WC Mamak Panjang Sekali


Belasan ekor anak ayam warna coklat dan hitam mengikuti langkah mamak yang tergesa menuju halaman depan. Aku yang keheranan melihat tingkah ayam-ayam piatu malah membuat mamak tertawa. ”Mamak ayam ro mamak ni lah. Induknyo pai (pergi) entah kama (kemana),” ujar mamak.

Mak jadi mamaknya ayam juga (foto : ninuk)

Memang, sejak kemarin kuperhatikan, anak-anak ayam lari mengejar mamak kemanapun mamak pergi. Bahkan ketika aku ngobrol bersamanya, satu dua anak ayam itu lompat-lompat seperti hendak minta dipangku mamak. ”Shhhssss….,” usir mamak pada ayam. Bulatan kecil warna abu-abu mengotori lantai beranda yang bersih. Ayam warna coklat membuang kotorannya di sana.

Rumah mamak berderet empat rumah. Berselang satu bangunan yang dibangun sendiri, rumah kak May, tiga rumah berbentuk sama. Rumah bantuan.

Mamak tak pernah melupakan peristiwa yang merenggut harta bendanya tahun 2002 lalu. ”Pas–tanggal 17 Ramadhan,” banjir bandang meluluhlantakkan rumah, menyeret ternak, bangunan sekolah, juga jembatan di Gampong Lubuk Layu, Kecamatan Samadua, Kabupaten Aceh Selatan. Untuk mengingat kejadian tersebut, bahkan Sila anak gadis mamak menulis di bukunya. ”Tanggal 16 Oktober 2002,” tukas anak bungsu mamak yang juga dipanggil Mande ini.

Rumoh mamak dulu ka sitin (di sana), Nuk. Dakek (dekat) jembatan, dakek rumoh pak Keuchik. Kalau balai –pertemuan- ro dulu rumoh sekolah,” kisah mamak. Bersama warga masyarakat lain, mamak mengungsi bertahun-tahun di gampong tetangga.

rumah mamak, rumah tetangga-tetangganya

Seperti warga negara Indonesia yang lain, walau tertimpa bencana mamak masih merasa beruntung. Doa mamak selama di pengungsian justru terjawab setelah Aceh menjadi pusat perhatian dunia. ”Untung idak ado jiwa mati. Untung Aceh tsunami, mamak dikasi rumoh. Kepiang (uang) masih sisa buat rumoh mak. Sia (siapa) Mande –yang membuatkan?”

WC tanpa saluran

Rumah mamak, juga 14 rumah warga lainnya dibuat oleh Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi (BRR). sedangkan rumah sekolah dibangun oleh Badan PBB untuk anak-anak, Unicef. Rumah itu bentuknya sama. Hampir sama dengan ribuan rumah bantuan lainnya. Dua kamar tidur, ruang tamu, satu kamar mandi plus WC-nya. Jika butuh untuk ruangan tersendiri untuk memasak, ya buat sendiri ruang dapur. Rumah mamak pun begitu.

Mamak selalu berterima kasih karena kini ia telah memiliki rumah lagi. Walau kadang ia dan Mande Sila anak gadisnya merasa risih kepada orang-orang yang bertamu ke rumahnya, termasuk aku dan teman-temanku. ”Maaf ya mbak, besok pagi kalau mau buang air besar harus ke sungai. Lubang WC, Mande tutup. Orang tu ngasi WC tapi nggak dikasi salurannya. Jadi nggak bisa dipakai,” ujar Sila.

wc panjang. awas kena jebakan!

Tak hanya itu, mamak juga mengatakan, menurut gambar yang pernah dilihatnya, beranda depan seharusnya juga dikeramik. Namun, apalah daya ia yang buta huruf itu menerima apa adanya. ”Semua rumoh idak dikasi keramik. Apo namoe? Korupsi?” katanya sambil terkekeh.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: