Usir Koruptor dengan Kayu Naga dari Muria

Laki-laki tua yang berjalan beriringan dengan seorang perempuan berjilbab, yang kuduga istrinya, menghentikan langkah tepat di hadapan pedangan tanpa lapak. Mulanya ia ragu-ragu memilih berhenti atau melanjutkan langkah. “Tenan ki mas iso gae tikus lungo (Beneran nih bisa membuat tikus pergi)?” tanyanya pada laki-laki yang gesit membuka sisik kayu.

Nggih Pak. Menawi Bapak mboten percaos kulo, benjang tindak mriki melih. Kulo saben Minggu dasar teng ngriki (Ya Pak. Jika bapak ngak percaya, besok datang lagi ke sini. Setiap hari Minggu saya jualan di sini),” ujar lelaki dihadapannya tanpa melepaskan pandangan pada kayu yang dipegangnya. Bahasa Jawanya kurang halus.

“Opo ki jenenge Mas (Apa nama –kayu- ini)?” tanya Bapak itu lagi. Kali ini, ia mulai memegang-megang kayu bermotif itu. Belum juga dijawab, laki-laki berjaket kotak-kotak itu bertanya lagi, ”Wite koyo opo to ki mas (Pohonnya seperti apa sih mas)?”

Tolak tikus berdasi juga nggak ya?

Wite kulo nggih dereng ngertos Pak kados nopo. Sanjange kados pakis. Nggih niki kayu naga saking Muria (Saya juga kurang tahu bagaimana bentuk pohonnya. Katanya seperti pohon pakis. Niki Kayu Naga dari Muria).” Lalu pedagang yang mengaku berasal dari Kudus itu mengatakan, kayu pakis haji banyak ditemukan di kawasan lereng dan hutan Muria, Kudus. Entah sudah melewati penelitian atau tidak, kayu bermotif seperti batik –tapi sebagian orang juga mengatakan mirip kulit ular ketika diseset- sejak lama dipercaya dapat mengusir tikus. Menurut mas pedagang, potongan kayu ukuran 10 x 15 cm efektif mengusir tikus dalam ruangan 25 m2.

motif batik. ada juga yang bilang seperti sisik ular

Pasangan suami istri itu berlalu setelah membayar kayu berukuran 10 x 30 cm sebesar Rp 6000. Ia tak mau diberi kantong plastik oleh si penjual. Kudengar dari arah belakang laki-laki itu berkata pada istrinya.

kayu pembasmi tikus (foto-foto oleh ninuk)

Kudune gedung DPR MPR RI, gedung-gedung perwakilan rakyat, kantor-kantor pemerintahan soko kelurahan, dinas-dinas, tekan istana negara kae dipasangi kayu Muria iki, Bu. Ben tikus-tikus kantor kui podo minggat soko negarane dewe. Ben negarane dewe ki steril soko tikus-tikus (Seharusnya gedung DPR MPR, gedung perwakilan rakyat, kantor pemerintahan dari tingkat kelurahan, dinas, hingga istana negara dipasangi kayu Muria ini. Agar tikus-tikus kantor pergi semua dari negri ini. Biar negri ki steril dari para tikus -koruptor).”

Sekedar info : Bisa dibeli di sekitar Stadion Manahan tiap hari Minggu pagi

Cuci Mata-Uangmu di Manahan Minggu pagi!

Jika saja mbak Tatik tidak menanyaiku begini, “Katanya setiap hari Minggu pagi, Stadion Manahan rame ya Nuk? Tapi kudengar nggak hanya orang olahraga aja ya yang kesana?”

ada blackberry juga (foto-ninuk)

Aku yang ditanya hanya mengiyakan. Ragu-ragu menjawab benar bahwa di tiap Minggu pagi di sekeliling Stadion Manahan ramai oleh pedagang, sekaligus pengunjungnya. Aku takut jika mbak Tatik bertanya lebih lanjut, ”Pedagang apa aja?”

Lalu, jauh hari sebelum aku pulang ke Solo, Vian ponakanku kuminta berjanji. ”Tenan lho aku dijak neng Manahan pas Minggu esuk (Beneran lho aku diajak ke Manahan pas Minggu pagi)!” Malu lah aku jika ada teman menanyaiku lagi tentang Manahan Minggu pagi, aku hanya geleng kepala tak tahu apa-apa.

Vian manut dan memenuhi janjinya. Cindy adiknya juga ikut bersamaku. Mataku mengembara di hampir semua sudut. ”Kok jek sepi Nduk?” tanyaku pada mereka berdua. Yap, kata Vian aku terlalu bersemangat. Terlalu pagi sehingga para pedagang belum menggelar dagangannya. Meski demikian, pedagang latengan (makanan) sudah siap menjajakan dagangannya.

cabuk rambak kesukaanku

Bagaimanapun caranya jika sudah sampai Solo, cabuk rambak dan sego liwet harus bertemu lidahku. Tapi bangun tidur tadi perutku sudah terisi srabi solo dan teh panas buatan ibu. Apa boleh buat, sego liwet harus kunikmati tidak sekarang. Vian dan Cindy memilih cabuk rambak. Karak yang terbuat dari nasi yang diberi garam bleng, dipadatkan, diiris tipis-tipis, dijemur, setelah kering baru digoreng, kunikmati kriuknya. Satu kantong plastik berisi lima lembar hanya Rp 500!

Dari telo godog sampai laminating

Bunga Kurnia Bintang –kata simbah pedagangnya- kubawa pulang dengan harga sepuluh ribu. Awalnya simbah yang katanya berasal dari Tawangmangu, Karanganyar, itu mematok harga sampai Rp. 15 ribu. ”Sedoso mawon nggih, Mbah (sepuluh –ribu- saja ya).” Simbah tersenyum, lalu bilang, ”Yowes gawanen (Ya sudah bawa saja).”

baunya bau jambu air

Cindy yang kelas 5 SD hanya mau Arum Manis. Bukan sejenis mangga, tapi gula yang diwarnai, lalu diolah menjadi benang-benang dan digulung-gulung menjadi bulatan lonjong dengan gagang kayu tipis.

nggak hanya ada di Sekaten

Oh, ternyata tidak hanya Arum Manis, jajanan anak-anak khas Sekaten yang dijajakan di Manahan. Kapal perang berbahan bakar minyak goreng mengingatkanku pada adikku. Dulu setiap Sekaten tiba, ia selalu minta pada Bapak untuk dibelikan kapal othok-othok ini. ”Othok othok othok othok,” begitu memang bunyinya.

kapal othok-othok

Seorang pedagang yang kukira penjual jamu sibuk melayani pembelinya. Ada benda kecil warna-warni mencolok tergeletak di bawah kakinya. ”Kalih ewu mawon. Monggo. Mboten susah-susah melih nglebetke benang kangge dondom. Monggo monggo….(Dua ribu saja. Mari. Nggak perlu susah-susah lagi memasukkan benang ke jarum untuk menjahit –tangan).” Beberapa pembeli mempraktekkan lalu membayar benda seperti gagang silet itu.

nggak perlu mengernyitkan mata. cukup 2 ribu

Dalam keramaian orang lalu lalang, juga membeli, entah di arah mana karena aku sudah tak tahu lagi arah mata angin, dua perempuan berpakaian seksi berlenggak-lenggok di lantai bersemen. Suaranya yang pas-pasan toh cukup menghibur banyak orang. ”Ben minggu yet ono, Bulik (Tiap hari Minggu memang ada –hiburan seperti ini),” tukas Cindy.


Ah, andai aku tahu ada juga tukang laminating, KTP adikku akan kubawa. ”Oalah, aku yo lagi ngerti lho Bulik,” seru Vian seraya tertawa. ”Ya Allah, ono to yoan….(ternyata ada juga to),” katanya lagi. Lapaknya di belakang panggung hiburan. Beberapa saat kemudian aku juga menemukan lapak laminating lagi.

laminating biar aman

buat para perokok

Duduk di atas karung beras bekas, seorang nenek hanya terpaku melihat setiap orang yang lewat di hadapannya. Sesekali menatap dagangannya yang sepi pembeli. Ya, di jaman sekarang yang banyak orang berlomba membuat makanan silat lidah, siapa sudi sekalipun hanya melirik telo godog (ubi rebus), kacang godog. Toh demi sesuap nasi, simbah setiap hari Minggu berjualan di Manahan. ”Yen ora payu yo diiderke, Nduk (Jika tidak laku ya jualan keliling),” matanya sayu.

sepi…
Dari arah simbah menatap kejauhan, beberapa laki-laki tampak duduk santai bersandar bangunan putih muram. Koran lokal Solopos dibaca miring-miring agar mendapat cahaya yang cukup di antara dedaunan yang lebat. Ketika kumendekat, kaki putih orang bersandar sedang dipijit-pijit lelaki lainnya. Oh, toiletpun menjadi tempat pijit refleksi dan kebugaran! Ah, rasa pipisku malah sirna.

siapa butuh dipijat?

Meski matahari mulai meninggalkan bumi, pengunjung semakin banyak saja. Jam 10 nanti, Vian akan membawaku ke ngGawok. Ada pasar pon-an di sana. Kata mbak Yus iparku, jadah wajik di sana enak-enak. Bibit tanaman juga tinggal milih. Yolah, ayo pulang Pi….”Aduh!” Kaki Cindy kesandung kursi rotan yang ditata di pinggir jalan menuju pintu keluar masuk.

ikan sapu-sapu

Horeeee, Bis Tingkat Kembali Lagi ke Solo

Begitu teriakku saat membaca status teman di halaman jejaring sosial. Hari Minggu (20/2), bertepatan dengan hari jadi Kota Solo ke 266, Pemerintahan Kota Surakarta kembali mengoperasikan bis tingkat di Kota Solo. Bedanya, bis tingkat tempo dulu –sejak 1983 sampai akhir 2000- digunakan untuk moda transportasi rute Kartosuro-Palur, kini untuk pariwisata.

Ingatanku melayang ke tahun-tahun silam ketika bis tingkat masih menjadi salah satu primadona moda transportasi di Solo. Jika otak terasa jumut, bis tingkat menjadi salah satu ’tempat pelarian’. Aku ingat, dengan menyandang tas ransel, aku menyetop bis di pinggir jalan –kadang juga bersama teman, lalu naik ke lantai atas.

Hatiku girang jika kursi paling depan kosong. Duduk santai di atas, mataku mengembara mengamati berbagai aktifitas warga Solo, lewat bis yang dulu dikelola Damri itu. Dari Palur kembali ke Kartosuro, lalu balik lagi ke Palur. Kalau tidak salah ingat, dulu tarif terakhir Rp.1200. Di bangku depan lantai atas itu pula dulu ide tulisan kerap muncul.

Sayang, Damri memutuskan tidak mengoperasikan bis tingkat lagi. Lagi-lagi jika tidak salah ingat, alasan yang dilontarkan saat itu adalah karena onderdil bis susah didapat. Maklum saja, bis tingkat dulu katanya asal Swiss. Beda dengan bis tingkat baru ini, yang kata Murni temanku, merupakan buatan Magelang.

Selain Solo, dulu bis tingkat juga pernah beroperasi di kota besar seperti Jakarta, Makasar, dan Surabaya. Keberadaan bis tingkat terakhir di Indonesia adalah di Solo.

bis tingkat yang menawan (foto dari bisnis-jateng.com)

Riangnya aku ketika mendapat kabar bahwa pemkot yang dipimpin Pak Jokowi itu mengumumkan pada khalayak ramai mengenai rencana mengadakan kembali bis tingkat di kota bertajuk The Spirit of Java ini.

Kabar dari Murni, bis tingkat ini akan digunakan untuk mengantar wisatawan yang ingin berkeliling Kota Solo. Lokasi-lokasi yang dituju antara lain Keraton Kasunanan Surakarta, Taman Sriwedari, Kampung Batik Kauman dan Laweyan, Mangkunegaran, Museum Radya Pustaka, dan tempat lain.

”Lah, yen neng ngLaweyan parkire ngendi gek’an (Kalau ke Laweyan parkirnya dimana ya)?” tanyaku. Tahu persislah aku di Kampung Batik Laweyan tidak ada tempat lapang untuk parkir.

Kata Murni, ”Yo memang raiso tekan njero. Tapi yo mbuh juga ngko diparkir neng ndi.…(Memang nggak bisa masuk. Tapi nggak tahu juga nantinya akan diparkir dimana).”

Menurut informasi, bis yang dikelola Dinas Perhubungan bersama Dinas Pariwisata dan Seni Budaya itu mematok harga Rp 20 ribu/orang. Bis ini sendiri berkapasitas bus tingkat wisata ini tempat duduk bagian atas 28 buah dan bagian bawah 34 tempat duduk.

Yap, bahkan aku sangat setuju jika bis tingkat kembali digunakan untuk moda transportasi umum. Selain berkapasitas banyak, menghemat jalan, bersifat massal, bis ini tentu saja lebih ramah lingkungan. Bis tingkat juga bisa menjadi sarana refresh otak kala jumut mendera.

Gerbong Khusus Wanita KA Prameks kok Ada Laki-Laki

Pulang liburan ke Jawa, serasa ada yang kurang jika tidak kusempatkan barang satu dua jam melenggang ke luar kota menggunakan kereta api. Maka, ketika mbak Sana mengajakku bertemu di Malioboro, Yogyakarta, dari Solo kotaku, aku memilih melangkahkan kaki menuju Stasiun Purwosari.

Kereta api selain lebih murah, hanya Rp 9 ribu sekali jalan, juga lebih cepat. Satu jam puas kunikmati deretan sawah diantara pabrik dan perumahan yang makin hari makin menyesakkan di atas sepor Prambanan Ekspres.

Sudah lewat stasiun Delanggu ketika kusadar bahwa aku berada di gerbong khusus wanita! Rupanya aku tidak mengetahui kabar bahwa PT Kereta Api Daop VI Yogyakarta membuat gerbong khusus wanita di Prameks. Lalu kudengar keesokan harinya kutanya tetanggaku mbak Sri, sejak kapan gerbong khusus wanita berlaku.

pasangan mahasiswa yang nggak bisa baca (foto-ninuk)

Ia bilang, “4 September tahun wingi, Nuk.” Kata Mbak Sri yang hampir tiap sore mengajak cucunya naik Prameks yang tiba di Purwosari, Balapan lalu stasiun Jebres ini, tanggal itu bertepatan dengan ulang tahun cucunya. Oh, pantaslah dia ingat.

Sayangnya, gerbong khusus yang menurut Kepala Daop VI Yogyakarta, Noor Hamidi S itu untuk menghargai wanita, tidak digubris penumpang laki-laki. Di depan saya persis dua pasang manusia, yang kuyakin mereka mahasiswa di Yogyakarta, menghadap ke gambar peringatan tersebut. Pasangan yang sepertinya sedang dimabuk cinta itu tak peduli tengah di tempat ‘yang salah’. Sedangkan arah belakang, beberapa lelaki juga menghadap tulisan serupa tapi tetap cuek-cuek saja.

Anehnya, petugas yang berkali-kali melintas juga tak ambil pusing. Ia hanya mengatakan, “Egh, yo nek gelem melu peraturan apik mbak. Nek ragelem piye meneh…. Sing numpak ki yo jane ketok’e wong pendidikan mbak, kuliahan, neng yo do ramanut aturan (Kalau mau mengikuti peraturan ya bagus, tapi kalau nggak mau ya mau bagaimana. Yang naik sepertinya juga orang-orang berpendidikan, anak kuliahan. Tapi ya nggak mau mengikuti peraturan).

emang gue pikirin…

Bisa jadi iya, anak-anak negeriku mungkin sudah bosan dengan aturan….

Keluhanmu Sampah Bagiku

Otakku terasa jumut, capek. Leherku ikut-ikutan kaku hingga ke pangkal lengan.

Bosan menderaku. Bosan mendengar keluhan yang setiap saat tersampaikan lewat telingaku. Bahwa lama kelamaan aku kurang berminat memberikan tanggapan -sebisaku hanya iya, “Iya to?!” atau sekedar “Ooo..”

Sampah keluh memenuhi otakku. Sampaikan keluhanmu dan akan kubuang saat itu juga. Yap, hanya sampah, karena itu aku enggan memasukkannya ke hatiku untuk kupelihara. Keluhanmu berisi asumsi. Dugaan yang seolah-olah bakal terjadi. Menduga seseorang akan berkata, memaki, marah, iri dan sebagainya. Apa iya akan begitu?! Ah, apa peduliku….

Aku capek membersihkan sampahmu…

Siapa Melirik Banjir Bandang Tangse, Pidie, Aceh?

“Tangse? Apa tuh? Bahasa Cina ya?” Begitu pertanyaan singkat kawanku lewat pesan pendek ketika kutanya tentang kebenaran kabar banjir bandang Tangse. Harap maklum, semingguan ini aku hilang dari peradapan teknologi, tanpa signal dan tv. Pertanyaannya agak mirip tergulir ketika Wasior menjadi headline dimana-mana. Seorang kawan lain juga bertanya apakah gerangan “Wasior?”

Yap, Tangse, salah satu kecamatan di Kabupaten Pidie, Aceh. Bukan Cina, walau jika kita ucapkan akan berbunyi sengau seperti bahasa asing. Banjir Bandang –yang katanya akibat ilegal logging- menghancurkan ratusan rumah, infrastruktur di dua belas gampong (dari Serambi Indonesia), pada Kamis malam lalu.

Di sebuah mailing list kubaca, air bah Tangse dikatakan lebih dasyat dari Wasior. Wilayah yang paling parah yaitu Kemukiman Layan yang meliputi 4 desa yaitu Peunalom I, Peunalom II, Layan dan sebagian Pulo Baro dan Blang Dalam.

Padahal lebih seminggu lalu kubaca artikel “Bunuh Diri” dengan Moratorium yang ditulis Transtoto Handadhari, Rimbawan Senior, Ketua GreenNET Indonesia, yang dimuat di Harian Kompas. Aku ingat betul, Transtoto menyebut ratusan kilang kayu illegal di daerah Pidie tetap beroperasi tanpa diusik aparat. Moratorium yang dilakukan di Aceh selama tiga tahun justru meluluh-lantakkan hutan Aceh. Illegal logging merajalela, termasuk di Pidie.

Gubernur Aceh Irwandi Yusuf mengatakan, banjir bandang akibat illegal logging. ”Ah, kalau belum terjadi, peringatan orang lain tak perlu digubris! Kalau sudah begini, paling bisa manggut-manggut membenarkan,” ujar temanku lagi.

Sebelum menuliskan ini, aku iseng googling, kira-kira apa yang diucapkan sang Presiden kepada warga Kecamatan Tangse yang terkena banjir bandang. Belum ada….

Kabar duka dalam negeri untuk memang masih ’terkalahkan’ kabar dari Jepang yang dihantam tsunami kemarin. Ah, tiba-tiba kepalaku berdenyut

WC Mamak Panjang Sekali

Belasan ekor anak ayam warna coklat dan hitam mengikuti langkah mamak yang tergesa menuju halaman depan. Aku yang keheranan melihat tingkah ayam-ayam piatu malah membuat mamak tertawa. ”Mamak ayam ro mamak ni lah. Induknyo pai (pergi) entah kama (kemana),” ujar mamak.

Mak jadi mamaknya ayam juga (foto : ninuk)

Memang, sejak kemarin kuperhatikan, anak-anak ayam lari mengejar mamak kemanapun mamak pergi. Bahkan ketika aku ngobrol bersamanya, satu dua anak ayam itu lompat-lompat seperti hendak minta dipangku mamak. ”Shhhssss….,” usir mamak pada ayam. Bulatan kecil warna abu-abu mengotori lantai beranda yang bersih. Ayam warna coklat membuang kotorannya di sana.

Rumah mamak berderet empat rumah. Berselang satu bangunan yang dibangun sendiri, rumah kak May, tiga rumah berbentuk sama. Rumah bantuan.

Mamak tak pernah melupakan peristiwa yang merenggut harta bendanya tahun 2002 lalu. ”Pas–tanggal 17 Ramadhan,” banjir bandang meluluhlantakkan rumah, menyeret ternak, bangunan sekolah, juga jembatan di Gampong Lubuk Layu, Kecamatan Samadua, Kabupaten Aceh Selatan. Untuk mengingat kejadian tersebut, bahkan Sila anak gadis mamak menulis di bukunya. ”Tanggal 16 Oktober 2002,” tukas anak bungsu mamak yang juga dipanggil Mande ini.

Rumoh mamak dulu ka sitin (di sana), Nuk. Dakek (dekat) jembatan, dakek rumoh pak Keuchik. Kalau balai –pertemuan- ro dulu rumoh sekolah,” kisah mamak. Bersama warga masyarakat lain, mamak mengungsi bertahun-tahun di gampong tetangga.

rumah mamak, rumah tetangga-tetangganya

Seperti warga negara Indonesia yang lain, walau tertimpa bencana mamak masih merasa beruntung. Doa mamak selama di pengungsian justru terjawab setelah Aceh menjadi pusat perhatian dunia. ”Untung idak ado jiwa mati. Untung Aceh tsunami, mamak dikasi rumoh. Kepiang (uang) masih sisa buat rumoh mak. Sia (siapa) Mande –yang membuatkan?”

WC tanpa saluran

Rumah mamak, juga 14 rumah warga lainnya dibuat oleh Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi (BRR). sedangkan rumah sekolah dibangun oleh Badan PBB untuk anak-anak, Unicef. Rumah itu bentuknya sama. Hampir sama dengan ribuan rumah bantuan lainnya. Dua kamar tidur, ruang tamu, satu kamar mandi plus WC-nya. Jika butuh untuk ruangan tersendiri untuk memasak, ya buat sendiri ruang dapur. Rumah mamak pun begitu.

Mamak selalu berterima kasih karena kini ia telah memiliki rumah lagi. Walau kadang ia dan Mande Sila anak gadisnya merasa risih kepada orang-orang yang bertamu ke rumahnya, termasuk aku dan teman-temanku. ”Maaf ya mbak, besok pagi kalau mau buang air besar harus ke sungai. Lubang WC, Mande tutup. Orang tu ngasi WC tapi nggak dikasi salurannya. Jadi nggak bisa dipakai,” ujar Sila.

wc panjang. awas kena jebakan!

Tak hanya itu, mamak juga mengatakan, menurut gambar yang pernah dilihatnya, beranda depan seharusnya juga dikeramik. Namun, apalah daya ia yang buta huruf itu menerima apa adanya. ”Semua rumoh idak dikasi keramik. Apo namoe? Korupsi?” katanya sambil terkekeh.

« Older entries