FJI = FPI? Tuhan Tetap Peduli Pengungsi Merapi

“Wong-wong jihad kui jane due utek ora yo, wong lagi ngungsi kok kon pindah mergo mung mereka ngungsi neng grejo (orang-orang jihad itu sebenarnya punya otak nggak ya, orang sedang mengungsi kok disuruh pindah hanya karena mereka mengungsi ke gereja),” tulis sms mbak Ani di hpku. Mbak Ani sendiri sudah berhari-hari ikut melayani pengungsi Merapi.

O, rupanya kabar yang dibaca Didik padaku dan Kak Eni tadi pagi benar adanya. Didik bilang, FPI mengusir pengungsi Merapi yang sedang mengungsi di Gereja. Kuutak-atik situs berita, tak banyak yang memberitakannya. Dan ternyata bukan FPI seperti disampaikan Didik.
wedhus gembel (foto diambil di tribunnews.com)
Menurut mbak Ani saat kutelpon, sekelompok orang yang menyebut dirinya Forum Jihad Indonesia meminta para pengungsi muslim untuk berpindah tempat mengungsi. “Mbuh opo alesane, mungkin wedi pengungsi muslim dadi kristen goro-goro grejo menehi panggonan nggo ngungsi hehehehehe.. Tapi nek menurutku carane rabener,ranalar. Situasi koyo ngene kok mikir koyo ngono (Entah apa alasannya. Mungkin takut pengungsi muslim jadi kristen hanya karena gereja ikut menyediakan tempat mengungsi. Tapi menurutku caranya nggak tepat. Situasi seperti ini kok mikirnya begitu),” ujar mbak Ani.

Teman-temanku yang berada di Yogjakarta juga mengatakan, tidak hanya gedung-gedung umum yang dipergunakan untuk penampungan pengungsi tetapi juga rumah-rumah penduduk. Tentu saja, rumah sebagian temanku juga menjadi tempat pengungsian bagi orang-orang yang bahkan tidak mereka kenal sebelumnya. Jika gerejapun membuka pintu untuk penginapan sementara bagi pengungsi itupun hal yang wajar.

Lumrah saja jika sejak Merapi meletus dasyat pada Jumat (5/11) waktu lalu, Gereja Ganjuran, Bantul, membukakan pintu bagi puluhan orang dari Cangkringan yang meminta tempat berteduh sementara. Namun, sekelompok orang berbaju terusan panjang dan bersurban malah nggruduk ke gereja itu, memaksa pengungsi pindah tempat.

“Sultan nganti teko ngrampungke. Haning ngayelke, mosok pengungsine sing kon ngalah. Mbange ribut karo wong-wong jihad kui jare (Sri Sultan Hamengku Buwono X sampai datang untuk menyelesaikan –masalah ini. Tapi menjengkelkan, masak pengungsi malah yang diminta mengalah. Daripada ribut dengan orang-orang itu katanya),” tukas mbak Ani.

Kata mbak Ani, Sri Sultan justru meminta kepada pengungsi untuk memahami sensitifnya keadaan tanpa menjelaskan perkara yang jelas. Malam kemarin (9/11) pengungsi sebanyak 98 orang ‘dikalahkan’ oleh keegoisan para pembela Tuhan dan agama. Mereka dipaksa pindah ke Bangsal Rumah Dinas Bupati Bantul yang relatif ‘netral’. Lagi-lagi negara kalah oleh preman!

Masihkah Indonesia Pulau Mentawai itu?

Polah tingkah para pejabat tinggi ini aneh-aneh. Belum juga kulupa ingatan tentang pernyataan Ketua DPR RI Marzuki Alie yang menyalahkan korban tsunami Mentawai. Kini, aku hanya mengelus dada ketika seorang teman mengirimkan pesan singkat di handphoneku, “Aduh Tuhan Yang Pengasih, tolong tegur gubernurku. Saudaraku di Mentawai belum tertolong, dia malah pergi ke Jerman…”

Bingung dengan pesan pendeknya, kucari juga di situs berita. Benar memang, Pak Irwan Prayitno yang Gubernur Sumatera Barat itu bertandang ke Jerman. Menurut berita yang kubaca di website Harian Singgalang, ia pergi bersama tujuh –wakil- pimpinan daerah lainnya. “Untuk apa?” tanya Kak Tia padaku.

Pak Irwan bertandang ke Jerman bukan dalam rangka menyelesaikan persoalan kebencanaan di Mentawai, tetapi mengikuti pameran investasi yang diselenggarakan hari ini hingga Jumat mendatang (3-5 November). Kata Kepala Biro Administrasi Pembangunan dan Kerjasama Rantau Suherman Raza, acara ini tidak bisa diwakilkan. Pernyataan ini sendiri diwartakan pada tanggal 20 Oktober lalu, artinya sebelum tsunami yang menimbulkan bencana menghantam Mentawai.

“Undangan disampaikan Dubes Jerman kepada Badan Koordinasi Penanaman Modal Nasional. Ini kesempatan emas bagi kita dalam mempromosikan daerah di dunia internasional,”ujar Suherman di Harian Singgalang.

Aku sendiri malas untuk menilai. Hanya saja, telinga dan hatiku terus terluka ketika membaca atau mendengar kabar bahwa saudaraku di Kepulauan Mentawai terancam kelaparan. Kita tentu tahu bahwa penangan pasca bencana di pulau itu masih sangat kacau balau. Sejak tsunami meluluhlantakkan tiga pulau di gugusan Kepulauan Mentawai (Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara, dan Pagai Selatan) itu, distribusi bantuan masih belum menjangkau banyak wilayah terpencil. Bantuan tetap menumpuk di Sikakap, di Pulau Pagai Utara, tempat yang dipilih untuk mengonsentrasikan bantuan yang datang dari Padang. Dan kita tentu sangat mengerti pemerintah pusat pun berlindung di balik alam yang masih bergolak untuk alasan keterlambatan atau kekacauan pendistribusian dan sebagainya.

Tanyaku hanya sedikit saja, masihkah Indonesia Pulau Mentawai itu?