Pak Ketua DPR RI, Belajarlah ke Jepang!

”Kalau tinggal di pulau itu sudah tahu berisiko, pindah sajalah. Namanya kita negara di jalur gempa dan tsunami luar biasa. Kalau tinggal di pulau seperti itu, peringatan satu hari juga tidak bisa apa-apa.”

Apa yang akan Anda ucapkan pada orang yang berkata demikian jika kebetulan saja Anda adalah korban tsunami? Lebih-lebih ketika kita tahu si pengucap kata itu seorang wakil rakyat yang mulia, yang menduduki jabatan Ketua DPR RI! Seorang Ketua DPR RI justru menyalahkan korban tsunami Mentawai yang tetap tinggal di tepi pantai.

Berita Kompas kemarin itu (http://regional.kompas.com/read/2010/10/27/16512887/Marzuki.Pindah.Saja.ke.Daratan-8) terus mengusikku sampai hari ini.

Marzuki Ali sang Ketua DPR RI itu berkata, “Ya kalau takut kena ombak, jangan tinggal di tepi pantai.” Enteng sekali mulutnya! Barangkali saja Wakil Ketua Dewan Pembina DPP Partai Demokrat itu tidak mengerti betul makna bencana. Bahwa tidak semua kejadian alam menjadi bencana jika kita selalu siapsiaga, begitu pula tsunami.
(ancaman tidak hanya di sini! foto diambil dari http://archive.kaskus.us/thread/2597170)
Anak kecilpun tahu segala konsekuensi yang bisa saja ditemui saat kita berada, atau malah tinggal di pinggir laut. Ponakanku yang masih Taman Kanak-Kanak pun tahu jika tinggal di lereng Merapi bisa saja terkena wedhus gembel saat Merapi meletus. Anak-anak SD Panton Luas, Kecamatan Tapaktuan, Aceh Selatan, pun tahu mereka aman tsunami tapi bahaya banjir dan longsor selalu mengancam jiwa mereka. Oleh karena itu mereka terus belajar memperkecil resikonya!

Apa iya, jika warga Mentawai pindah dan tinggal di daratan seperti saran dia, otomatis warga akan terhindar dari ancaman bencana? Apakah persoalan selesai begitu saja jika orang-orang yang tinggal di pesisir pantai disuruh pindah ke daratan? Ingat Pak Ketua DPR, tsunami tidak selalu menjadi bencana jika masyarakat dan pemerintah siapsiaga dengan upaya mitigasi bencana dan sebagainya.

Pak Ketua DPR rupanya harus ’jalan-jalan’ ke Jepang agar otaknya terbuka bahwa bencana bisa dihindari, atau paling tidak dikurangi resikonya. Menimba ilmulah pada negara lain, atau moyang kita sendiri supaya tidak membuat komentar yang memalukan diri sendiri!

Iklan

Negeriku Masih Punya Orang Baik

Mataku erat terpejam kala handphone yang kuletakkan di meja kecil di kamarku menanda panggilan. Sekali berbunyi aku terganggu. Malah, ia berbunyi lagi. Kesal, tapi aku beranjak sebentar. Kusahut teknologi yang pernah membuatku malas menyentuhnya di tiap hari Sabtu dan Minggu itu.

08566891xxx. Ia hanya kudiamkan. Kurasa, aku tak mengenal pemiliknya. Aih, pukul 01.54! Apakah ia pemilik nomer yang pernah kublokir itu? Sangat mungkin ia berganti nomer lagi seperti waktu-waktu sebelumnya. Bukankah suara-suara mendesah menjijikkan itu kerap menelponku tengah malam?

Hp lempar di bawah bantal yang tak pernah kupakai untuk alas kepalaku itu. Empat kali lagi ia memanggil. “nDladuk!” umpatku. Kusahut lagi, Nonaktifkan!

Persis usai mandi, nomer yang sama memanggil lagi. Ketika kulihat lagi, ternyata ia telah memanggilku sejak pukul 20.18 di hari sebelumnya. “Assalamu’alaikum. Saya bicara dengan siapa ya?” suara laki-laki. Kalau sudah begini awalnya, biasanya aku akan matikan. Hanya batinku bicara,”Situ yang nelpon kok tanya saya siapa!”. Tapi suara yang keluar dari mulutku malah menanyakan apa yang bisa saya bantu. Belum juga ia bicara, signal hilang!

Baru saja suara laki-laki itu kudengar lagi. “Maaf bu, saya tadi sedang menuju pasar…” padahal aku juga tak bertanya. Lalu mati lagi. Nggak jelas siapa orang ini. Lima menit kemudian, ia mengirimkan pesan pendek.
Foto (nuk)

(Mbak) Patra kukenal saat kami sama-sama hadir di sebuah undangan di Jakarta belum lama ini. “Ibu, saya menemukan tas orang yang mungkin pemiliknya namanya Patra… Dompetnya masih ada, masih ada uang, atm, kartu-kartu lain, ada uangnya di dompet. Saya temukan nomer ibu di tasnya,” ujar lelaki yang tinggal di Padang, Sumatera Barat ini.

“Sejak semalam saya telpon Ibu. Saya telpon Ibu tengah malam karena tidak bisa tidur. Kuatir pemilik tas ini bingung mencari-cari,” kata pemilik suara yang kutahu kemudian bernama Pak Rudi.

Astaghfirullah, aku telah berburuk sangka pada Pak Rudi yang baik. Aku telah berburuk sangka pada pak Rudi, yang dari suaranya kudengar sangat santun. Kubersyukur, negeri ini masih ada Pak Rudi….

Tugas TNI Menyiksa Rakyat (?)

“Hey, hey, saya di sini berdasarkan tugas! Tugas negara!” kalimat itu yang kudengar. Sedangkan gambar yang terus berputar itu memperlihatkan sepatu-sepatu laras berkali-kali hinggap pada kepala.

Belum selesai video itu kulihat (http://www.youtube.com/watch?v=z-gvqTIcU4E), tapi aku tak kuat! Aku tak mau kebencianku pada Tentara Nasional Indonesia bercokol di diriku lagi. Ingatan masa lalu tentang kekejamannya pada keluargaku tak ingin kuingat lagi. aku malu indonesia py tni (foto diambil di http://th1979.wordpress.com/tag/politik/)

Tapi, MasyaAllah, “Ahhhhhhhh…” tanpa sengaja kulihat gambar terus berputar. Pisau berkilauan itu tengah memotong penis! Jantungku makin berdegup kencang, tanganku bahkan gemetaran.
– – –
Setelah ada penyeledikan oleh TNI, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto membenarkan tindakan tak beradab itu! Di Kompas (http://nasional.kompas.com/read/2010/10/22/12300128/TNI.Akui.Kebenaran.Video.Papua-8) ia mengatakan, “Ada tindakan prajurit di lapangan yang berlebihan.”

Terkait dengan tindakan biadab yang direkam video itu pula, SBY memanggil Menko Polkam, Menhan Purnomo Yusgiantoro, serta Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono. Kata Djoko, berdasarkan laporan awal, korban diduga pelaku penembakan karyawan Freeport Indonesia.

inikah tugasmu, tni? (diambil dari kompas)

Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Ifdhal Kasim mengatakan, video yang diperkirakan direkam pada 12 April lalu itu merupakan video bukan manupulatif. Korban kekerasan diduga bernama Kindeman Gire pendeta sebuah gereja di Desa Hurage. Korban saat ini diperkirakan sudah meninggal.

Sampai kapan kekejaman yang TNI lakukan terus berulang? Tidakkah nurani itu telah hilang dari negara kita? Belum cukupkah negara kita yang tegak terus bersimbah darah oleh darah rakyatnya sendiri? Atas nama apapun, terlebih atas perintah negara, kekejaman harap hentikan sekarang juga!

Temu Lawak tu Milik Amerika!

Ketika baca berita ini di Kompas (http://health.kompas.com/index.php/read/2010/10/21/07143294/Temulawak.Dipatenkan.Asing-8), ingatanku langsung tertuju pada ongkok’an umbi di ruang belakang dekat mesin cuci. Umbi berpostur gemuk-gemuk itu jauh-jauh dibawa mbak Santi dari Yogyakarta.
temu lawakku bukan milikmu (foto dari zulzsroom.blogspot.com dan http://id.wikipedia.org/wiki/Temu_lawak)

Hanya menyakinkan diri, mbak Santi pasti belum tahu kabar ini. Ya, bahwa temulawak pun kini sudah menjadi ’milik asing’. Amerika Serikat telah mematenkan tanaman asli Indonesia ini. Kepalaku jadi berkunang-kunang, jangan-jangan harga jamu yang biasa dikirim adikku dari Pulau Jawa sana juga bakal naik selangit! Ada potongan tipis-tipis Curcuma xanthorrhiza L dalam ramuan jamuku itu.

Ah, kalau sudah terlanjur kecolongan begini apa yang harus kulakukan? Uh, para pejabat negara malah keasyikan korupsi dan perang sendiri sih…. Tapi, husttt jangan lapor ke Amerika ya kalau sejak lama aku menanam temu-temuan, juga temulawak di belakang rumah!

Mau Aman Masuk Rimba? Buang Pusar Harimau di Kepalamu!

Kain warna biru berbentuk segitiga yang menutupi rambutku dibuka Leni. Tidak semuanya, hanya disibakkan pada bagian tengkuk leherku. Jari tangan gadis ini, sepertinya jari telunjuk, ia telusurkan persis di ujung kepalaku yang berambut tipis-tipis. Dari sebelah kanan, tangannya pindah ke ujung kepala sebelah kiri. Mungkin saat melihat ujung kepala bagian kiri, tubuhnya sengaja ia tegakkan. Ia memang tengah duduk di sebelah kananku.

”Tidak ada, Nuk. Tapi kalau mau tahu pastinya, kamu periksalah ke Bapak tuh. Biar aman kalau jalan ke hutan,” kata Pemudi Gampong Panton Luas, Kecamatan Tapaktuan, Aceh Selatan itu padaku.

Lalu ia berkata lagi, ”Kepalaku juga sudah diperiksa. Tadinya dilihat mamak. Tapi mamak juga kurang tahu pasti ada atau ndak ada di kepalaku. Aku disuruhnya periksa ke Bapak tuh. Memang tidak ada.”

Sejak peristiwa mengenaskan minggu lalu (Lagi, Manusia vs Harimau! Mati!), warga Gampong Panton Luas, Tapaktuan, berbondong-bondong memeriksakan kepalanya pada seorang pawang harimau. Kata seorang pemuda padaku, pawang harimau asal Aceh Barat sengaja didatangkan ke desa untuk mengusir atau menangkap harimau yang telah memakan Martunis. ”Kakek tu juga bersedia menghilangkan tanda sial pada orang-orang yang memilikinya. Paling nggak untuk mencegah kena sial lah….”

Orang-orang menyebut tanda sial itu bernama pusar harimau! Aku sendiri baru pertama kali mendengar istilah itu. Katanya, bentuknya mirip pusar rambut yang ada di setiap kepala kita (Jawa : unyeng-unyeng). Hanya saja, letaknya ada di kepala bagian bawah, pada ujung kepala, baik kiri atau sebelah kanan. Menurut cerita yang beredar di gampong itu, jika tanda sial tidak dihilangkan, orang itu bakal sial jika masuk hutan. (Mau aman masuk hutan? Buang dulu pusar harimau di kepalamu! foto disalin dari missrohamia.blogspot.com)

”Orang yang punya pusar harimau akan aman jika tinggal di kota. Tapi kalau seumpama orang tu datang ke kampung, nenek akan turun ke kampung mencarinya. Lebih-lebih kalau pusar harimau di kepala orang tu sudah matang, nyawanya sudah di ujung barangkali,” tutur Kak Mun. (Foto diambil di animalpicturesarchive.com)

Menurut Kak Mun, pusar itu dihilangkan dengan cara dikerik. ”Sampai berdarah-darah juga. Tapi kakek tu juga baca doa-doa.”

Kak Mun mengatakan, pawang harimau yang didatangkan oleh pihak BKSDA itu tidak memungut biaya pada warga yang meminta pusar harimau di kepalanya dihilangkan. ”Kami hanya bawa ayam, katanya untuk kenduri anak yatim jika kakek tu pulang ke Meulaboh. Kakek tu juga tidak banyak kasih pantangan. Dia hanya bilang supaya kita tidak meninggalkan sembahyang, sholat lima waktu.”

Hingga kemarin, sudah 12 orang warga yang telah berhasil dibersihkan pusar harimau di kepalanya oleh sang pawang.

Takut ditakut-takuti
Meskipun seorang pawang harimau telah didatangkan, suasana ketika berada di desa memang masih terasa mencekam. Warga umumnya masih merasa takut untuk pergi ke ladang untuk berkebun atau bertani. Sebab kata beberapa warga gampong, nenek masih sering mondar-mandir di sekitar tempat ditemukannya almarhum Martunis. Walau suami Kak Mun mengungkapkan bahwa Panthera tigris sumatrae itu memang ’berumah’ di goa di sekitar sana.

Suasana mencekam lebih terasakan ketika siang beranjak sore menyambut datangnya malam. Sekalipun suasana itu sendiri kadang lebih dibangun berdasarkan praduga, juga ketakutan yang sengaja dilebih-lebihkan oleh pikiran. Salah seorang yang berkeluh kesah padaku adalah Leni. Ia sengaja memintaku menemaninya saat turun ke kota naik sepeda motor. Seorang ibu yang tidak kutahu namanya berkata pada Leni, juga padaku.

”Lah ado yang liek jejak kaki nenek di bawah! Idak usah turun. Ihhh, ambo takuik! Mati kau nanti!”

Padahal saat itu maghrib masih sekitar satu jam lagi. Sinar matahari masih terasa menggigit di kulit. ”Itulah Nuk yang membuat kita tambah takut. Kemarin Leni berangkat sudah jam tujuh lebih seperti hari-hari biasa kalau Leni masuk malam. Sendiri nggak apa-apa. Tapi orang tu malah menakut-nakuti,” ujar gadis yang bekerja di RSU Dr. H. Yuliddin Away, Tapaktuan itu.

Swadaya
Selain mendatangkan pawang harimau, saat ini warga desa berswadaya membuat perangkap harimau dari bahan yang mereka miliki. Keuchik Gampong Panton Luas mengatakan, keputusan untuk membuat perangkap harimau adalah keputusan warga gampong. ”Awalnya belum kami pikirkan, tapi kemudian ada pandangan itu karena warga takut ke kebun. Takut kalau-kalau jumpa dia lagi, ada korban lagi.”

Soal aman atau tidaknya perangkap itu bagi kenyamanan harimau saat masuk perangkap, seorang warga mengatakan tidak begitu memperdulikannya. ”Asalkan dia tertangkap sehingga kami aman ke kebun lagi,” sela Pak Wi. Ia sendiri berharap perangkap harimau disediakan pihak-pihak terkait seperti BKSDA.

Bapak yang berusia sekitar 60 tahun itu juga berharap, pawang harimau yang telah didatangkan ke gampong mampu menjadi jembatan penolong bagi warga desa. Jika pun harimau tidak masuk perangkap dan tidak bisa ditangkap, warga desa tetap aman dimana saja setelah tanda sial pusar harimau dihilangkan. ”Seperti bencana kan, bisa ditanggulangi. Kita berikhtiar dengan berbagai cara yang semoga tidak melanggar ajaran Islam,” katanya dalam bahasa Taluak yang diterjemahkan oleh Bang Asri seperti ini.

Akh, aku kok jadi pengen tahu ya, apakah ada pusar harimau di kepalaku? Atau juga di kepalamu? Ayoh kita periksa!

Lagi, Harimau Vs Manusia. Mati!

“Pemuda Desa Panton Luas meninggal dimakan harimau,” ujar Dian. Ia belum juga masuk pintu kantor saat menyampaikan kabar duka itu. Mbak Elis yang keluar dari ruangannya memperjelas kabar itu. Ia malah bergidik sambil memegang perutnya.

Pemuda yang sehari-hari bekerja mencari rotan itu bernama Martunis. Namun, kata Dian dan Bang Asri yang mendengar kabar dari Keuchik (Kepala Desa) Gampong Panton Luas, Kecamatan Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan itu, Martunis tengah ke hutan menunggu durian.

“Sekarang kan lagi musim durian. Biasanya nenek keluar di masa-masa musim durian,” kata Bang Asri. Nenek seperti yang dikatakan Bang Asri ditujukan untuk sang Panthera tigris sumatrae.

menunggu punah? (foto diambil di hinamagazine.com)Leni pemudi desa Panton Luas menyebut, almarhum sempat pamit pada orangtuanya ke Gunung Serindit yang berjarak sekitar satu kilometer dari desa. “Jadi takut juo ambo ke gunung Kak,” kata dia lewat pesan pendek.

Konflik antara harimau dengan manusia kian kerap terjadi. Rasaku, baru beberapa bulan yang lalu si raja hutan sumatera itu turun ke Desa Jambo Apha di Kecamatan yang sama. Ketika ramai-ramai ditangkap, ia akhirnya mati setelah mendapat perawatan di Banda Aceh.

Lalu, apakah meauuwww yang memakan organ dalam alm Bang Martunis juga akan mengalami nasip yang sama? Seorang teman berkata padaku, ”Biasanya kalau sudah memakan manusia, ia akan menyerah sebentar lagi. Tidak lama dia akan mati tuh. Itu sudah sumpah dia dulu.” Akh, apa iya begitu? Bukankah jika tanpa tersakiti pun ia terus diburu? Bukankah manusia yang pendendam ini akan terus mencarinya hingga ia mati ditangan manusia?

Satu hal yang kuanggap lucu, atau malah ironis ketika tadi kukontak teman konservasionis satwa yang juga ada di Aceh. ”Kalau di Aceh Selatan tu sudah ada YLI (Yayasan Lauser Indonesia) yang mendampingi masyarakat. Itu karena desa itu masuk wilayah KEL (Kawasan Ekosistem Lauser).”

Logikaku tak berjalan, aku tak mengerti. Tanyaku hanya sederhana, apakah donor lembaga tidak akan mengerti atau tak mau mengerti jika lembaga tersebut turun di satu wilayah yang bukan area yang didanainya? Entahlah…

Hampir tidak ada bedanya dengan lontaran Menteri Kehutanan Zulkifli yang menyalahkan manusia saat terjadi konflk antara manusia dengan harimau atau gajah. Hanya menyalahkan tanpa solusi, konflik akan terus terjadi sampai kapanpun. Mungkin sampai gajah dan harimau punah dari muka bumi

’Syariah vs Sejarah’, Orang Aceh Jameun bukan Islam?

Rupanya berita di tv berjudul “perempuan vs syariah” itu lagi-lagi berasal dari Serambi Mekkah. Pejabat legislatif yang juga Ketua DPRK Bireun, Ridwan Muhammad menegaskan larangan bagi perempuan untuk menjabat sebagai pimpinan. Alih-alih memberi kesempatan Anisah berkreasi menyejahterakan warga Plimbang, Ridwan malah menilai jabatan Anisah sebagai Camat Plimbang bertentangan dengan Syariah Islam.

Hmm, perempuan versus syariah lagi! Padahal kabar wajib memakai rok bagi perempuan di Muelaboh belum juga usai. Ida temanku asal kota itu pernah sampai mengatakan, “Sarap memang, bupati Muelaboh! Perempuan nggak boleh bercelana! Harus pake rok! Banyak orang jatuh dari kereta (motor) gara-gara aturan gila ini!” Ah, Da, apa sih yang salah dengan perempuan di Aceh?

Perempuan Aceh Hebat!

Kelasku yang berpintu dua di pojok selatan-timur, dan timar-utara itu mungkin juga hampir sama dengan ruang kelasmu. Lukisan atau foto-foto pahlawan entah satu atau dua pasti menempel pada dindingnya. Jika di kelas lain ada salah satu foto pahlawan revolusi, di kelasku tidak.

Empat foto berbingkai kayu tanpa ukiran yang dipasang pada dinding ruang kelasku bahkan tidak ada satupun pahlawan berjenis kelamin laki-laki. Pada tembok sisi kiri atau utara, foto Cut Meutia tertempel di sana. Di tembok belakang ada sosok ’Ibu Kita’ Kartini dan Dewi Sartika. Sedangkan di sisi kanan atau selatan, foto perempuan berbadan tegap dengan rambut dikonde di atas miring ke kirii, Cut Nyak Dhien, dipasang tepat di tengah-tengah ventilasi ruangan.

Laksamana Keumalayahati, perempuan Aceh tempo dulu…(foto diambil di http://acehpedia.org/Laksamana_Keumalahayati)Bu Kati yang berusia lebih dari 60 tahun itu mengatakan, ”Jauh sebelum Kartini memperjuangkan hak perempuan Jawa lewat surat-suratnya, perempuan-perempuan Aceh telah berjuang gagah berani melawan kekuatan Portugis dan Belanda. Salah seorang yang terkenal adalah Laksamana Keumalahayati.” Tentu saja Bu Kati tidak sedang mengecilkan peran Kartini dalam emansipasi perempuan.
//acehpedia.org/Laksamana_Keumalahayati)

Laksamana Keumalayahati, perempuan Aceh tempo dulu…(foto diambil di http://acehpedia.org/Laksamana_Keumalahayati)

Wali kelasku berkisah, perempuan tangguh itu memimpin ribuan pasukan perempuan, yang kutahu kemudian disebut Inong Balee (janda para pejuang), melawan kekuatan pasukan Belanda dan Portugis yang hendak menguasai jalur laut Selat Malaka. Kata Bu Kati, perempuan pemimpin Angkatan Laut Kerajaan Aceh itulah yang menewaskan orang Belanda pertama yang tiba di Indonesia, Cornelis de Houtman. ”Sayang, Ibu belum punya gambarnya untuk dibingkai seperti foto-foto itu,” tutur Bu Kati sambil menunjuk foto Cut Meutia.

Selain Cut Nyak Dhien dan Cut Meutia yang telah akrab di telinga, Bu Kati kerap berkisah tentang perempuan-perempuan hebat Aceh. Beberapa nama ratu disebutkan walau aku lupa mengingatnya. Ingatanku pada ucapan Bu Kati saat itu kurang lebih hanya demikian, ”Seringkali kekuatan pejuang perempuan disepelekan, padahal kekuatan itu ampuh menghancurkan lawan.”

Pernyataan Bu Kati kemudian terbuktikan saat aku bergaul dengan perempuan Aceh masa kini. Walau dalam lingkar lebih kecil, di masa pemberontakan DI/TII hingga pertarungan antara GAM dengan TNI, perempuan Aceh lah tumpuan hidup keluarga. Mau tidak mau, perempuan harus berjuang menyelamatkan keluarganya tanpa laki-laki pendampingnya. Mereka dipaksa berperan ganda, ibu sekaligus kepala keluarga bagi anak-anaknya, juga anggota keluarga lanjut usia atau cacat.

"Kamilah yang menghidupi anak-anak, orangtua-orangtua kami. Kami yang berhadapan dengan tentra (tentara-TNI)" Foto diambil kaskus.usIma perempuan asal Kluet Tengah pernah berkisah padaku. ”Laki-laki sembunyi, lari ke gunung. Kamilah yang menghidupi anak-anak, orangtua-orangtua kami. Kami yang berhadapan dengan tentra (tentara-TNI). Kalau laki-laki kena tangkap, kami yang ke posko meminta pada tentra untuk membebaskan mereka,” ujar ibu tiga anak itu.
“Kamilah yang menghidupi anak-anak, orangtua-orangtua kami. Kami yang berhadapan dengan tentra (tentara-TNI)” Foto diambil kaskus.us

“Kamilah yang menghidupi anak-anak, orangtua-orangtua kami. Kami yang berhadapan dengan tentra (tentara-TNI)” Foto diambil kaskus.us

Namun, di masa damai ini perjuangan perempuan membebaskan Aceh dari penjajahan seakan sirna tanpa bekas. Komnas Perempuan mencatat, sekitar 154 Peraturan Daerah diskriminatif terhadap perempuan. Sedangkan 52 Raperda dan Perda baru melanggar hak-hak perempuan.

Ranah-ranah kekuasaan di beberapa wilayah Seramo Mekah mengerdilkan peran perempuan. Sebagai contoh, ya pernyataan Ketua DPRK Bireun tadi. Tidak heran jika pada wilayah terendah, gampong (desa) pun mulai berpandangan serupa. ”Jangankan memutuskan, diundang rapat pun tidak pernah. Katanya membuat keputusan tidak perlu perempuan ikut,” kata Ima, perempuan yang tinggal di Kluet Tengah.

Aih, bagaimana orang Aceh beranggapan pada perempuan pendatang jika pandangan terhadap perempuan Aceh -yang di masa lalu ikut membebaskan Aceh dari penjajahan- pun dianggap tiada arti! Bisa kupahami kawanku sekantorku mbak Lisa, kemarin sempat sewot justru usai bertemu dengan bapak-bapak pejabat di beberapa dinas di Aceh.

”Aku yang bertanya, kok pas njawab pandangannya ke Pak Jennnnnn terus! Aku yang punya pemikiran kok tanggapan mereka ke Pak Jennnnnn terus! Aku seperti nggak dianggap! Selalu seperti itu. Oh, aku lama-lama tahu, ternyata perempuan masih dianggap tidak setara, apalagi mengeluarkan argumen,” kata perempuan berdarah NTT-Jawa Timur ini. Tentu saja, pengalamanku berhadapan dengan beberapa pejabat dinas pun juga demikian. Pandangan wajah selalu diarahkan pada Bang Asri, driver kantor yang mengantarku, ketimbang padaku yang mengajak diskusi. Seakan, perempuan ‘tidak selevel’ dengan laki-laki.

Usulan pencopotan Anisah sebagai Camat Plimbang kini membuatku menerka-nerka tentang sejarah Aceh. Jangan-jangan orang Aceh jameun (masa lalu) setelah abad 15an bukan –orang- Islam! Buktinya, pada masa itu perempuan diperkenankan dan diberi kesempatan berada di tampuk kepemimpinan….

Ingatkah kamu di tahun 1400-1428, Ratu Nihrasiyah mengendalikan pemerintahan di Kerajaan Samudra Pasai? Tidak percayakah kamu, catatan sejarah kepemerintahan Ratu Safiatuddin yang memerintah selama 35 tahun telah dibaca para musafir Portugis, Inggris, dan Belanda? Dan siapa berani mencela keperkasaan janda Teuku Umar, Cut Nyak Dhien, janda Pang Nanggroe, Cut Meutia, Panglima Perang Pacot Baren melawan serdadu Belanda? Siapa meragukan keislaman orang Aceh masa lalu yang mengamini perempuan-perempuan ini menjadi pemimpin?

Lalu, siapa yang menenggelamkan sejarah Aceh jika orang-orang Aceh mulai meragukan kemampuan perempuan Aceh? Siapa salah Aceh tidak beranjak sejahtera jika para Cut Nyak Dhien, para Ratu Inayat Syah Zakiatuddin Syah masa kini tidak diberi kesempatan dan diragukan kemampuannya untuk merancang kesejahteraan bumi Nanggroe Aceh Darussalam sendiri?