Nduk, Kamu Milih Agama Apa?


Bicara agama, tidak semua orang siap menerima perbedaan prinsip, ajaran, aturan, dan thethek bengek yang ada di dalamnya. Kadang, seakan-akan satu sama lain bertentangan, tak dapat menyatu, dan bahkan saling bermusuhan. Tengok saja berapa ratus kisah pertumpahan darah mengatasnamakan agama terjadi. Sampai hari ini aku tak habis pikir orang mau-maunya bergabung forum-forum pembela agama. Ah, masak segitunya sih Tuhan Yang memang Maha Segala-Galanya perlu dibela? Pakai kekerasan pula!

Agama yang kerapkali dijadikan topeng untuk berbuat kekerasan terhadap penganut lain itu bagi sebagian orang bak pelangi. Indah dan setiap orang berhak memilih warna yang ia suka. Tak perlu terlalu jauh kucerita siapa salah seorang yang mengatakan keindahan itu. Bapakku yang telah dijemput Sang Pengasih ke surga.

Saat masku nomer dua mengatakan akan pindah agama, bapakku yang penganut kepercayaan itu enteng berkata, ”Yo sakkarepmu arep milih agomo opo. Sing penting menungso marang liyan kudu rukun. Yen koe kresten, mbok’o neng grejo sedino ping songo nek ora rukun karo tonggo yo podho wae. Mbok’o koe eslam, mbok’o arep jengkang jengking sedino ping pitulikur yen koe seneng nglarani marang liyan, luweh becik ora sah melu agomo opo wae (Sesukamu mau memilih agama apa. Yang penting sebagai manusia harus rukun dengan sesama. Kalau kamu –memilih- Kristen, kalaupun ke gereja sehari sembilan kali jika tidak rukun dengan tetangga ya sama saja. Kalaupun kamu Muslim, mau sholat 27 kali sehari, kalau kamu suka menyakiti orang lain, lebih baik tidak usah menganut agama apapun).”
kamu suka milih agama apa (dari wikipedia)
Sikap keterbukaan Bapak pada pilihan anaknya mengenai agama membuatku merasa beruntung. Dan ’keberuntunganku’ ternyata juga dirasakan begitu ’dasyat’ oleh teman sekamar kosku, mbak Santi. Ibunya yang juga sudah almarhum pernah menanyainya begini.

”Iki diisi opo? Koe seneng milih agomo opo (Ini diisi apa? Kamu suka milih agama apa)?” Ibunya mbak Santi yang muslim taat itu menanyai gadis kecil berumur 6 tahun itu saat mengisi biodata untuk buku rapot.

Ketika gadis kecil kelas 1 SD itu memilih agama lain yang tidak dianut oleh bapak dan ibunya, sang ibu malah berpesan, ”Yoh. Ning kudu sregep sembayang neng grejo lho yo (Ya. Tetapi kamu harus rajin beribadah di Gereja ya).”

Kala itu, Santi kecil kerap diantar Bapaknya bersepeda ke Gereja. Terkadang kakak-kakaknya juga ikut mengantar anak bungsu ini ke tempat ibadah yang dipilihnya sendiri. Yap, sangat sering kujumpai kepercayaan yang dianut anak lebih sekedar ’ego’ orang tua pada anaknya ketimbang pilihan anak sendiri. Dari balik dinding rumah ibadah pernah kudengar, ”Orang tua wajib memaksa anaknya agar anak tetap seagama dengan orang tuanya. Jika tidak, orang tua pun akan masuk neraka.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: