Sudah Tahu Pungli kok Pak Polisi Ngotot Minta


Hari ini hari keempat aku masuk lagi ke kantor Polisi Sektor tittttttt, di Kabupaten Aceh Selatan. Kalau kutuliskan nama kecamatannya, sudah pasti akan tahu Polsek mana itu. Kedatanganku –yang kuhitung sudah 5 kali sejak Selasa lalu- untuk mengambil surat ijin kegiatan yang akan kami lakukan dengan lembagaku. Kemarin sebenarnya sudah jadi suratnya, tapi Kasi Umum (disingkat di tulisan papan atas pintu Kasium) lupa memintakan tanda tangan dengan Kapolsek.

Tadi waktu kudatang, aku langsung diminta masuk ke ruangan Kasium. ”Sudah jadi, Kak,” kata laki-laki yang –hanya- setinggi kupingku. Di ruangan itu ada seorang ibu yang duduk memegang anak laki-lakinya. Sejak ketemu kemarin, ramah anak itu. Mau kuajak ngobrol walau belum jelas ia mengatakan apa. Kata sang bunda, usianya dua tahun.

”ADMnya lima puluh ribu, Kak,” ujar laki-laki berambut cepak itu. Tak kutahu namanya karena Jumat mereka berseragam training tanpa memasang tanda pengenal. Saya bilang, baik, ”Saya minta kuitansinya ya Bang.” lalu keluar pinjam uang pada bang Asri yang masih di dalam mobil. Uangku sendiri tadi pagi terlanjur kutukar recehan ke Andi Sarkani.

”Kakak ni minta kuitansi…. O, ndak bisa? Tapi dia minta…. ya ya….” rupanya lelaki pendek itu menelpon seseorang, yang kuduga Kasi Intel. Yap, karena suratku empat hari lalu diterima. Setahuku, pembuatan surat rekomendasi ataupun ijin kegiatan dibuat oleh bagian intel.

”Kami nggak bisa keluarkan kuitansi, Kak,” tangannya masih memegang kuitansi berukuran hampir sebesar buku tulis anak sekolah, yang lusuh. Mungkin memang jarang digunakan.

”Tapi gimana nanti saya pertanggung-jawabkan ke bagian bendahara saya, Pak. Kalau kami 50 rupiahpun harus ada kuitansinya, Pak,” kataku.

”Itulah Kak. Kan kakak tahu kami tidak boleh minta imbalan. Kalau kami minta imbalan itu namanya pungli, Kak. Apalagi kakak minta ada kuitansi, kalau ketahuan nanti kami payah…. Kami ketahuan pungli…” tutur dia.

Laki-laki berseragam Polisi berumur sekitar 50an tahun yang duduk di balik meja malah berkata, ”Nggak usah pakai kuitansi lah… ”

Aku ngeyel lagi, ”Itulah Pak kalau nggak ada kuitansi, repot saya nanti minta gantinya ke bendahara. Apa iya setiap ngurus surat ijin saya keluarkan uang sendiri terus. Kan ini urusan kantor Pak. Kami bisa keluarkan uang kalau ada nota atau kuitansi Pak.”

Demi pusing melayani aku, pria pendek itu akhirnya mempersilakan aku pergi saja.

Yap, padahal di depan pagar kantor polsek itu terulis ”Kami tidak menerima imbalan apapun.” Aturan bagus yang belum lama berlaku malah justru ada di kantor Polisi Resor Aceh Selatan. Di ruangan bagian intelkam spanduk berukuran lebih dari satu meter memangjang ke bawah tertulis, ”Dukung kami untuk tidak menerima suap, imbalan, dalam bentuk apapun dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.”

Sejak beberapa bulan terakhir, pengurasan ijin kegiatan peningkatan kapasitas kepemudaan dan masyarakat pun tidak berbelit-belit dan memakan waktu panjang.

Iklan

2 Komentar

  1. 8207h32 said,

    5 Maret 2011 pada 4:03 pm

    Spanduk e mantap abisss….
    ”Dukung kami untuk tidak menerima suap, imbalan, dalam bentuk apapun dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.”

    • naribungo said,

      24 Maret 2011 pada 3:57 am

      hehehe, memang begitu mas wid, mantap! tapi di tingkat polsek jadinya eprekethek! hehehe


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: