Horeeee, Bis Tingkat Kembali Lagi ke Solo


Begitu teriakku saat membaca status teman di halaman jejaring sosial. Hari Minggu (20/2), bertepatan dengan hari jadi Kota Solo ke 266, Pemerintahan Kota Surakarta kembali mengoperasikan bis tingkat di Kota Solo. Bedanya, bis tingkat tempo dulu –sejak 1983 sampai akhir 2000- digunakan untuk moda transportasi rute Kartosuro-Palur, kini untuk pariwisata.

Ingatanku melayang ke tahun-tahun silam ketika bis tingkat masih menjadi salah satu primadona moda transportasi di Solo. Jika otak terasa jumut, bis tingkat menjadi salah satu ’tempat pelarian’. Aku ingat, dengan menyandang tas ransel, aku menyetop bis di pinggir jalan –kadang juga bersama teman, lalu naik ke lantai atas.

Hatiku girang jika kursi paling depan kosong. Duduk santai di atas, mataku mengembara mengamati berbagai aktifitas warga Solo, lewat bis yang dulu dikelola Damri itu. Dari Palur kembali ke Kartosuro, lalu balik lagi ke Palur. Kalau tidak salah ingat, dulu tarif terakhir Rp.1200. Di bangku depan lantai atas itu pula dulu ide tulisan kerap muncul.

Sayang, Damri memutuskan tidak mengoperasikan bis tingkat lagi. Lagi-lagi jika tidak salah ingat, alasan yang dilontarkan saat itu adalah karena onderdil bis susah didapat. Maklum saja, bis tingkat dulu katanya asal Swiss. Beda dengan bis tingkat baru ini, yang kata Murni temanku, merupakan buatan Magelang.

Selain Solo, dulu bis tingkat juga pernah beroperasi di kota besar seperti Jakarta, Makasar, dan Surabaya. Keberadaan bis tingkat terakhir di Indonesia adalah di Solo.

bis tingkat yang menawan (foto dari bisnis-jateng.com)

Riangnya aku ketika mendapat kabar bahwa pemkot yang dipimpin Pak Jokowi itu mengumumkan pada khalayak ramai mengenai rencana mengadakan kembali bis tingkat di kota bertajuk The Spirit of Java ini.

Kabar dari Murni, bis tingkat ini akan digunakan untuk mengantar wisatawan yang ingin berkeliling Kota Solo. Lokasi-lokasi yang dituju antara lain Keraton Kasunanan Surakarta, Taman Sriwedari, Kampung Batik Kauman dan Laweyan, Mangkunegaran, Museum Radya Pustaka, dan tempat lain.

”Lah, yen neng ngLaweyan parkire ngendi gek’an (Kalau ke Laweyan parkirnya dimana ya)?” tanyaku. Tahu persislah aku di Kampung Batik Laweyan tidak ada tempat lapang untuk parkir.

Kata Murni, ”Yo memang raiso tekan njero. Tapi yo mbuh juga ngko diparkir neng ndi.…(Memang nggak bisa masuk. Tapi nggak tahu juga nantinya akan diparkir dimana).”

Menurut informasi, bis yang dikelola Dinas Perhubungan bersama Dinas Pariwisata dan Seni Budaya itu mematok harga Rp 20 ribu/orang. Bis ini sendiri berkapasitas bus tingkat wisata ini tempat duduk bagian atas 28 buah dan bagian bawah 34 tempat duduk.

Yap, bahkan aku sangat setuju jika bis tingkat kembali digunakan untuk moda transportasi umum. Selain berkapasitas banyak, menghemat jalan, bersifat massal, bis ini tentu saja lebih ramah lingkungan. Bis tingkat juga bisa menjadi sarana refresh otak kala jumut mendera.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: