Apotek Berlabel Syariah


Berkali-kali sakit di perantauan, kok ya badanku tidak pernah capek merasakannya. Terlebih di kota kecil Tapaktuan!

Padahal tahun lalu, untuk menunggu check darah saja aku harus menunggu sampai empat jam! Sampai-sampai Didik yang koordinatorku, mbak Oni, mbak Rita mengambil keputusan, “Ninuk dikirim ke Medan saja untuk mendapatkan perawatan yang baik!”

Kemudian ketika tipesku kambuh, di rumah sakit yang sama Rumah Sakit Umum Dr. H. Yuliddin Away, Tapaktuan, Aceh Selatan, jarum infus baru ‘benar’ setelah tusukan ke Sembilan. Itupun perawat lain harus menelpon perawat senior untuk menginfusku. Jarum ukuran 24 hingga 18 keluar masuk tubuhku oleh lima orang perawat yang bergonta-ganti menusukku.

Aih, hanya ‘gara-gara’ sakit tenggorokan aku harus rawat inap lagi. Sepele!

Dr Junaidi Sp PD tengah sholat teraweh. Klinik langgananku itu sudah tutup. Lalu, oleh mbak Santi, Ida, dan Farida, aku dibawa ke dokter umum perempuan. Kebetulan hanya dia satu-satunya dokter yang mau menerima pasien di jam sholat teraweh kala itu.

Apotek syariah

Ada delapan macam obat yang diberikan padaku. Dari obat panas, obat batuk, obat tenggorokan, anti biotic, hingga obat lambung jika memang lambungku tidak kuat. Sampai rumah, hanya obat panas dan sakit kepala yang tidak kuminum. Sebab, sebelum pergi ke dokter aku sudah minum parasetamol. Yup, badanku memang demam tinggi.

Ternyata setelah minum obat-obatan itu setetes airpun yang kutelan keluar lagi! Sampai buih-buih busa yang keluar. Terakhir ketika ‘kubayar pajak’ lagi ke dr Jun, muntahanku hanya angin! Dr Jun memintaku untuk dirawat. “Kamu sudah dehidrasi, harus lewat injeksi nih Nuk. Kalau nggak, apapun yang kamu masukkan ke mulut bakal keluar lagi”

Dr Jun memberikan resep, termasuk untuk infuse (alatnya juga). Mbak Elis yang datang bersama kawan-kawan bersedia menukarkan resep. Toh, apotek ada di samping klinik. “Kok belum diinfus Nuk?” tanya Ida. Mbak Elis bilang, apotek sudah tutup. Perawat klinik juga bilang, apotek sudah tutup menjelang pukul 18. sedangkan jam buka puasa masih sekitar satu jam.

“Tadi ada bapak-bapak juga nunggu di depan apotek. Dia tampak cemas. pas ada orang keluar dari apotek, dia menyerahkan resep. Ternyata dibilang tutup, bukanya setelah sholat teraweh usai. Padahal sekarang masih jam 6 (sore)” kata mbak Elis.

Mbak Elis juga menirukan perkatakaan bapak itu pada orang apotek. “Saya Gunung Pudong sampai Tapaktuan nggak ada satupun apotek yang buka! Tolonglah, saudara saya kritis. Infusnya sudah mau habis! Obatnya juga harus segera disuntikkan”

Tetapi orang apotek mengatakan kalau apotek tutup. “Ini kan daerah syariah Islam. Sekarang waktunya mau buka. Kalau mau ya menunggu sampai apotek buka. Apotek ya ikut aturan syariah” sambil berlalu.

Woalah, saya pun akhirnya menunggu obat injeksipun setelah sholat teraweh usai. Obat yang kata dr Jun lebih cepat diberikan lebih baik, baru masuk setelah lebih dari empat jam kemudian.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: