Ninuk Takana jo Kampuang


Takana jo kampuang…
Induak, ayah, adik sadoyo
Raso maimbau-imbau denai pulang
Den takana jo kampuang

Tanggal 28 bulan ini terasa lama. Hari bergitu lambat. Bukan karena gaji bulan kemarin diberikan lebih cepat dari biasanya, seperti yang dirasakan beberapa temanku, atau juga mengunggu gaji lagi bulan ini. Langkahkah kakiku serasa terbang ringan menapak jalan pulang kampung untuk –sekedar- berlibur. Melepas sejenak rindu yang kadang terlanjur berkarat. “Ah, kan belum lama juga kamu pulang,” kata seorang teman lewat telpon. Benar juga kata dia, aku pulang lebaran Idul Fitri lalu. Belum terlalu lama jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, yang kuhendak pulang harus kusisihkan uang selama 12 bulan.
Stasiun Purwosari, hanya 10 menit dari rumahku
Rasa sama selalu datang ketika hari berlibur yang kutentukan mendekat. Senang tapi terasa sangat lama menunggunya. Memasuki bulan Januari, sudah puluhan kali kuputar lagu itu. Tidak saja di kantor, juga di rumah. Kalaupun tanpa musiknya, mulutku tak bisa diam mendendangkannya. Sampai-sampai tadi pagi tanpa disadari, si Tia tetangga kosku pun ikut mendengang. ”Kampuang nan jauah di mato….den takana jo kampuang…

Semangat Nuk! Solo menanti!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: