Pakde Marto Telah Kehilangan Sawahnya


Bang Zen mengirimi foto-foto aksi demo para petani ke kantor Gubernur Jambi. Dari fotonya, entah para pendemo itu petani sungguh atau tidak. Saat kupelototi satu persatu foto yang ditandai di fesbukku, ingatanku berbalik arah ke Desa Kwarasan, Kecamatan Sukoharjo, Jawa Tengah. Di sanalah pakde dan mbokdeku, Pakde dan Mbokde Marto Dikromo tinggal.

Sejak masa kanak-kanak, Pakde Marto ditempa untuk menjadi petani. Ketika menikahi mbokdeku, Mbokde Sarinah, Pakde Marto tetap tekun menjalani hidupnya sebagai petani.

Pulang lebaran lalu aku mengunjunginya. Rintik gerimis lembut tetapi membuat bajuku dan ponakanku, Reza, yang kuajak sedikit basah. “Mbahe tesih teng sabin, Bulik. Sekedap, kula pethuk’e (Nenek dan kakek masih di sawah. Sebentar, akan saya jemput),” ujar anak sepupuku yang juga keponakanku, cucu Pakde dan Mbokde Marto. Bahasa kromonya campur-campur.

Malah aku mengikutinya bersama Reza ke belakang rumah. ‘Suasana desa’ masih terasa di belakang rumah Pakde dan Mbokde Marto. Kandang kambing masih tercium tahinya, juga kandang ayam yang ada di hadapannya. Pohon belimbing yang menaungi keduanya semakin kokoh. ”Kwek kwek kwek kwek” bebek enggan turun ke sungai. Mereka hanya ribut mencari comberan aliran air hujan.

Kakiku melewati jembatan bambu berjajar tiga itu tanpa alas kaki. “Akeh telek pitik lho, Bulik (banyak tahi ayam lho),” kata Reza mengingatkan aku untuk tidak memilih pijakan di tanah basah itu. Sungai kecil itu kotor, sampah tertahan di jembatan kecil yang kuseberangi. Airnya hitam pekat, agak berbau.

Toni berjalan cepat. Kakinya telah sangat akrab dengan tanah persawahan. “Opo do ora tandur -padi- e Le, kok raono pari (Apa nggak ada yang menanam -padi-, kok nggak ada padi)?” tanyaku pada Toni.

“Kathah omo tahun niki. Mboten enten sing dados (Banyak hama tahun ini. Tidak ada yang jadi),” jawab Toni.

”Mbah, wonten tamu saking Gambiran (Mbah, ada tamu dari Gambiran),” teriak Toni pada Mbokde Marto setiba di lahan sepetak di pinggir jalan. Sisi jalan lainnya telah berdiri kokoh bangunan. Sepertinya bangunan pabrik.

Tubuh kurus yang tengah membungkuk ditegakkannya. Tangan Mbokde masih memegang daun ubi rambat. Ada ubi rambat pula di tangan kirinya, warnanya putih. Mbokdeku yang sudah beruban semua itu tertawa. Giginya yang masih utuh tapi merah oleh sirih dan uba rempenya terlihat kentara.

”Ealah, kok yo nututi neng sawah. Hayo muleh…wes, neng ngomah wae. Udan, Nduk, mundak masuk angin ngko (Walah, kok ya ikut ke sawah. Ayo pulang. Sudah, di rumah saja. Hujan, nanti masuk angin),” suara Mbokde Marto terdengar riang. Pakde yang juga tengah mencabut ketela rambat itu menengadahkan kepala. Lalu berjalan mendekatiku dan Reza.

”Pakne, ki lho ono tamu soko Gambiran,” kata Mbokde pada Pakde. Oleh Pakde Marto, kami disuruh balik ke rumah. Mereka berdua menyusul kami di belakang setelah membereskan panenan ketela.

Petani tak bersawah
”Pakdemu ki mung nggarap, Nduk. Sawah wes radue (Pakdemu ini hanya menggarap –petani pengarap. Sawah sudah tidak punya,” tukas Pakde.

Cerita Pakde, sawahnya yang dua hektar terpaksa dijual, termasuk kerbau yang biasa dimanfaatkan untuk membajaknya. Kenapa Pakde?

”Lha piye, sawah dikempit pabrik. Galengan sing biasane dialerke neng sawahe Pakdemu kui ditutup. Kae lho, sawahe Pakdemu saiki wes dadi pabrik. Pabrik’e dilar. Biyen Pakdemu ora gelem adol pas ditakoni sing due pabrik. E, kok banyune dipateni (Gimana ya, sawah dihimpit pabrik. Saluran air yang biasanya dialirkan ke sawah Pakde ditutup. Itu lho, sawah Pakdemu sekarang sudah jadi pabrik. Pabrik diperbesar. Dulu Pakdemu tidak mau jual saat ditawar oleh pemilik pabrik. E, kok airnya ‘dibunuh’),” suaranya berhenti. Matanya berkaca-kaca.

“Kae tontonen dewe banyu kali mburi omah. Biyen jaman jek bocah koe seneng adus neng kali kono, Nduk. Koe ijek kelingan ora senenge njaluk munggah kebo pas Pakdemu iki ngguyang kebo (Lihatlah itu air sungai di belakang rumah. Dulu waktu kamu masih anak-anak, kamu suka sekali mandi di sungai itu. Kamu masih ingat tidak, suka minta naik kerbau saat Pakdemu ini memandikan kerbau)?” tukas Pakdeku yang kini berusia 98 tahun ini.

Pakde dan Mbokde Marto tentu sangat bersedih harus menjual sawahnya. Menjual sawah sama artinya menjual hidupnya. Apalah artinya petani tanpa sawah. Pakde dan Mbokde Marto hanya menggarap lahan milik orang yang berderma ’memberinya rejeki’.

Sawah garapan itupun tak lama lagi akan menjelma menjadi rumah. Sang pemilik telah mengatakannya pada Pakde dan Mbokde Marto pada Ramadhan lalu.

’Suasana desa’ yang kurasakan di belakang rumah Pakde dan Mbokde Marto telah berlalu. Bahkan sebelum Pakde dan Mbokde Marto kehilangan lahan garapan nanti.

Hari ini Hari Tani Nasioanal, Pakde, tapi saya takut menyelamati untuk Pakde dan Mbokde. Maafkan ponakanmu ini..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: