Lagi, Harimau Vs Manusia. Mati!


“Pemuda Desa Panton Luas meninggal dimakan harimau,” ujar Dian. Ia belum juga masuk pintu kantor saat menyampaikan kabar duka itu. Mbak Elis yang keluar dari ruangannya memperjelas kabar itu. Ia malah bergidik sambil memegang perutnya.

Pemuda yang sehari-hari bekerja mencari rotan itu bernama Martunis. Namun, kata Dian dan Bang Asri yang mendengar kabar dari Keuchik (Kepala Desa) Gampong Panton Luas, Kecamatan Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan itu, Martunis tengah ke hutan menunggu durian.

“Sekarang kan lagi musim durian. Biasanya nenek keluar di masa-masa musim durian,” kata Bang Asri. Nenek seperti yang dikatakan Bang Asri ditujukan untuk sang Panthera tigris sumatrae.

menunggu punah? (foto diambil di hinamagazine.com)Leni pemudi desa Panton Luas menyebut, almarhum sempat pamit pada orangtuanya ke Gunung Serindit yang berjarak sekitar satu kilometer dari desa. “Jadi takut juo ambo ke gunung Kak,” kata dia lewat pesan pendek.

Konflik antara harimau dengan manusia kian kerap terjadi. Rasaku, baru beberapa bulan yang lalu si raja hutan sumatera itu turun ke Desa Jambo Apha di Kecamatan yang sama. Ketika ramai-ramai ditangkap, ia akhirnya mati setelah mendapat perawatan di Banda Aceh.

Lalu, apakah meauuwww yang memakan organ dalam alm Bang Martunis juga akan mengalami nasip yang sama? Seorang teman berkata padaku, ”Biasanya kalau sudah memakan manusia, ia akan menyerah sebentar lagi. Tidak lama dia akan mati tuh. Itu sudah sumpah dia dulu.” Akh, apa iya begitu? Bukankah jika tanpa tersakiti pun ia terus diburu? Bukankah manusia yang pendendam ini akan terus mencarinya hingga ia mati ditangan manusia?

Satu hal yang kuanggap lucu, atau malah ironis ketika tadi kukontak teman konservasionis satwa yang juga ada di Aceh. ”Kalau di Aceh Selatan tu sudah ada YLI (Yayasan Lauser Indonesia) yang mendampingi masyarakat. Itu karena desa itu masuk wilayah KEL (Kawasan Ekosistem Lauser).”

Logikaku tak berjalan, aku tak mengerti. Tanyaku hanya sederhana, apakah donor lembaga tidak akan mengerti atau tak mau mengerti jika lembaga tersebut turun di satu wilayah yang bukan area yang didanainya? Entahlah…

Hampir tidak ada bedanya dengan lontaran Menteri Kehutanan Zulkifli yang menyalahkan manusia saat terjadi konflk antara manusia dengan harimau atau gajah. Hanya menyalahkan tanpa solusi, konflik akan terus terjadi sampai kapanpun. Mungkin sampai gajah dan harimau punah dari muka bumi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: