 juta ke Medan. Untung banyak, tu orang! Di Medan ada penampungnya. Orang sini jual ke sana kalau dapat,” tutur Bang Ar pada saya.

”Harimau itu memang selalu lewat kebun orang tu. Dia habis memangsa kerbau milik orang tu. Memang nggak dimakannya. Entah pula kenapa –tidak dimakannya. Kerbau disembelih, makan daging orang tu. Dapat pula harimau! Untung lah, sembilan juta! Siapa nggak mau!” lanjut Bang Ar.

Harimau sumatera (panthera tigris sumatrae) itu mati di tangan salah satu penduduk Desa Lawe Buluh Didi, Kecamatan Kluet Timur, Kabupaten Aceh Selatan. Siapa yang membawa ke Medan? Mungkin dia sendiri, mungkin juga orang lain. Yang jelas, di Medan seperti kata Bang Ar, memang ada penampungnya.

Seperti binatang dilindungi lainnya, harimau sumatera tinggal menunggu kepunahan. the International Union for Conservation of Nature IUCN bahkan menyebut, harimau sumatera masuk dalam status critically endangered atau status langka yang kritis. Ia masuk kategori tertinggi dari ancaman kepunahan. Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No 7 Tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa. Perlindungan harimau sumatera tertuang di peraturan tersebut. Toh, perburuan harimau sumatera dari tahun ke tahun bahkan semakin meningkat.

Kearifan lokal vs budaya feodal, tahayul, teknologi
Puluhan kali aku mendengar penduduk Aceh Selatan mengatakan, ”Jangan sekali-kali menyebut nama dia kalau lagi di hutan. Jangan sekali-kali mengejek dia. Jangan sekali-kali mengumpat tentang dia, apalagi sampai melukainya. Jangan!”

Bang Asri, driver rekan kerjaku yang tinggal di ’kota’ Tapaktuan pun pernah mengungkapkan padaku. ”Asal kita tidak mengganggu dia, dia nggak akan menganggu kita.”

Ungkapan Bang Asri ini juga persis sama dengan perkataan orang-orang desa di pinggiran hutan, tepatnya di Kawasan Ekosistem Lauser (KEL). ”Biar ketemu di desa, di hutan, asal kita tidak mengganggu dia, dia tidak akan pernah menganggu kehidupan kita,” ujar Bang Yusuf Abadi dari Gampong (Desa) Alur Mas, Kecamatan Kluet Utara.

Namun, ’cara arif’ orang desa melindungi si cantik nan lemah ini kalah dengan gengsi (prestige) orang-orang berduit dan pemilik jabatan. Cobalah tengok ruang tamu Bapak atau Ibu Pejabat Anu yang berhias si kulit loreng tebal dan gelap itu. Panthera tigris telah di’air keras’ dan tampak garang walah tanpa nyawa. Atau selebritis si una yang bangga memamerkan kekayaannya dengan peliharaan merego di kandang, di rumah kediamannya. Bukankah rumah mereka adalah rimba?!

Pernah aku bertamu pada seorang pengusaha. Karpet indah yang kududuki ternyata benar-benar kulit harimau! Astaghfirullah, maafkan aku….

Seorang teman di Palembang bahkan dengan bangganya menunjukkan kumis harimau, yang katanya ia pakai untuk jimat. ”Biar nggak ada orang yang berani mengganggu bisnisku,” kata dia. Temanku yang sangat suka klenik itu juga menyimpan taring dan kuku harimau serta beruang. Semuanya untuk kesaktian, katanya.
dia kamu punahkan, kamu pun punah! (gambar diambil di wwf.or.id)Selentigan yang pernah kudengar, beberapa organ harimau dipercaya bisa mengobati berbagai penyakit. Kumis harimau katanya bisa untuk menyembuhkan sakit gigi, kulitnya berkhasiat menyembuhkan penyakit saraf, otaknya untuk mengobati lesu darah dan luka kulit yang meradang sampai bernanah. Penisnya dipercaya untuk penambah gairah pria dan ekornya untuk penyakit kulit.
Jika memang iya benar bisa, apa memang tidak ada alternatif bahan lain selain organ tubuh harimau atau binatang dilindungi lainnya yang juga hampir punah, untuk bahan penngobatan?

Padahal tiga subspesies harimau (Panthera tigris) di Indonesia, dari delapan subspesies yang ada di dunia, hanya tinggal satu subspesies. Ya si belang sumatera panthera tigris sumatrae! Tiga subspesies harimau di dunia telah dikategorikan punah, dua subspesies di antaranya ada di Indonesia. Mereka adalah harimau bali (Panthera tigris balica) punah pada tahun 1930an, serta harimau jawa (Panthera tigris sondaica) yang punah tahun 1980 (Ramono & Santiapillai 1994;Seidensticker et al. 1999).

Lalu, apakah kita akan berdiam diri dan ikut menghitung mundur jumlah ’angka-angka’ harimau sumatera yang masih tersisa? Apakah kita akan membiarkan anak cucu kita kelak hanya akan mengenal harimau-harimau di dunia lewat gambar, tanpa bertemu tapak-tapaknya lagi di rimba?

Iklan

Pakde Marto Telah Kehilangan Sawahnya

Bang Zen mengirimi foto-foto aksi demo para petani ke kantor Gubernur Jambi. Dari fotonya, entah para pendemo itu petani sungguh atau tidak. Saat kupelototi satu persatu foto yang ditandai di fesbukku, ingatanku berbalik arah ke Desa Kwarasan, Kecamatan Sukoharjo, Jawa Tengah. Di sanalah pakde dan mbokdeku, Pakde dan Mbokde Marto Dikromo tinggal.

Sejak masa kanak-kanak, Pakde Marto ditempa untuk menjadi petani. Ketika menikahi mbokdeku, Mbokde Sarinah, Pakde Marto tetap tekun menjalani hidupnya sebagai petani.

Pulang lebaran lalu aku mengunjunginya. Rintik gerimis lembut tetapi membuat bajuku dan ponakanku, Reza, yang kuajak sedikit basah. “Mbahe tesih teng sabin, Bulik. Sekedap, kula pethuk’e (Nenek dan kakek masih di sawah. Sebentar, akan saya jemput),” ujar anak sepupuku yang juga keponakanku, cucu Pakde dan Mbokde Marto. Bahasa kromonya campur-campur.

Malah aku mengikutinya bersama Reza ke belakang rumah. ‘Suasana desa’ masih terasa di belakang rumah Pakde dan Mbokde Marto. Kandang kambing masih tercium tahinya, juga kandang ayam yang ada di hadapannya. Pohon belimbing yang menaungi keduanya semakin kokoh. ”Kwek kwek kwek kwek” bebek enggan turun ke sungai. Mereka hanya ribut mencari comberan aliran air hujan.

Kakiku melewati jembatan bambu berjajar tiga itu tanpa alas kaki. “Akeh telek pitik lho, Bulik (banyak tahi ayam lho),” kata Reza mengingatkan aku untuk tidak memilih pijakan di tanah basah itu. Sungai kecil itu kotor, sampah tertahan di jembatan kecil yang kuseberangi. Airnya hitam pekat, agak berbau.

Toni berjalan cepat. Kakinya telah sangat akrab dengan tanah persawahan. “Opo do ora tandur -padi- e Le, kok raono pari (Apa nggak ada yang menanam -padi-, kok nggak ada padi)?” tanyaku pada Toni.

“Kathah omo tahun niki. Mboten enten sing dados (Banyak hama tahun ini. Tidak ada yang jadi),” jawab Toni.

”Mbah, wonten tamu saking Gambiran (Mbah, ada tamu dari Gambiran),” teriak Toni pada Mbokde Marto setiba di lahan sepetak di pinggir jalan. Sisi jalan lainnya telah berdiri kokoh bangunan. Sepertinya bangunan pabrik.

Tubuh kurus yang tengah membungkuk ditegakkannya. Tangan Mbokde masih memegang daun ubi rambat. Ada ubi rambat pula di tangan kirinya, warnanya putih. Mbokdeku yang sudah beruban semua itu tertawa. Giginya yang masih utuh tapi merah oleh sirih dan uba rempenya terlihat kentara.

”Ealah, kok yo nututi neng sawah. Hayo muleh…wes, neng ngomah wae. Udan, Nduk, mundak masuk angin ngko (Walah, kok ya ikut ke sawah. Ayo pulang. Sudah, di rumah saja. Hujan, nanti masuk angin),” suara Mbokde Marto terdengar riang. Pakde yang juga tengah mencabut ketela rambat itu menengadahkan kepala. Lalu berjalan mendekatiku dan Reza.

”Pakne, ki lho ono tamu soko Gambiran,” kata Mbokde pada Pakde. Oleh Pakde Marto, kami disuruh balik ke rumah. Mereka berdua menyusul kami di belakang setelah membereskan panenan ketela.

Petani tak bersawah
”Pakdemu ki mung nggarap, Nduk. Sawah wes radue (Pakdemu ini hanya menggarap –petani pengarap. Sawah sudah tidak punya,” tukas Pakde.

Cerita Pakde, sawahnya yang dua hektar terpaksa dijual, termasuk kerbau yang biasa dimanfaatkan untuk membajaknya. Kenapa Pakde?

”Lha piye, sawah dikempit pabrik. Galengan sing biasane dialerke neng sawahe Pakdemu kui ditutup. Kae lho, sawahe Pakdemu saiki wes dadi pabrik. Pabrik’e dilar. Biyen Pakdemu ora gelem adol pas ditakoni sing due pabrik. E, kok banyune dipateni (Gimana ya, sawah dihimpit pabrik. Saluran air yang biasanya dialirkan ke sawah Pakde ditutup. Itu lho, sawah Pakdemu sekarang sudah jadi pabrik. Pabrik diperbesar. Dulu Pakdemu tidak mau jual saat ditawar oleh pemilik pabrik. E, kok airnya ‘dibunuh’),” suaranya berhenti. Matanya berkaca-kaca.

“Kae tontonen dewe banyu kali mburi omah. Biyen jaman jek bocah koe seneng adus neng kali kono, Nduk. Koe ijek kelingan ora senenge njaluk munggah kebo pas Pakdemu iki ngguyang kebo (Lihatlah itu air sungai di belakang rumah. Dulu waktu kamu masih anak-anak, kamu suka sekali mandi di sungai itu. Kamu masih ingat tidak, suka minta naik kerbau saat Pakdemu ini memandikan kerbau)?” tukas Pakdeku yang kini berusia 98 tahun ini.

Pakde dan Mbokde Marto tentu sangat bersedih harus menjual sawahnya. Menjual sawah sama artinya menjual hidupnya. Apalah artinya petani tanpa sawah. Pakde dan Mbokde Marto hanya menggarap lahan milik orang yang berderma ’memberinya rejeki’.

Sawah garapan itupun tak lama lagi akan menjelma menjadi rumah. Sang pemilik telah mengatakannya pada Pakde dan Mbokde Marto pada Ramadhan lalu.

’Suasana desa’ yang kurasakan di belakang rumah Pakde dan Mbokde Marto telah berlalu. Bahkan sebelum Pakde dan Mbokde Marto kehilangan lahan garapan nanti.

Hari ini Hari Tani Nasioanal, Pakde, tapi saya takut menyelamati untuk Pakde dan Mbokde. Maafkan ponakanmu ini..

hujan, tidur yuk!

gelayut awan hitam akhirnya jatuh juga menjadi rintik. rintiknya makin lama makin kerap, pekat. bukit hijau berpermadani rumput di arah kiri jendela ruang kerjaku hanya tampak bayangan. hijaunya sirna oleh jutaan tetes air langit.

“enaknya tidur,” kata batinku. ya, hanya batin yang berucap. sebab, tabel demi tabel di hadapanku harus diisi segera.

september masih hujan. entah sampai kapan mentari yang selalu kukira datang dari arah barat itu akan muncul kembali. mungkin ia tengah dirundung duka. kan kuhapus laramu semampuku…

Apotek Berlabel Syariah

Berkali-kali sakit di perantauan, kok ya badanku tidak pernah capek merasakannya. Terlebih di kota kecil Tapaktuan!

Padahal tahun lalu, untuk menunggu check darah saja aku harus menunggu sampai empat jam! Sampai-sampai Didik yang koordinatorku, mbak Oni, mbak Rita mengambil keputusan, “Ninuk dikirim ke Medan saja untuk mendapatkan perawatan yang baik!”

Kemudian ketika tipesku kambuh, di rumah sakit yang sama Rumah Sakit Umum Dr. H. Yuliddin Away, Tapaktuan, Aceh Selatan, jarum infus baru ‘benar’ setelah tusukan ke Sembilan. Itupun perawat lain harus menelpon perawat senior untuk menginfusku. Jarum ukuran 24 hingga 18 keluar masuk tubuhku oleh lima orang perawat yang bergonta-ganti menusukku.

Aih, hanya ‘gara-gara’ sakit tenggorokan aku harus rawat inap lagi. Sepele!

Dr Junaidi Sp PD tengah sholat teraweh. Klinik langgananku itu sudah tutup. Lalu, oleh mbak Santi, Ida, dan Farida, aku dibawa ke dokter umum perempuan. Kebetulan hanya dia satu-satunya dokter yang mau menerima pasien di jam sholat teraweh kala itu.

Apotek syariah

Ada delapan macam obat yang diberikan padaku. Dari obat panas, obat batuk, obat tenggorokan, anti biotic, hingga obat lambung jika memang lambungku tidak kuat. Sampai rumah, hanya obat panas dan sakit kepala yang tidak kuminum. Sebab, sebelum pergi ke dokter aku sudah minum parasetamol. Yup, badanku memang demam tinggi.

Ternyata setelah minum obat-obatan itu setetes airpun yang kutelan keluar lagi! Sampai buih-buih busa yang keluar. Terakhir ketika ‘kubayar pajak’ lagi ke dr Jun, muntahanku hanya angin! Dr Jun memintaku untuk dirawat. “Kamu sudah dehidrasi, harus lewat injeksi nih Nuk. Kalau nggak, apapun yang kamu masukkan ke mulut bakal keluar lagi”

Dr Jun memberikan resep, termasuk untuk infuse (alatnya juga). Mbak Elis yang datang bersama kawan-kawan bersedia menukarkan resep. Toh, apotek ada di samping klinik. “Kok belum diinfus Nuk?” tanya Ida. Mbak Elis bilang, apotek sudah tutup. Perawat klinik juga bilang, apotek sudah tutup menjelang pukul 18. sedangkan jam buka puasa masih sekitar satu jam.

“Tadi ada bapak-bapak juga nunggu di depan apotek. Dia tampak cemas. pas ada orang keluar dari apotek, dia menyerahkan resep. Ternyata dibilang tutup, bukanya setelah sholat teraweh usai. Padahal sekarang masih jam 6 (sore)” kata mbak Elis.

Mbak Elis juga menirukan perkatakaan bapak itu pada orang apotek. “Saya Gunung Pudong sampai Tapaktuan nggak ada satupun apotek yang buka! Tolonglah, saudara saya kritis. Infusnya sudah mau habis! Obatnya juga harus segera disuntikkan”

Tetapi orang apotek mengatakan kalau apotek tutup. “Ini kan daerah syariah Islam. Sekarang waktunya mau buka. Kalau mau ya menunggu sampai apotek buka. Apotek ya ikut aturan syariah” sambil berlalu.

Woalah, saya pun akhirnya menunggu obat injeksipun setelah sholat teraweh usai. Obat yang kata dr Jun lebih cepat diberikan lebih baik, baru masuk setelah lebih dari empat jam kemudian.