Aceh Selatan Bangkrut, Mau tutup?


“Mana periksa, Nuk, idak ada dokter yang periksa. Mereka masih mogok. Entah sampai kapan!” tutur ibu Mus yang rumahnya biasa kulewati tiap berangkat dan pulang dari kantor. Ia mengaku sakit perut, muntah-muntah saat kusapa pagi tadi. Aku hanya bertanya padanya apakah beliau sudah periksa ke rumah sakit.
Sejak Senin (3/1) lalu, para dokter spesialis berstatus PNS di Rumah Sakit Umum Daerah Yuliddin Away Tapaktuan, memang mogok kerja. Mereka, salah satunya dokter spesialis penyakit dalam, dr Jun Sp Pd yang menjadi langgananku dan teman-temanku saat sakit, melakukan aksi protes menolak kebijakan Tim Anggaran Pemerintah Daerah dan Tim Anggaran DPRK yang memotong anggaran rumah sakit sampai 50%. Selain itu, intensif para dokter ini dalam Anggaran Pendapatan Belanja Kabupaten (APBK) 2011 juga dipotong dari sebelumnya Rp 17 juta/bulan kini menjadi Rp 8 juta/bulannya.

pesan pendek dokter Jun


Banyak kalangan, termasuk bapak kosku, Pak Ali yang bekas pegawai PLN Tapaktuan mengatakan bahwa APBK Aceh Selatan 2011 tidak pro rakyat. ”Tidak punya hati tu mereka (Tim Anggaran Pemerintah Daerah dan Tim Anggaran DPRK). Orang ke rumah sakit kan karena sakit. Lebih banyak orang miskin di sini. Anggaran rumah sakit dipotong habis-habisan, tidak memikirkan rakyat mereka tuh,” ujarnya semalam kesal.

Aku kena marah! Apa pula ini?!
Aceh Selatan yang kotanya tak terlalu besar –sesepi-sepinya dusun di Wonogiri tempat masku sepupu yang dokter bekerja, masih ramai di sana dibanding Tapaktuan- masih sakit seperti tubuhku yang terlanjur suak. Konflik yang pernah terjadi di sini terus menggerogoti sendi-sendi kehidupan warganya, juga perpolitikan maupun birokrasi. Ketidakwarasan akibat konflik tak hanya diderita oleh sebagian warga yang tidak kuat dengan tindak kekerasan, tetapi juga para pemangku kebijakan.

Awal minggu lalu, ketika kubertandang lagi ke salah satu dinas di Kota Naga ini, aku dan Didik malah kena damprat. Padahal baik-baik kami tanyai rencana dinas –sebagai pengemban amanat Undang-Undang, terhadap pembinaan kaum muda. Jika toh dinas membutuhkan bantuan, kamipun bersedia membantu. Tetapi ia malah mengumpat penuh emosi.

”Jangan ngecat langit lah! Pokoknya kami digaji untuk kerja di kantor! Kalau menjalankan program di lapangan kami perlu anggaran! Nah anggarannya nggak disetujui! Jadi nggak perlu tanya-tanya lagi soal rencana ke depan! Asal kalian tahu saja, Aceh Selatan sudah bangkrut! Sebentar lagi tutup!”

Dari warta-warta yang kubaca, alokasi anggaran yang disusun memang tidak memihak pada sektor meningkatkan pelayanan pada rakyat. Perbandingannya 60 persen untuk biaya aparatur dan 40 persen pelayanan publik. Paling mencolok ya pemangkasan anggaran untuk kesehatan dan pendidikan. Di banyak tempat kudengar kemarahan. “Keuangan daerah katanya minim, tapi biaya pembelian mobil fraksi DPRK dan mobil beberapa SKPD masih dianggarkan!”

Demonstrasi kecil-kecilan –karena jumlah polisi tidak sebanding dengan para pendemo- di kota bekas penghasil pala ini bergulir dari hari kehari. Dari media juga kubaca, para aktivis juga berunjukrasa di Banda Aceh. Di depan para aktivis asal Aceh Selatan, Gubernur Aceh Irwandi Yusuf akhirnya mengatakan sepakat merevisi ulang APBK 2011 Kabupaten Aceh Selatan yang telah disahkan lembaga legislatif akhir tahun lalu.

Aceh selatan tutup…. Jika sakitnya sang kepala sudah terlalu akut, apakah masih terasakan seluruh tubuh jika para kaki-kaki tertancap paku?

Iklan

1 Komentar

  1. dhien said,

    9 Februari 2012 pada 8:07 am

    baguslah dana RSUD tapaktuan di potong
    takutnya disunat lagi ama pak akmal


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: