Mau Aman Masuk Rimba? Buang Pusar Harimau di Kepalamu!


Kain warna biru berbentuk segitiga yang menutupi rambutku dibuka Leni. Tidak semuanya, hanya disibakkan pada bagian tengkuk leherku. Jari tangan gadis ini, sepertinya jari telunjuk, ia telusurkan persis di ujung kepalaku yang berambut tipis-tipis. Dari sebelah kanan, tangannya pindah ke ujung kepala sebelah kiri. Mungkin saat melihat ujung kepala bagian kiri, tubuhnya sengaja ia tegakkan. Ia memang tengah duduk di sebelah kananku.

”Tidak ada, Nuk. Tapi kalau mau tahu pastinya, kamu periksalah ke Bapak tuh. Biar aman kalau jalan ke hutan,” kata Pemudi Gampong Panton Luas, Kecamatan Tapaktuan, Aceh Selatan itu padaku.

Lalu ia berkata lagi, ”Kepalaku juga sudah diperiksa. Tadinya dilihat mamak. Tapi mamak juga kurang tahu pasti ada atau ndak ada di kepalaku. Aku disuruhnya periksa ke Bapak tuh. Memang tidak ada.”

Sejak peristiwa mengenaskan minggu lalu (Lagi, Manusia vs Harimau! Mati!), warga Gampong Panton Luas, Tapaktuan, berbondong-bondong memeriksakan kepalanya pada seorang pawang harimau. Kata seorang pemuda padaku, pawang harimau asal Aceh Barat sengaja didatangkan ke desa untuk mengusir atau menangkap harimau yang telah memakan Martunis. ”Kakek tu juga bersedia menghilangkan tanda sial pada orang-orang yang memilikinya. Paling nggak untuk mencegah kena sial lah….”

Orang-orang menyebut tanda sial itu bernama pusar harimau! Aku sendiri baru pertama kali mendengar istilah itu. Katanya, bentuknya mirip pusar rambut yang ada di setiap kepala kita (Jawa : unyeng-unyeng). Hanya saja, letaknya ada di kepala bagian bawah, pada ujung kepala, baik kiri atau sebelah kanan. Menurut cerita yang beredar di gampong itu, jika tanda sial tidak dihilangkan, orang itu bakal sial jika masuk hutan. (Mau aman masuk hutan? Buang dulu pusar harimau di kepalamu! foto disalin dari missrohamia.blogspot.com)

”Orang yang punya pusar harimau akan aman jika tinggal di kota. Tapi kalau seumpama orang tu datang ke kampung, nenek akan turun ke kampung mencarinya. Lebih-lebih kalau pusar harimau di kepala orang tu sudah matang, nyawanya sudah di ujung barangkali,” tutur Kak Mun. (Foto diambil di animalpicturesarchive.com)

Menurut Kak Mun, pusar itu dihilangkan dengan cara dikerik. ”Sampai berdarah-darah juga. Tapi kakek tu juga baca doa-doa.”

Kak Mun mengatakan, pawang harimau yang didatangkan oleh pihak BKSDA itu tidak memungut biaya pada warga yang meminta pusar harimau di kepalanya dihilangkan. ”Kami hanya bawa ayam, katanya untuk kenduri anak yatim jika kakek tu pulang ke Meulaboh. Kakek tu juga tidak banyak kasih pantangan. Dia hanya bilang supaya kita tidak meninggalkan sembahyang, sholat lima waktu.”

Hingga kemarin, sudah 12 orang warga yang telah berhasil dibersihkan pusar harimau di kepalanya oleh sang pawang.

Takut ditakut-takuti
Meskipun seorang pawang harimau telah didatangkan, suasana ketika berada di desa memang masih terasa mencekam. Warga umumnya masih merasa takut untuk pergi ke ladang untuk berkebun atau bertani. Sebab kata beberapa warga gampong, nenek masih sering mondar-mandir di sekitar tempat ditemukannya almarhum Martunis. Walau suami Kak Mun mengungkapkan bahwa Panthera tigris sumatrae itu memang ’berumah’ di goa di sekitar sana.

Suasana mencekam lebih terasakan ketika siang beranjak sore menyambut datangnya malam. Sekalipun suasana itu sendiri kadang lebih dibangun berdasarkan praduga, juga ketakutan yang sengaja dilebih-lebihkan oleh pikiran. Salah seorang yang berkeluh kesah padaku adalah Leni. Ia sengaja memintaku menemaninya saat turun ke kota naik sepeda motor. Seorang ibu yang tidak kutahu namanya berkata pada Leni, juga padaku.

”Lah ado yang liek jejak kaki nenek di bawah! Idak usah turun. Ihhh, ambo takuik! Mati kau nanti!”

Padahal saat itu maghrib masih sekitar satu jam lagi. Sinar matahari masih terasa menggigit di kulit. ”Itulah Nuk yang membuat kita tambah takut. Kemarin Leni berangkat sudah jam tujuh lebih seperti hari-hari biasa kalau Leni masuk malam. Sendiri nggak apa-apa. Tapi orang tu malah menakut-nakuti,” ujar gadis yang bekerja di RSU Dr. H. Yuliddin Away, Tapaktuan itu.

Swadaya
Selain mendatangkan pawang harimau, saat ini warga desa berswadaya membuat perangkap harimau dari bahan yang mereka miliki. Keuchik Gampong Panton Luas mengatakan, keputusan untuk membuat perangkap harimau adalah keputusan warga gampong. ”Awalnya belum kami pikirkan, tapi kemudian ada pandangan itu karena warga takut ke kebun. Takut kalau-kalau jumpa dia lagi, ada korban lagi.”

Soal aman atau tidaknya perangkap itu bagi kenyamanan harimau saat masuk perangkap, seorang warga mengatakan tidak begitu memperdulikannya. ”Asalkan dia tertangkap sehingga kami aman ke kebun lagi,” sela Pak Wi. Ia sendiri berharap perangkap harimau disediakan pihak-pihak terkait seperti BKSDA.

Bapak yang berusia sekitar 60 tahun itu juga berharap, pawang harimau yang telah didatangkan ke gampong mampu menjadi jembatan penolong bagi warga desa. Jika pun harimau tidak masuk perangkap dan tidak bisa ditangkap, warga desa tetap aman dimana saja setelah tanda sial pusar harimau dihilangkan. ”Seperti bencana kan, bisa ditanggulangi. Kita berikhtiar dengan berbagai cara yang semoga tidak melanggar ajaran Islam,” katanya dalam bahasa Taluak yang diterjemahkan oleh Bang Asri seperti ini.

Akh, aku kok jadi pengen tahu ya, apakah ada pusar harimau di kepalaku? Atau juga di kepalamu? Ayoh kita periksa!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: