’Syariah vs Sejarah’, Orang Aceh Jameun bukan Islam?


Rupanya berita di tv berjudul “perempuan vs syariah” itu lagi-lagi berasal dari Serambi Mekkah. Pejabat legislatif yang juga Ketua DPRK Bireun, Ridwan Muhammad menegaskan larangan bagi perempuan untuk menjabat sebagai pimpinan. Alih-alih memberi kesempatan Anisah berkreasi menyejahterakan warga Plimbang, Ridwan malah menilai jabatan Anisah sebagai Camat Plimbang bertentangan dengan Syariah Islam.

Hmm, perempuan versus syariah lagi! Padahal kabar wajib memakai rok bagi perempuan di Muelaboh belum juga usai. Ida temanku asal kota itu pernah sampai mengatakan, “Sarap memang, bupati Muelaboh! Perempuan nggak boleh bercelana! Harus pake rok! Banyak orang jatuh dari kereta (motor) gara-gara aturan gila ini!” Ah, Da, apa sih yang salah dengan perempuan di Aceh?

Perempuan Aceh Hebat!

Kelasku yang berpintu dua di pojok selatan-timur, dan timar-utara itu mungkin juga hampir sama dengan ruang kelasmu. Lukisan atau foto-foto pahlawan entah satu atau dua pasti menempel pada dindingnya. Jika di kelas lain ada salah satu foto pahlawan revolusi, di kelasku tidak.

Empat foto berbingkai kayu tanpa ukiran yang dipasang pada dinding ruang kelasku bahkan tidak ada satupun pahlawan berjenis kelamin laki-laki. Pada tembok sisi kiri atau utara, foto Cut Meutia tertempel di sana. Di tembok belakang ada sosok ’Ibu Kita’ Kartini dan Dewi Sartika. Sedangkan di sisi kanan atau selatan, foto perempuan berbadan tegap dengan rambut dikonde di atas miring ke kirii, Cut Nyak Dhien, dipasang tepat di tengah-tengah ventilasi ruangan.

Laksamana Keumalayahati, perempuan Aceh tempo dulu…(foto diambil di http://acehpedia.org/Laksamana_Keumalahayati)Bu Kati yang berusia lebih dari 60 tahun itu mengatakan, ”Jauh sebelum Kartini memperjuangkan hak perempuan Jawa lewat surat-suratnya, perempuan-perempuan Aceh telah berjuang gagah berani melawan kekuatan Portugis dan Belanda. Salah seorang yang terkenal adalah Laksamana Keumalahayati.” Tentu saja Bu Kati tidak sedang mengecilkan peran Kartini dalam emansipasi perempuan.
//acehpedia.org/Laksamana_Keumalahayati)

Laksamana Keumalayahati, perempuan Aceh tempo dulu…(foto diambil di http://acehpedia.org/Laksamana_Keumalahayati)

Wali kelasku berkisah, perempuan tangguh itu memimpin ribuan pasukan perempuan, yang kutahu kemudian disebut Inong Balee (janda para pejuang), melawan kekuatan pasukan Belanda dan Portugis yang hendak menguasai jalur laut Selat Malaka. Kata Bu Kati, perempuan pemimpin Angkatan Laut Kerajaan Aceh itulah yang menewaskan orang Belanda pertama yang tiba di Indonesia, Cornelis de Houtman. ”Sayang, Ibu belum punya gambarnya untuk dibingkai seperti foto-foto itu,” tutur Bu Kati sambil menunjuk foto Cut Meutia.

Selain Cut Nyak Dhien dan Cut Meutia yang telah akrab di telinga, Bu Kati kerap berkisah tentang perempuan-perempuan hebat Aceh. Beberapa nama ratu disebutkan walau aku lupa mengingatnya. Ingatanku pada ucapan Bu Kati saat itu kurang lebih hanya demikian, ”Seringkali kekuatan pejuang perempuan disepelekan, padahal kekuatan itu ampuh menghancurkan lawan.”

Pernyataan Bu Kati kemudian terbuktikan saat aku bergaul dengan perempuan Aceh masa kini. Walau dalam lingkar lebih kecil, di masa pemberontakan DI/TII hingga pertarungan antara GAM dengan TNI, perempuan Aceh lah tumpuan hidup keluarga. Mau tidak mau, perempuan harus berjuang menyelamatkan keluarganya tanpa laki-laki pendampingnya. Mereka dipaksa berperan ganda, ibu sekaligus kepala keluarga bagi anak-anaknya, juga anggota keluarga lanjut usia atau cacat.

"Kamilah yang menghidupi anak-anak, orangtua-orangtua kami. Kami yang berhadapan dengan tentra (tentara-TNI)" Foto diambil kaskus.usIma perempuan asal Kluet Tengah pernah berkisah padaku. ”Laki-laki sembunyi, lari ke gunung. Kamilah yang menghidupi anak-anak, orangtua-orangtua kami. Kami yang berhadapan dengan tentra (tentara-TNI). Kalau laki-laki kena tangkap, kami yang ke posko meminta pada tentra untuk membebaskan mereka,” ujar ibu tiga anak itu.
“Kamilah yang menghidupi anak-anak, orangtua-orangtua kami. Kami yang berhadapan dengan tentra (tentara-TNI)” Foto diambil kaskus.us

“Kamilah yang menghidupi anak-anak, orangtua-orangtua kami. Kami yang berhadapan dengan tentra (tentara-TNI)” Foto diambil kaskus.us

Namun, di masa damai ini perjuangan perempuan membebaskan Aceh dari penjajahan seakan sirna tanpa bekas. Komnas Perempuan mencatat, sekitar 154 Peraturan Daerah diskriminatif terhadap perempuan. Sedangkan 52 Raperda dan Perda baru melanggar hak-hak perempuan.

Ranah-ranah kekuasaan di beberapa wilayah Seramo Mekah mengerdilkan peran perempuan. Sebagai contoh, ya pernyataan Ketua DPRK Bireun tadi. Tidak heran jika pada wilayah terendah, gampong (desa) pun mulai berpandangan serupa. ”Jangankan memutuskan, diundang rapat pun tidak pernah. Katanya membuat keputusan tidak perlu perempuan ikut,” kata Ima, perempuan yang tinggal di Kluet Tengah.

Aih, bagaimana orang Aceh beranggapan pada perempuan pendatang jika pandangan terhadap perempuan Aceh -yang di masa lalu ikut membebaskan Aceh dari penjajahan- pun dianggap tiada arti! Bisa kupahami kawanku sekantorku mbak Lisa, kemarin sempat sewot justru usai bertemu dengan bapak-bapak pejabat di beberapa dinas di Aceh.

”Aku yang bertanya, kok pas njawab pandangannya ke Pak Jennnnnn terus! Aku yang punya pemikiran kok tanggapan mereka ke Pak Jennnnnn terus! Aku seperti nggak dianggap! Selalu seperti itu. Oh, aku lama-lama tahu, ternyata perempuan masih dianggap tidak setara, apalagi mengeluarkan argumen,” kata perempuan berdarah NTT-Jawa Timur ini. Tentu saja, pengalamanku berhadapan dengan beberapa pejabat dinas pun juga demikian. Pandangan wajah selalu diarahkan pada Bang Asri, driver kantor yang mengantarku, ketimbang padaku yang mengajak diskusi. Seakan, perempuan ‘tidak selevel’ dengan laki-laki.

Usulan pencopotan Anisah sebagai Camat Plimbang kini membuatku menerka-nerka tentang sejarah Aceh. Jangan-jangan orang Aceh jameun (masa lalu) setelah abad 15an bukan –orang- Islam! Buktinya, pada masa itu perempuan diperkenankan dan diberi kesempatan berada di tampuk kepemimpinan….

Ingatkah kamu di tahun 1400-1428, Ratu Nihrasiyah mengendalikan pemerintahan di Kerajaan Samudra Pasai? Tidak percayakah kamu, catatan sejarah kepemerintahan Ratu Safiatuddin yang memerintah selama 35 tahun telah dibaca para musafir Portugis, Inggris, dan Belanda? Dan siapa berani mencela keperkasaan janda Teuku Umar, Cut Nyak Dhien, janda Pang Nanggroe, Cut Meutia, Panglima Perang Pacot Baren melawan serdadu Belanda? Siapa meragukan keislaman orang Aceh masa lalu yang mengamini perempuan-perempuan ini menjadi pemimpin?

Lalu, siapa yang menenggelamkan sejarah Aceh jika orang-orang Aceh mulai meragukan kemampuan perempuan Aceh? Siapa salah Aceh tidak beranjak sejahtera jika para Cut Nyak Dhien, para Ratu Inayat Syah Zakiatuddin Syah masa kini tidak diberi kesempatan dan diragukan kemampuannya untuk merancang kesejahteraan bumi Nanggroe Aceh Darussalam sendiri?

Iklan

2 Komentar

  1. 13 Agustus 2012 pada 9:43 am

    perempuan hanya perlu di lindungi bukan menjadi pemimpin,,
    Di antara para rasul dan nabi yg di utus oleh ALLAH Ke bumi tidak ada seorang pun perempuan, itu yg perlu anda ketahui, pemimpin wanita hanya di bolehkan dalam demokrasi, dan ingat selama di aceh masih berkutat hukum demokrasi maka bencana akan senantiasa kembali. negeri ini selalu kocar kacir, dan kesejahteraan rakyat takkan pernah tercapai, kesejahteraan hanya milik satu kelompok, hampir 70 tahun kemerdekaan di pulau jawa saja masih ada rakyat yg tidur di bawah kolom jembatan, di sisi lain sekolompok orang bisa memiliki pesawat pribadi dan harta berlimpah.

  2. chairil said,

    30 September 2011 pada 5:43 pm

    kami harap pejuang-pejuang aceh selalu di kenang karena tampa perjuangan mereka kita tidak akan pernah merasakan seperti sekarang ini… semoga para pejuang mujahidin yang dulu maupun sekarang mendapat tempat yang layak disisi Allah SWT.. aminn..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: